Patung Primitif Suku Batak

Patung Primitif Suku Batak – Objek Penelitian yang Menarik

Suku Batak sampai kini masih menjadi objek penelitian yang menarik bagi para peneliti Indonesia maupun asing, karena suku tersebut masih menyimpan kebesaran kesenian megalitik. Namun, dari berbagai kekayaan kesenian tersebut, seni patung primitif Batak ternyata nyaris paling terlupakan.

Menurut Drs Daulat Saragi MHum, pengajar Jurusan Seni Rupa FPBS Universitas Negeri Medan (Unimed), selama ini perhatian para peneliti selalu tertuju pada sistem masyarakat, religi, hukum adat, sastra dan musiknya saja, sehingga eksistensi patung primitif Batak terpinggirkan. “Padahal, sebenarnya patung primitif Batak merupakan jenis kesenian yang tahan lama dan sarat makna,” kata Daulat Saragi dalam promosi doktor bidang ilmu filsafat di Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, Kamis lalu.

Menurut promovendus, patung primitif Batak merupakan kekayaan dan simbol suatu peradaban religi masa lalu, yang juga merupakan salah satu artefak budaya material sebagai bukti kebesaran peradaban megalitik Indonesia. Namun, untuk mengetahui pengalaman estetik dan makna simbol patung primitif Batak, harus terlebih dahulu memasuki alam pikiran dan sistem kepercayaan lama masyarakatnya.

Daulat Saragi menunjukkan, patung primitif Batak yang masih banyak ditemukan di sekitar Pulau Samosir, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara, bagaikan teks-teks yang ditulis dengan huruf teramat kecil sehingga tidak terbaca. “Maka filsafat sebagai “kaca pembesar” berusaha membaca teks-teks itu agar dipahami. Dengan demikian, makna yang terkandung dalam teks tersebut dapat membongkar ide-ide masyarakatnya lebih dahulu tentang hubungan mereka dengan kosmos,” tuturnya.

Disebutkan, prinsip hidup manusia zaman mitis adalah hidup harmoni dengan kosmosnya. Maka, pengetahuan tentang kosmologi kepercayaan mereka menjadi amat utama. “Konsep budaya mitis adalah kesatuan mikrokosmos dan makrokosmos, kesatuan yang imanen dan yang transenden. Kesatuan dunia manusia dengan dunia roh dan dewa,” tuturnya.

Masyarakat Batak lama disebutkan selalu menghadirkan patung pada suatu ritus dan menempatkannya pada suatu wilayah suci dan keramat, karena diyakini sebagai simbol atau medium suatu kekuatan yang transenden. Paduan motif antropomorfis dan zoomorfis pada patung “Tunggal Panaluan” dan “Pangulubalang” sangat bersahaja sebagai simbol adanya kekuatan adikodrati yang dipercaya mampu melindungi marga, rumah, desa, dan menolak bala demi kelangsungan kosmis.

Lebih lanjut dijelaskan, fungsi patung primitif sebagai pedoman iman menciptakan jarak terhadap realitas. Terdapat pesan yang akan disampaikan lewat patung tersebut, tetapi sungkan untuk diungkapkan langsung sebagaimana maksud sebenarnya. Selalu diciptakan jarak antara manusia dan ide-ide tersebut.

Penyambung jarak, menurutnya, dilakukan dengan bentuk-bentuk simbol yang kadang sulit untuk diungkapkan maknanya seperti apa yang dilihat secara kasat mata. “Masyarakatnya menciptakan “sesuatu” dalam bentuk patung, sesuatu yang sakral, punya muna dan magi,” sebutnya.

Menurut Daulat Saragi, patung primitif mengandung isyarat bahasa pikiran nenek moyang orang Batak yang harus dibaca sesuai dengan makna semula. “Harus disadari bahwa selama ini generasi muda Batak dan Indonesia umumnya terputus dengan bahasa gambar nenek moyangnya sendiri. Mereka justru lebih memahami bahasa gambar nenek moyang bangsa-bangsa asing,” katanya.

Karena itu, lanjut Daulat Saragi, budaya material yang diciptakan berdasarkan ide, filosofi dan religi masyarakat pada masa lalu serta pandangan tentang dunia dan cara berpikirnya, dengan sendirinya telah lewat bersama berlalunya generasi-generasi pendukungnya.

Namun, berkat simbol-simbol inilah, dapat dibaca serta dihayati arketip-arketip filosofi masyarakat terdahulu, tentang pandangan mereka akan manusia, dunia, dan Tuhan. “Dengan pemahaman simbol akan diketahui pesan, pikiran, dan filosofi nenek moyang tentang eksistensinya terhadap kosmos. Sehingga, budaya dan filosofi bangsa akan tetap mengakar pada kearifan lokal budaya tradisional,” katanya berharap.

Sumber : (B Sugiharto)
dari Silaban Brotherhood: http://www.silaban.net

Iklan

Kisah Si Boru Deak Parujar

Ktuk… ktuk… ktukktuk! Tiba-tiba Siboru Deak Parujar menghentikan alat tenunnya. Pekerjaan sehari-hari Siboru Deak Parujar memang lebih banyak bertenun. Selain bertenun, terkadang merasa lelah karena duduk berlama-lama menyelesaikan tenunannya. Namun untuk melepaskan rasa lelah dia pergi ke bawah pohon Tumburjati.

Pohon kehidupan itu terasa rindang bagi semua penghuni Banua Ginjang atau kahyangan. Letaknya dari beberapa hunian di kahyangan tidaklah sesunyi Porlak Sisoding, taman tersembunyi yang menyimpan hal-hal rahasia. Pohon Tumburjati kelihatan selalu ramai seperti ranting dan daunnya. Di sanalah mereka mendapat pengetahuan atas berbagai hal, termasuk kodrat masing-masing. Kalau daun Tumburjati gugur, semua penghuni kahyangan langsung dapat mengartikannya. Daun-daunnya yang menangkup ke lapis langit pertama dan tertinggi seakan memohon agar tidak gugur sebelum waktunya. Namun ada kalanya dari daun termuda terpaksa jatuh bersama ranting yang patah.

Di puncak ketinggian pohon kehidupan itu hinggap seekor unggas bernama Manuk Hulambujati. Tidak terbayangkan ketinggian pohon kehidupan itu. Sehingga ada kalanya nama pohon itu disebut Hariara Sundung di Langit, yang artinya beringin yang condong di langit. Manuk Hulambujati tentu selalu hinggap di puncaknya pada waktu-waktu tertentu; di suruh atau tidak. Namun unggas itu adalah induk tiga telur besar yang pernah mengandung Batara Guru serta dua dewa lain yang bernama Debata Sori dan Mangalabulan. Suatu ketika juga Manuk Hulambujati bersedia mengeramkan tiga telur lagi; kelak yang dikandungnya adalah pasangan ketiga sang dewa. Siboru Parmeme menjadi pasangan Batara Guru, Siboru Parorot untuk Debata Sori, dan Siboru Panuturi untuk Mangalabulan. Siboru Deak Parujar adalah putri bungsu Batara Guru

Berkali-kali pergi ke bawah rindang Tumburjati, Siboru Deak Parujar selalu sempat melihat Manuk Hulambujati bertengger. Cara hinggap unggas itu seperti cahaya bintang-bintang yang berkejaran. Moncongnya berpalang besi, kukunya bergelang kuningan, dan sosoknya sebesar kupu-kupu raksasa nan berkilau. Terkadang tanpa perduli Siboru Deak Parujar menghalau unggas itu agar berkenan turun dan mau bercengkerama dengan dia.

“Wahai, Manuk Hulambujati. Mengapa engkau tak mau turun untuk bersamaku di sini? ” Terketus ucapan itu dari Siboru Deak Parujar karena sang unggas tak pernah turun dari puncak pohon. Sebenarnya dia tidak perlu mengeluarkan ucapan serupa karena ada larangan dari Batara Guru. Manuk Hulambujati benar-benar bukan sembarang unggas. Tidak ada yang dapat menyuruh Manuk Hulambujati turun dari puncak pohon, kecuali Ompung Mulajadi Nabolon.

Ompung Mulajadi Nabolon, sebagai Sang Pemula Akbar dari segala yang ada, telah mencipta dan menetapkan kodrat tertentu bagi Manuk Hulambujati. Unggas itu merupakan salah satu suruhan Mulajadi Nabolon, di samping nama lain seperti Leang-leang Mandi, Leang-leang Nagurasta, dan Untung-untung Nabolon. Masing-masing diciptakan Mulajadi Nabolon sebelum Tumburjati dan sesuai dengan fungsinya. Leang-leang Mandi atau layang-layang mandi menjadi pelayan inti dan penyampai pesan kalau Manuk Hulambujati membutuhkan bantuan Mulajadi Nabolon. Demikian kelak perannya bagi siapa yang membutuhkan bantuan dari Mulajadi Nabolon. Sedangkan Leang-leang Nagurasta hanya sahabat Leang-leang Mandi. Manuk Hulambujati ada kalanya mirip dengan Untung-untung Nabolon. Manuk Hulambujati bagi semua penghuni kahyangan cukuplah dipandang saja dari jauh dan saat bertengger karena fungsinya sudah selesai mengawali kehidupan manusia di Banua Ginjang.

“Ibunda,” tiba-tiba Siboru Deak Parujar mendekat pada ibunya. “Mohonlah terangkan mengapa daku tak bisa mengajak Manuk Hulambujati bercengkerama.” Keingintahuannya masih bernada memaksa. Namun jawaban dari Siboru Parmeme tetap seturut pesan yang mereka terima bersama Batara Guru. “Jangan. Pantang. Awas terlanjur!” Itulah pesan keramat yang diterima untuk menghormati Manuk Hulambujati.

Akhirnya Siboru Deak Parujar tak lagi memaksa diri. Pasti dia tahu suatu waktu soal Manuk Hulambujati. Setiap kali kembali ke bawah rindang Tumburjati, diam-diam dia mendengar cerita yang bisa muncul di situ. Diapun lama-lama menjadi seperti penghuni yang lain di lapis kedua Banua Ginjang. “Lebih baik kunikmati saja kebahagiaan seperti apa adanya di kahyangan ini,” pikirnya. Perhatiannya pun semakin biasa memperhatikan keturunan dewa lain. Maklum, Siboru Deak Parujar mulai remaja.

Suatu ketika dia terdorong kembali ke bawah pohon Tumburjati. Namun tidak sendirian. Dia sengaja mengajak Siboru Sorbajati. “Ayolah, kakakku. Temani aku menikmati suasana di bawah pohon Tumburjati.”

“Baiklah, adinda,” jawab si putri sulung atau anak kedua Batara Guru itu. “Akupun sudah agak lama tidak ke sana.” Sebelum beranjak, mereka berdua tak lupa merapikan letak hulhulan, penggulungan besar untuk benang tenunan. Nampaknya mereka berdua sama-sama kurang bersemangat mempersiapkan tenunan baru. Sebelum tiba di sekitar pohon Tumburjati, mereka mulai memperbincangkan kelak pasangannya. Siboru Deak Parujar tidak berani menunjuk siapa gerangan yang menarik hati dari antara keturunan dewa.

“Kita semua di lapis kedua kahyangan ini keturunan dewa. Siapapun yang menjadi pasanganku nanti, lebih baik daripada tidak ada.” Begitulah kata Siboru Sorbajati dan meneruskan: “Seandainya ayah kita berkenan juga menjodohkan aku dengan Siraja Odap-odap, aku akan turut juga.”

Perkataan terakhir bagi Siboru Deak Parujar terasa menyindir. Sudah lama nama tersebut ingin disingkirkannya. Namun Mulajadi Nabolon sudah mengatur semua kalau keturunan ketiga dewa mengambil pasangan dari antara mereka. Keturunan laki-laki Batara Guru mendapat pasangan dari putri Debata Sori. Anak laki-laki Debata Sori dari Putri Mangalabulan. Sedangkan anak Mangalabulan harus mendapatkan pasangannya dari putri Batara Guru.

“Ah, berpapasan saja aku tidak akan mau dengan anak Mangalabulan itu!” Siboru Deak Parujar melepaskan ketakutannya berpasangan dengan Siraja Odap-odap. Siboru Sorbajati sebenarnya sudah pernah ditawarkan perjodohan itu. Namun dia merasa lebih baik melompat dari balkon rumah dan ingin menjadi batang enau daripada melihat wajah Siraja Odap-odap. Tadinya dia memang hanya ingin mengetahui perasaan adiknya.

“Baiklah kita tidak meneruskan langkah ke sekitar Tumburjati. Mungkin Siraja Odap-odap sedang menunggu kita di sana.”

Mereka pun kembali meneruskan gulungan benang tenunnya sampai memulai tenunan baru. Ktuk… ktuk… Ktukktukktuk! Ktuk… ktuk… ktukktukktuk…. Berhari-hari dan berbulan-bulan.

Batara Guru dari bagian biliknya nampak tidak sabar lagi untuk mendesak salah satu putrinya untuk dipersunting Siraja Odap-odap. “Kemarilah kalian berdua,” panggil Batara Guru.

“Aku masih meneruskan tenunanku!” Sahut Siboru Deak Parujar. Siboru Sorbajati akhirnya melangkah sendiri memenuhi panggilan Batara Guru. Namun sebelum bertemu muka dengan sang ayah, dia sudah mendengar suara-suara yang menanti di halaman rumah. Pikirnya, pasti mereka itu keluarga Mangalabulan sambil menghantar Siraja Odap-odap. Lalu tanpa perlu ketemu lagi dengan Batara Guru, Siboru Sorbajati benar-benar melakukan niatnya dengan melompat dari balkon rumah sambil menyumpahi diri agar menjadi batang enau saja.

Kejadian itu mengejutkan keluarga Mangalabulan. Namun mereka masih berharap dengan satu lagi putri Batara Guru.

“Siboru Sorbajati lebih suka mengutuk dirinya daripada patuh kepada ajar. Satu lagi putri kakanda yang sangat turut pada ajar, pastilah itu Siboru Deak Parujar.” Begitulah Mangalabulan menyampaikan harapan kepada Batara Guru agar segera meresmikan perjodohan dengan anaknya, Siraja Odap-odap. Mendengar harapan itu Batara Guru segera memanggil Siboru Deak Parujar.

“Tidak, ayahanda. Lagi pula tenunanku belum selesai,” begitulah selalu reaksi Siboru Deak Parujar setiap kali Batara Guru mendesaknya. Sampai-sampai Batara Guru mulai merasa malu kepada keluarga Mangalabulan. “Selesai atau tidak tenunanmu,” tegasnya ke arah Siboru Deak Parujar, “engkau harus bersedia menerima Siraja Odap-odap. Engkau tak perlu melihat rupa dan mencari alasan.” Perkataan Batara Guru itu membuat Siboru Deak Parujar mulai gemetar. Berkali-kali dia mencari alasan dengan tenunan yang belum selesai. Besok hari sebelum matahari terbit Batara Guru memaksanya menikah dengan Siraja Odap-odap.

“Ah!” desahnya dalam hati. “Simuka kadal itu dijodohkan jadi suamiku?” Benar-benar dia tak mau terima. Lalu tekanan itu mendorong dia merencanakan sesuatu. “Biarlah aku terjun seperti kakakku Siboru Sorbajati.” Demikian dalam hatinya. Namun dia masih tetap berpikir ke mana akan terjun. Sebelum ditemukan caranya untuk menyingkir besok hari, Siboru Deak Parujar mengalihkan perhatian kembali pada tenunannya. Ktuk… ktuk…ktukktukktuk….

Sampai menjelang pagi dia mengeluarkan bunyi alat tenunnya itu sambil menikmati. Tiba-tiba dia terpikir melemparkan hasoli, salah satu dari alat tenunnya. Di dalam hasoli itu masih tergulung benang yang dipindah dari hulhulan. Sebelum matahari terbit benar-benar akan dilemparkannya ke arah tempat gelap.

Semalaman Batara Guru tetap berjaga agar putrinya tidak melarikan diri. Tiba-tiba bunyi alat tenun Siboru Deak Parujar didengarnya mulai berhenti. “Putriku, Deak Parujar!” Dicoba dari biliknnya memanggili. Namun sekali saja Siboru Deak Parujar menyahut panggilan Batara Guru, dia sudah bergayut pada benang yang menjulur entah sampai ke mana. Perlahan dia semakin turun, nampaknya dunia bawah tidak jelas dan sangat gelap. Angin kencang dan lebih dahsyat kacaunya dari sebelum penciptaan kahyangan. Angin kencang itu membuatnya terayun-ayun dan hampir terlempar.

Sampai terang matahari sedikit menyinari bawah kahyangan itu, dia melihat semuanya nun di bawah tanpa tempat berpijak. “Leang-leang Mandi, Untung-untung Nabolon…!” Dipanggilnya pesuruh Mulajadi Nabolon itu sambil berteriak. “Kumohonkan agar engkau meminta sekepul tanah untuk tempatku berpijak di bawah sana! Aku tak mau kembali ke Banua Ginjang.” Mulajadi Nabolon tidak menolak permintaan Siboru Deak Parujar karena tidak ingin menghukum. Namun ketika sekepul tanah yang dikirimkan Mulajadi Nabolon ditekuk Siboru Deak Parujar, langsung terhamparlah tempat berpijak yang sangat luas dan menjadi awal terjadinya bumi atau yang disebut Banua Tonga.

Belum sempat merasakan keberhasilan melarikan diri dari Banua Ginjang dan mencipta Banua Tonga, Siboru Deak Parujar tiba-tiba merasa oleng dan terlempar ke bumi yang dipijaknya. Dia merasa tanah yang ditekuknya itu cukup tipis dan tidak kukuh. Dia ingin memanggil Leang-leang Mandi. Namun suaranya tertahan karena guncangan besar. Guncangan itu menghancurkan bumi yang ditekuknya. Seekor raksasa besar bernama Naga Padoha ternyata si pelaku guncangan besar itu. Entah bagaimana caranya Naga Padoha sekonyong-konyong dapat berada di bawah tanah sebelum melakukan guncangan besar. Konon Naga Padoha dianggap masih dari garis Mangalabulan dan pernah frustrasi disebabkan jodohnya tak pernah berhasil dengan Nai Rudang Ulubegu. Mungkin juga Naga Padoha merasa lebih baik melamar Siboru Deak Parujar.

“Ompung Mulajadi Nabolon, mohon kirimkan kembali sekepul tanah lewat pesuruhmu Leang-leang Mandi!” Permohonannya itu tidak lama sampai untuk ditekuk kembali, lengkap dengan sebilah pedang dan tutup kepala. Tutup kepala itu untuk dipakai Siboru Deak Parujar menghindari terik delapan matahari yang diciptakan Mulajadi Nabolon untuk sementara mengeringkan banjir air di Banua Tonga. Sedangkan sebilah pedang itu digunakan untuk menaklukkan Naga Padoha.kalau guncangan besar masih selalu dilakukan. Pedang itu sempat ditancapkanya ke bagian kepala Naga Padoha ketika tekukan kedua itu beberapa saat masih diganggu.

Bumi sudah tercipta oleh Siboru Deak Parujar. Naga Padoha pun sudah ditaklukkan. Begitupun, sesekali Naga Padoha masih akan mengguncang dari Banua Toru, tempat segala kegelapan, kejahatan, dan kematian yang dikuasai iblis itu. Namun penangkal untuknya sudah cukup dilakukan oleh Siboru Deak Parujar dengan cukup menyerukan: “Suhul! Suhul!” Artinya meneriakkan gagang pedang itu saja Naga Padoha akan merasa takut dan segera menghentikan guncangan.

Terciptanya Banua Tonga oleh Siboru Deak Parujar membutuhkan jenis-jenis kehidupan lain. Lalu dia masih melakukan permintaan kepada Mulajadi Nabolon agar mengirimkan bibit-bibit tumbuhan dan hewan. Mulajadi Nabolon memasukkan semua bibit itu ke dalam potongan batang bambu sebelum Leang-leang Mandi melemparkan ke hadapan Siboru Deak Parujar. Namun satu hal di antara segala jenis bibit itu, Siboru Deak Parujar tidak mengetahui satu hal. Dia baru tahu kemudian setelah semua jenis bibit itu disebar ke seluruh penjuru, di antaranya bercampur jasad Siraja Odap-odap yang dicincang teramat kecilnya. Menunggu tiba waktu dan rasa kesepian muncul dalam diri Siboru Deak Parujar, jasad Siraja Odap-odap yang terberai itu menyatu kembali atas perkenan Mulajadi Nabolon. Dihampirinya Siboru Deak Parujar di sebuah pancuran yang dihalangi rimbun tetumbuhan. “Ohhh!” Siboru Deak Parujar hanya terkejut sejenak.

Pertemuan Siboru Deak Parujar dengan Siraja Odap-odap di Banua Tonga tak bisa lagi ditolak. Mulajadi Nabolon memberkati mereka hingga melahirkan manusia pertama di bumi. Manusia pertama itu adalah Raja Ihat Manusia dan pasangannya bernama Itam Manusia. Setelah melahirkan manusia itu Siboru Deak Parujar dan Siraja Odap-odap harus kembali ke Banua Ginjang. Mereka naik ke Banua Ginjang melalui seutas benang. Sempat manusia di bumi itu terikut menaiki benang. Namun kemudian terputus. Perpisahan ini sungguh menyedihkan. Namun Siboru Deak Parujar masih berujar kepada Raja Ihat Manisia: “Kalau kalian rindu kepadaku, terawanglah purnama bulan. Di situlah aku kelihatan kembali bertenun.”

Dari beberapa sumber

Kerabat Berpantangan

DALAM hubungan kekerabatan masyarakat  Batak, terdapat beberapa hubungan kerabat yang satu sama lain berpantangan (marsubang). Pantangan yang dimaksud dalam hal ini adalah dalam hubungan komunikasi di antara mereka. Kita mengenal ada empat hubungan kekerabatan berpantangan dalam struktur kekerabatan Batak (dilihat dari “aku”, seorang laki-laki yang telah berumah tangga): Marbao antara “aku” dengan istri dari ipar (saudara laki-laki istriku). Maranggi-boru antara “aku” dengan istri adik-adikku laki-laki. Marsimatua antara “aku” dengan ibu-mertuaku. Marparumaen antara “aku” dengan menantu perempuan, istri anak-anakku laki-laki.

Pada zaman dulu hubungan komunikasi di antara mereka yang berkerabat berpantangan tidak dapat dilakukan secara langsung. Misalnya ada sesuatu yang perlu disampaikan, harus melalui orang lain. Bertatapan mata secara langsung harus dihindarkan.

Tidak boleh duduk berdekatan atau berdampingan, apalagi sampai bersentuhan atau bersenggolan. Tidak boleh bersalaman, cukup dengan saling mengangguk satu sama lain dengan mengucapkan horas amang atau horas inang. Tidak boleh memberikan sesuatu langsung ke tangannya, harus melalui orang lain. Tidak boleh berada dalam satu ruangan atau kamar tanpa didampingi orang lain (W Hutagalung, 1963:45).

Aturan adat yang sedemikian ketat dalam hubungan komunikasi di antara kerabat berpantangan tidak dimaksudkan mengurangi rasa saling mengasihi di antara mereka. Bahkan sebaliknya, larangan-larangan keras itu justru menumbuhkan rasa hormat dan rasa kasih yang amat besar. Tentu saja pantangan keras itu akan menghindarkan hal-hal yang bertentangan dengan aturan-aturan moral dan kesusilaan di antara mereka.

Pelanggaran atas pantangan-pantangan itu pada zaman dulu dianggap sebagai gangguan atas keseimbangan mikro kosmos, dunia kehidupan manusia, yang hanya dapat diperbaiki dengan upacara adat, meminta maaf kepada segenap kerabat dalam suatu perjamuan khusus.

Dalam hal demikian, orang Batak mengenal ungkapan perumpamaan; “Pauk-pauk hudali, pago-pago tarugi; na tading diulahi, na sega dipauli”. Artinya, memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan perbuatan yang melanggar adat.

Sanksi yang tegas dan pasti atas pelanggaran-pelanggaran seperti itu memang tidak ada dalam aturan adat Batak. Kejadian demikian dianggap sebagai aib besar dalam lingkungan keluarga, sehingga apabila pelanggaran itu sedemikian jauh, misalnya sampai terjadi perselingkuhan, maka mereka akan dikucilkan dari masyarakat adat.

Pengaruh kehidupan dan pergaulan modern di tengah-tengah masyarakat Batak telah cukup banyak mengurangi keketatan pantangan tersebut. Hal demikan dapat kita saksikan dan rasakan dalam pergaulan hidup kita sehari-hari terutama di kota-kota besar.

Namun demikian, jika perhatikan lebih seksama, meskipun sudah lebih fleksibel, hubungan komunikasi di antara kerabat berpantangan itu tetap dalam batas-batas yang baik, dengan rasa hormat dan respek yang tinggi antara satu dengan yang lain.

Misalnya ”aku” akan berusaha menghindar apabila oleh karean sesuatu hal menantu perempuanku bergerak semakin dekat ke ”aku” tanpa ia sadari. Atau “aku” akan menghambil inisiatif untuk segera keluar apabila ternyata hanya ”aku” dan menantuku yang berada dalam satu ruangan atau satu kamar, dalam berbicara antara satu dengan yang lain selalu dengan tatakrama dan sopan santun yang tinggi (GG Malau,2000:50)

RUMA GORGA BATAK

Penulis : Ama Morlan Simanjuntak (Panggorga)

mangalahat horboGorga Batak adalah ukiran atau pahatan tradisional yang biasanya terdapat di dinding rumah bahagian luar dan bagian depan dari rumah-rumah adat Batak. Gorga ada dekorasi atau hiasan yang dibuat dengan cara memahat kayu (papan) dan kemudian mencatnya dengan tiga (3) macam warna yaitu : merah-hitam-putih. Warna yang tiga macam ini disebut tiga bolit.

Bahan-bahan untuk Gorga ini biasanya kayu lunak yaitu yang mudah dikorek/dipahat. Biasanya nenek-nenek orang Batak memilih kayu ungil atau ada juga orang menyebutnya kayu ingul. Kayu Ungil ini mempunyai sifat tertentu yaitu antara lain tahan terhadap sinar matahari langsung, begitu juga terhadap terpaan air hujan, yang berarti tidak cepat rusak/lapuk akibat kena sengatan terik matahari dan terpaan air hujan. Kayu Ungil ini juga biasa dipakai untuk pembuatan bahan-bahan kapal/ perahu di Danau Toba.

Bahan-bahan Cat (Pewarna)

Pada zaman dahulu Nenek orang Batak Toba menciptakan catnya sendiri secara alamiah misalnya :

Cat Warna Merah diambil dari batu hula, sejenis batu alam yang berwarna merah yang tidak dapat ditemukan disemua daerah. Cara untuk mencarinya pun mempunyai keahlian khusus. Batu inilah ditumbuk menjadi halus seperti tepung dan dicampur dengan sedikit air, lalu dioleskan ke ukiran itu.

Cat Warna Putih diambil dari tanah yang berwarna Putih, tanah yang halus dan lunak dalam bahasa Batak disebut Tano Buro. Tano Buro ini digiling sampai halus serta dicampur dengan sedikit air, sehingga tampak seperti cat tembok pada masa kini.

Cat Warna Hitam diperbuat dari sejenis tumbuh-tumbuhan yang ditumbuk sampai halus serta dicampur dengan abu periuk atau kuali. Abu itu dikikis dari periuk atau belanga dan dimasukkan ke daun-daunan yang ditumbuk tadi, kemudian digongseng terus menerus sampai menghasilkan seperti cat tembok hitam pada zaman sekarang.

Jenis/ Macamnya Gorga Batak

Menurut cara pengerjaannya ada 2 jenis :

  1. Gorga Uhir yaitu Gorga yang dipahatkan dengan memakai alat pahat dan setelah siap dipahat baru diwarnai
  2. Gorga Dais yaitu Gorga yang dilukiskan dengan cat warna tiga bolit. Gorga dais ini merupakan pelengkap pada rumah adat Batak Toba. Yang terdapat pada bahagian samping rumah, dan dibahagian dalam.

Menurut bentuknya
Dilihat dari ornament dan gambar-gambarnya dapat pula Gorga itu mempunyai nama-namanya tersendiri, antara lain ;

Gorga Ipon-Ipon, Terdapat dibahagian tepi dari Gorga; ipon-ipon dalam Bahasa Indonesia adalah Gigi. Manusia tanpa gigi sangat kurang menarik, begitulah ukiran Batak, tanpa adanya ipon-ipon sangat kurang keindahan dan keharmonisannya. Ipon-ipon ada beraneka ragam, tergantung dari kemampuan para pengukir untuk menciptakannya. Biasanya Gorga ipon-ipon ini lebarnya antara dua sampai tiga sentimeter dipinggir papan dengan kata lain sebagai hiasan tepi yang cukup menarik.

Gorga Sitompi, Sitompi berasal dari kata tompi, salah satu perkakas Petani yang disangkutkan dileher kerbau pada waktu membajak sawah. Gorga Sitompi termasuk jenis yang indah di dalam kumpulan Gorga Batak. Disamping keindahannya, kemungkinan sipemilik rumah sengaja memesankannya kepada tukang Uhir (Pande) mengingat akan jasa alat tersebut (Tompi) itu kepada kerbau dan kepada manusia.

Gorga Simataniari (Matahari), Gorga yang menggambarkan matahari, terdapat disudut kiri dan kanan rumah. Gorga ini diperbuat tukang ukir (Pande) mengingat jasa matahari yang menerangi dunia ini, karena matahari juga termasuk sumber segala kehidupan, tanpa matahari takkan ada yang dapat hidup.

Gorga Desa Naualu (Delapan Penjuru Mata Angin), Gorga ini menggambarkan gambar mata angin yang ditambah hiasan-hiasannya. Orang Batak dahulu sudah mengetahui/kenal dengan mata angin. Mata angin ini pun sudah mempunyai kaitan-kaitan erat dengan aktivitas-aktivitas ritual ataupun digunakan di dalam pembuatan horoscope seseorang/sekeluarga. Sebagai pencerminan perasaan akan pentingnya mata angina pada suku Batak maka diperbuatlah dan diwujudkan dalam bentuk Gorga.

Gorga Si Marogung-ogung (Gong), Pada zaman dahulu Ogung (gong) merupakan sesuatu benda yang sangat berharga. Ogung tidak ada dibuat di dalam negeri, kabarnya Ogung didatangkan dari India. Sedangkan pemakaiannya sangat diperlukan pada pesta-pesta adat dan bahkan kepada pemakaian pada upacara-upacara ritual, seperti untuk mengadakan Gondang Malim (Upacara kesucian). Dengan memiliki seperangkat Ogung pertanda bahwa keluarga tersebut merupakan keluarga terpandang. Sebagai kenangan akan kebesaran dan nilai Ogung itu sebagai gambaran/ keadaan pemilik rumah maka dibuatlah Gorga Marogung-ogung.

Gorga Singa Singa, Dengan mendengar ataupun membaca perkataan Singa maka akan terlintas dalam hati dan pikiran kita akan perkataan: Raja Hutan, kuat, jago, kokoh, mampu, berwibawa. Tidak semua orang dapat mendirikan rumah Gorga disebabkan oleh berbagai faktor termasuk factor social ekonomi dan lain-lain. Orang yang mampu mendirikan rumah Gorga Batak jelaslah orang yang mampu dan berwibawa di kampungnya. Itulah sebabnya Gorga Singa dicantumkan di dalam kumpulan Gorga Batak

Gorga Jorgom, Ada juga orang menyebutnya Gorga Jorgom atau ada pula menyebutnya Gorga Ulu Singa. Biasa ditempatkan di atas pintu masuk ke rumah, bentuknya mirip binatang dan manusia.

Gorga Boras Pati dan Adop Adop (Tetek), Boras Pati sejenis mahluk yang menyerupai kadal atau cicak. Boras Pati jarang kelihatan atau menampakkan diri, biasanya kalau Boras Pati sering nampak, itu menandakan tanam-tanaman menjadi subur dan panen berhasil baik yang menuju kekayaan (hamoraon). Gorga Boras Pati dikombinasikan dengan tetek (susu, tarus). Bagi orang Batak pandangan terhadap susu (tetek) mempunyai arti khusus dimana tetek yang besar dan deras airnya pertanda anaknya sehat dan banyak atau punya keturunan banyak (gabe). Jadi kombinasi Boras Pati susu (tetek) adalah perlambang Hagabeon, Hamoraon sebagai idaman orang Batak.

Gorga Ulu Paung, Ulu Paung terdapat di puncak rumah Gorga Batak. Tanpa Ulu Paung rumah Gorga Batak menjadi kurang gagah. Pada zaman dahulu Ulu Paung dibekali (isi) dengan kekuatan metafisik bersifat gaib. Disamping sebagai memperindah rumah, Ulu Paung juga berfungsi untuk melawan begu ladang (setan) yang datang dari luar kampung. Zaman dahulu orang Batak sering mendapat serangan kekuatan hitam dari luar rumah untuk membuat perselisihan di dalam rumah (keluarga) sehingga tidak akur antara suami dan isteri. Atau membuat penghuni rumah susah tidur atau rasa takut juga sakit fisik dan berbagai macam ketidak harmonisan.

Masih banyak lagi gambar-gambar yang terdapat pada dinding atau bahagian muka dari rumah Batak yang sangat erat hubungannya dengan sejarah kepribadian si pemilik rumah. Ada juga gambar lembu jantan, pohon cemara, orang sedang menunggang kuda, orang sedang mengikat kerbau. Gambar Manuk-Manuk (burung) dan hiasan burung Patia Raja perlambang ilmu pengetahuan dan lain-lain.

Apakah Jaha Jaha Gorga Itu ?

Orang sering bertanya dan mempersoalkan tentang manjaha (membaca) Gorga Batak yang sering membingungkan banyak orang. Membaca Gorga Batak tidak seperti membaca huruf-huruf Latin atau huruf Arab atau huruf Batak, huruf Kawi dan yang lainnya. Membaca Gorga Batak yakni mengartikan gambar-gambar dan warna yang terdapat di Rumah Gorga itu serta menghubungkannya kepada Sejarah dari pada si pemilik rumah tersebut.

Sebagai contoh : Disebuah rumah Gorga Batak terdapat gambar Ogung (gong), sedangkan pemilik rumah atau nenek serta Bapaknya belum pernah mengadakan pesta dengan memukul Ogung/Gendang, maka Gorga rumahnya tidak sesuai dengan keadaan pribadi pemilik rumah, maka orang yang membaca Gorga rumah itu mengatakan Gorga rumah tersebut tidak cocok.

Contoh lain : Si A orang yang baru berkembang ekonominya disuatu kampung, dan membangun satu rumah Gorga Batak. Si A adalah anak tunggal dan Bapaknya juga anak tunggal. Akan tetapi cat rumah Gorga itu banyak yang berwarna merah dan keras, dan lagi pula singa-singanya (Mata Ulu Paungnya) membelalak dan menantang, maka Gorga rumahnya itu tidak cocok karena si A tersebut orang yang ekonominya baru tumbuh (namamora mamungka). Maka orang yang membaca Gorga rumahnya menyebutkan untuk si A. Sebaiknya si A lebih banyak memakai warna si Lintom (Hitam) dan Ulu Paungnya agak senyum, Ulu Paung terdapat dipuncak rumah.

RUMA (RUMAH)

Jadi sudah kita ketahui bahwa gorga (ukiran) Batak itu membuat Rumah Batak itu sangat indah anggun dan sangat senang perasaan melihatnya, baik orang Barat/Eropah sangat senang perasaannya melihat bentuk rumah Batak itu serta hiasan hiasannya.
Bagaimanakah bahagian dalamnya? Apakah seindah dan seanggun yang kita lihat dari luarnya? Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita lihat dahulu dari berbagai sudut pandang. Rumah Batak itu tidak memiliki kamar (pada zaman dahulu), jadi jelas perasaan kurang enak kalau di bandingkan pada zaman sekarang.

JABU NAMAR AMPANG NA MARJUAL

Para nenek moyang orang Batak (Bangso Batak) menyebut Rumah Batak yaitu “jabu na marampang na marjual”. Ampang dan Jual adalah tempat mengukur padi atau biji bijian seperti beras/kacang dll. Jadi Ampang dan Jual adalah alat pengukur, makanya Rumah Gorga, Rumah Adat itu ada ukurannya, memiliki hukum hukum, aturan aturan, kriteria kriteria serta batas batas.

Biarpun Rumah Batak itu tidak memiliki kamar/dinding pembatas tetapi ada wilayah (derah) yang di atur oleh hukum hukum. Ruangan Ruma Batak itu biasanya di bagi atas 4 wilayah (bahagian) yaitu:

  1. Jabu Bona ialah daerah sudut kanan di sebelah belakang dari pintu masuk rumah, daerah ini biasa di temapti oleh keluarga tuan rumah.
  2. Jabu Soding ialah daerah sudut kiri di belakang pintu rumah. Bahagian ini di tempati oleh anak anak yang belum akil balik (gadis)
  3. Jabu Suhat, ialah daerah sudut kiri dibahagian depan dekat pintu masuk. Daerah ini di tempati oleh anak tertua yang sudah berkeluarga, karena zaman dahulu belum ada rumah yang di ongkos (kontrak) makanya anak tertua yang belum memiliki rumah menempati jabu SUHAT.
  4. Jabu Tampar Piring, ialah daerah sudut kanan di bahagian depan dekat dengan pintu masuk. Daerah ini biasa disiapkan untuk para tamu, juga daerah ini sering di sebut jabu tampar piring atau jabu soding jolo-jolo.

Disamping tempat keempat sudut utaman tadi masih ada daerah antara Jabu Bona dan Jabu Tampar Piring, inilah yang dinamai Jabu Tongatonga Ni Jabu Bona. Dan wilayah antara Jabu Soding dan Jabu Suhat disebut Jabu Tongatonga Ni Jabu Soding.

Itulah sebabnya ruangan Ruma Batak itu boleh dibagi 4 (empat) atau 6 (enam), makanya ketika orang batak mengadakan pertemuan (rapat) atau RIA di dalam rumah sering mengatakan sampai pada saat ini; Marpungu hita di jabunta na mar Ampang na Marjual on, jabu na marsangap na martua on. Dan seterusnya……

BAGAS RIPE RIPE

Dihatiha nasalpui (zaman dahulu) terkadang suku bangsa Batak i mendirikan rumah secara kongsi atau rumah bersama antara abang dan adik dan rumah itu di sebut BAGAS RIPE RIPE.

Sebelum mendirikannya mereka terlebih dahulu bermusyawarah dan menentukan dan memutuskan; siapa yang menempati jabu BONA, siapa yang menempati jabu Soding jabu SUHAT dan jabu Tamparpiring. Tentunya rumah seperti ini sudah agak lebih besar, dan sifat seperti ini adalah sisa sisa sifat masyarakat kommunal. Namun biarpun adanya nampak sifat sifat kommunal pada keluarga seperti ini, mereka seisi rumah saling menghormati terutama terhadap wanita.

Tidak pernah ada perkosaan ataupun perselingkuhan seperti marak maraknya di zaman yang serba materialis ini. Para nenek Suku Batak pada hatiha (ketika) itu menghormati istri kawannya yang kebetulan suaminya berada di luar rumah.

Disinilah keindahan bahagian dalam rumah Batak itu terutama di bidang moral. Mereka menghormati hak hak orang lain dan menghormati ukuran ukuran (Ampang/Jual) hukum hukum wilayah didalam rumah yang tidak memiliki bilik (kamar) mereka sangat mengakui bahwa rumah itu memang jabu namar Ampang Marjual.

Rumah (Ruma) yang didalam bahasa asing disebut HOUSE mempunyai banyak cara untuk menyebutnya sesuai dengan fungsinya. Bilamana Ruma itu tempat penyimpanan padi maka para nenek nenek Suku Batak menyebutnya Sopo PARPEOPAN EME. Bilamana Ruma (Sopo) itu berfungsi sebagai tempat pemujaan DEWATA MULA JADI NA BOLON I (TUHAN ALLAH), maka tempat itu dinamakan Joro. Dan sampai sekarangpun masih banyak orang Batak menyebut Gereja itu dengan sebutan Bagas Joro ni DEBATA. Bagas Joro yang lama bentuknya persis seperti Ruma Batak dan sisa-sisanya masih ada pernah penulis lihat di daerah Humbang dan mereka beribadah pada hari Sabtu.

Ada juga Ruma itu khusus tempat musyawarah para keluarga dan para kerabat kerabat tempat membicarakan hal hal yang penting. Tempat tersebut di namakan Tari SOPO dan biasanya tari sopo tidak mempunyai dinding contohnya dapat kita lihat di Lumban Bulbul Kecamatan Balige yang pemiliknya bernama S.B Marpaung (Op. Miduk), atau di beberapa tempat masih ada lagi sisa sisa tari sopo yang dapat kita lihat.

Kenapa disebut BAGANDING TUA?

Kata kata yang lain untuk menyebut rumah itu ada juga mengatakan; SIBAGANDING TUA, menurut sunber yang layak di percayai BAGANDING TUA itu adalah sebuah mahluk yang juga ciptaan Allah, wujudnya seperti seekor ular yang panjangnya paling paling 2 jengkal jari tangan. Bagi orang yang bernasib mujur bisa saja BAGANDING TUA datang rumahnya dan pasti membawa rejeki yang melimpah ruah. Pokoknya bila Ruma itu memiliki BAGANDING TUA pemiliki Ruma itu akan kedatangan rejeki dari berbagai penjuru.

Demikianlah Suku Batak itu sering memakai kata kata penghalus dan sastra untuk menunjukkan ruma sebagai tempat tinggal manusia dengan menyebut JABU SI BAGANDING TUA.

Dari catatan yang dihimpun, Istilah Baganding tua juga diartikan sebagai peristilahan kepada perempuan (istri) pemilik rumah, dan untuk laki-laki (suami) diistilahkan Simanguliman. Bila dalam petuah upacara khusus mengartikan rumah sebagai “bagas Sibaganding tua Simanguliman on”, artinya suami dan istri masih lengkap.Perempuan (isteri) juga diartikan “pangalapan tua”, sumber berkat, sementara rumah diartikan sama dengan perhimpunan berkat harta dan keturunan serta kehormatan. “Namarampang Namarjual” diartikan bagi sebuah rumah yang memiliki kehidupan, memiliki harta, aturan dan penegakan hukum dalam keluarga serta masyarakat.

Kehilangan seorang isteri merupakan kehilangan kehormatan bagi sebuah keluarga dan rumah itu sendiri, sehingga penempatan istilah Sibagandingtua dan Namarampang Namarjual otomatis tidak lagi diucapkan sampai seorang perempuan (isteri) atau menantu dari salah seorang anak lelaki ada menempati rumah itu.

Menurut cerita rakyat, bila seorang isteri bijaksana yang menghidupi keluarga itu meninggal dunia, maka “boraspati” (cecak) akan meninggalkan rumah itu. Boraspati adalah lambang kesuburan dan selalu dibuat hiasan rumah adat batak. Kebenarannya belum pernah diteliti.

BALE BALE:

Berbagai macam penyebutan untuk menunjukkan Ruma (tempat tinggal manusia) di dalam bahasa Batak, kata BALE juga sering di sebut sebut, tetapi BALE kurang biasa di pakai sebagai hunian tempat berkeluarga (HOUSE dalam Bahasa Inggris). Bale artinya Balai tempat bertemu antara penjual dan pembeli. Contoh Balairung Balige yang modelnya seperti RUMA GORGA BATAK, akan tetapi fungsinya adalah sebagai tempat berjual beli kebutuhan sehari-hari.

Akan tetapi biarpun BALEBALE tidak biasa seperti hunian tempat berkeluarga dan anak beranak Orang Batak sekarang sering juga menyebutkannya sebagai rumah biasa (House). Buktinya; mereka berkata “PAJONG JONG BALE BALE do anakta nuaeng di Medan”, artinya: Anak kita sedang membangun rumah di Medan. Padahal rumah yang dibangun anaknya di Medan adalah rumah gedong. Disan do “Bale balenta”, (Disanalah rumah kita) “Nungnga adong Balebale ni lae i di Jakarta” (sudah ada rumah ipar kita itu di Jakarta.

Tangga gogop (genap)

Tadi kita sudah mengetahui bahwa Ruma Batak itu menurut tangga dan pintunya dibagi menjadi 2 (dua) bahagian yaitu Ruma Batak si Tolumbea dan Ruma Batak Di Baba ni Amporik. Namun kalau jumlah anak tangganya selalu ganjil apakah itu beranak tangga 9 atau 11 atau 7 pokoknya jumlahnya selalu ganjil. Bagi masyarakat Batak Toba jumlah anak tangga yang genap (gogop) adalah pantang, sebab jumlah anak tangga rumah adalah menunjukkan bahwa pemilik rumah adalah keturunan budak (Hatoban).

Hal seperti ini tidak terdapat bagi Ruma Batak sebab tidak mungkin seorang budak dapat mendirikan Rumah Batak, atau sebagai pemilik Ruma Batak. Kalaupun ada Rumah beranak tangga yang genap (gogop) itu mungkin pada rumah jenis lain. Karena di tanah Batak pada jaman dahulu dan jaman sekarang ada juga kita dapati rumah EMPER bahkan jumlahnya jauh melebihi dari Ruma Batak.

Menurut cerita yang didapat dari hasil bincang bincang antara penulis dengan orang yang layak dipercayai bahwa pada zaman dahulu ada terdapat budak di Samosir. Dan kalau budak itu mau makan terlebih dahulu bersuara ngeong (mar ngeong) seperti suara kucing barulah tuannya meletakkan nasi di lantai rumah. Dan kalau budak sudah merdeka di buatlah rumah pondoknya dengan tanda jumlah anak tangga rumahnya genap seperti 2 atau 4.

Pada zaman zaman permulaan Kemerdekaan Indonesia penulis masih sempat mendengar bahwa anak pemilik rumah yang bertangga genap sangat sulit mendapat jodoh yang cantik. Jadi secara jelasnya bahwa Rumah Batak itu tidak ada yang beranak tangga yang gogop.

POSO-POSO

KELAHIRAN ANAK adalah suatu even yang sangat ditunggu-tunggu suatu keluarga. Apalagi bagi komunitas Batak yang menganggap kesuburan (hagabeon) cenderung sebagai nilai tertinggi dalam hidup, tentu saja kelahiran anak adalah peristiwa yang luar biasa membanggakan dan membahagiakan. Itulah sebabnya jaman dahulu di Tanah Batak bila suatu anak lahir (dahulu tentunya di rumah sendiri dengan bantuan bidan atau sibaso, bukan di RS) maka ayah si anak akan segera membelah kayu secara demonstratif, walaupun tengah malam, di depan rumahnya dengan menimbulkan suara keras. Jendela rumah pun dibuka lebar-lebar dan asap pun membubung dari perapian dapur. Inilah suatu tanda kepada segenap penghuni kampung telah terjadi kelahiran atau kehidupan baru.

1. MANGALLANG HAROAN atau MANGALLANG ESEK-ESEK

Keluarga yang mendapat anak pun secara spontan segera memotong ayam dan memasak nasi kemudian mengetok pintu rumah para tetangga sekaligus kerabat walau tengah malam atau dinihari mengundang makan. Ibu-ibu se kampung pun spontan berdatangan bersama anak-anak. Inilah yang dinamakan mangallang haroan atau mangharoani (menikmati makanan kedatangan). Di daerah Silindung disebut mangallang indahan esek-esek. Jamuan ini bersifat sangat spontan dan seadanya. Jika tidak ada ayam di kandang maka sayur labu siam dan ikan asin pun jadi. Sebab itu mangharoani benar-benar suatu pesta ungkapan sukacita yang spontan dan tulus dari suatu komunitas yang saling mengasihi atas kehidupan baru.

Sementara itu di luar selama tiga malam para bapak mandungoi (bergadang) atau “melek-melekan” sambil bercengkerama dan “berjudi” sesamanya untuk menjaga si bayi dan ibunya dari kemungkinan ancaman kepada si bayi dan ibunya. Beberapa hari kemudian orangtua si perempuan (ompung bao) pun dan kerabat yang lain datang membawa aek ni unte (harafiah air asam) yaitu sejenis makanan sayuran bangun-bangun yang diberi asam dan disantan dengan campuran daging ayam untuk memulihkan raga ibu si anak dan menderaskan ASI.

Selain jamuan spontan mangharoani, di Toba dikenal juga tradisi mangambit atau marambit (harafiah: menggendong), jamuan resmi yang diadakan keluarga untuk menyambut kelahiran si bayi dengan memotong babi. Pada kesempatan inilah keluarga dapat menyampaikan permohonan kepada ompungbao (ompung dari pihak perempuan) agar menghadiahkan sepetak tanah yang disebut sebagai indahan arian (makan siang) kepada cucunya atau seekor kerbau/ lembu yang disebut batu ni ansimun (biji ketimun, yang dapat berkembang-biak). Namun berhubung tanah yang dapat dibagi-bagikan semakin lama semakin sempit, maka tradisi mangambit ini berangsur hilang.

2. MANUTU AEK dohot MANGALAP GOAR

Sesudah beberapa minggu keluarga yang mendapat anak akan menentukan hari (maniti ari) untuk membawa anak yang baru lahir itu pertama kali ke mata air keramat atau homban (biasanya setiap kampung memiliki mata air keramat di tengah sawah) dipimpin oleh seorang dukun (datu). Inilah yang dinamakan upacara manutu aek. Melalui ritus ini keluarga menyampaikan persembahan kepada dewa-dewa terutama dewi air Boru Saniang Naga yang merupakan representasi kuasa Mulajadi na Bolon dan roh-roh leluhur untuk menyucikan si bayi dan menjauhkannya dari kuasa-kuasa jahat. Juga sekaligus meminta agar semakin banyak bayi yang dilahirkan (gabe).

Acara ini dilanjutkan dengan memberikan nama atau mambahen goar kepada si bayi, yang juga dengan meminta rekomendasi dukun (datu). Bila dukun mengatakan nama itu tidak berakibat baik kepada si anak, maka orangtuanya pun akan mengganti nama itu. Beberapa umpasa yang sering diucapkan:

Dangka ni bulu godang pinangait-aithon.
Sai simbur magodang ma ibana dao ma panahit-nahiton.

Ijuk ma tarup ni sopo godang basbason tarup ni sopo balian.
Sai simbur ma ibana magodang pengpeng laho matua jala dao ma parsahitan.

Upacara manutu aek dan mangalap goar biasanya dilanjutkan dengan membawa si bayi ke pekan (maronan, mebang). Kita tahu pada jaman dahulu pekan atau pasar (onan) terjadi satu kali seminggu. Onan adalah simbol pusat kehidupan dan keramaian, sekaligus simbol kedamaian. Ke sanalah orangtua si bayi membawa anak yang baru lahir itu. Orangtua si bayi sengaja membeli lepat (lapet) atau pisang di pasar dan membagi-bagikan kepada orang yang dikenalnya sebagai tanda syukur dan sukacitanya. Sebaliknya kerabat yang menjumpainya juga membekali si bayi dengan oleh-oleh kecil. Bagi kita komunitas Batak-Kristen moderen yang paling penting adalah menangkap makna atau nilai yang terkandung di dalam tradisi maronan atau mebang ini yaitu: memperkenalkan dan membawa anak masuk kepada realitas atau dunia sekitarnya.

3. MEBAT atau MANGEBATI

Sesudah anak cukup kuat untuk dibawa berjalan-jalan maka keluarga pun memilih hari untuk membawanya untuk mengunjungi atau melawat (mebat, mangebati) kepada ompungnya (terutama ompung bao) dan keluarga lain seperti tulang. Keluarga ini pun membawa makanan (baca: memotong seekor babi) kepada ompung si bayi. Pada kesempatan ini ompungbao dapat memberikan ulos parompa (ulos kecil untuk menggendong atau mendukung anak bayi). Bagi kita komunitas Kristen-Batak moderen tradisi mebat (melawat) ini tentu juga baik untuk dipertahankan. Sebab makna yang terkandung dalam tradisi mebat ini adalah mendekatkan si anak secara emosional kepada kerabatnya, terutama ompungbao dan tulangnya.

4. PAIAS RERE

Ada kalanya suatu keluarga muda tinggal di rumah atau kampung mertuanya dan melahirkan anak di sana. Ada kebiasaan pada jaman dahulu, keluarga mengadakan jamuan paias rere (membersihkan tikar) untuk mertuanya sebagai tanda terima kasih atas kerepotan mertua mengurus bayi yang baru lahir. Bagi keluarga Kristen-Batak moderen yang menganut kesetaraan laki-laki dan perempuan, tentu saja adat paias rere ini harus dikritisi dan diberi makna baru hanya sebagai ucapan terima kasih. Sebab bagi kita anak laki-laki dan perempuan sama dan setara.

5. ULOS PAROMPA

Ulos parompa adalah ulos yang diberikan oleh ompung bao kepada cucunya. Pada jaman dahulu ulos kecil ini memang benar-benar fungsional atau digunakan untuk menggendong (mangompa) si bayi sehari-hari. Namun sekarang dalam prakteknya ulos parompa tinggal merupakan simbol kasih ompung bao sebab komunitas Batak moderen sudah menggunakan tempat tidur bayi, kain panjang batik, gendongan dan ayunan untuk menggendong bayi.

Ada kebiasaan komunitas Batak sekarang terutama di kota-kota untuk mengobral ulos parompa. Bukan hanya ompung bao, tetapi seolah-olah semua hula-hula harus memberikan ulos parompa kepada bayi yang baru lahir. Obral ulos ini hanya mengurangi makna ulos parompa.

Home: http://rumametmet.com

Asal Mula Danau Si Losung Dan Si Pinggan

Alkisah, pada zaman dahulu di daerah Silahan, Tapanuli Utara, hiduplah sepasang suami-istri yang memiliki dua orang anak laki-laki. Yang sulung bernama Datu Dalu, sedangkan yang bungsu bernama Sangmaima. Ayah mereka adalah seorang ahli pengobatan dan jago silat. Sang Ayah ingin kedua anaknya itu mewarisi keahlian yang dimilikinya. Oleh karena itu, ia sangat tekun mengajari mereka cara meramu obat dan bermain silat sejak masih kecil, hingga akhirnya mereka tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan pandai mengobati berbagai macam penyakit.

Pada suatu hari, ayah dan ibu mereka pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan obat-obatan. Akan tetapi saat hari sudah menjelang sore, sepasang suami-istri itu belum juga kembali. Akhirnya, Datu Dalu dan adiknya memutuskan untuk mencari kedua orang tua mereka. Sesampainya di hutan, mereka menemukan kedua orang tua mereka telah tewas diterkam harimau.

Dengan sekuat tenaga, kedua abang-adik itu membopong orang tua mereka pulang ke rumah. Usai acara penguburan, ketika hendak membagi harta warisan yang ditinggalkan oleh orang tua mereka, keduanya baru menyadari bahwa orang tua mereka tidak memiliki harta benda, kecuali sebuah tombak pusaka. Menurut adat yang berlaku di daerah itu, apabila orang tua meninggal, maka tombak pusaka jatuh kepada anak sulung. Sesuai hukum adat tersebut, tombak pusaka itu diberikan kepada Datu Dalu, sebagai anak sulung.

Pada suatu hari, Sangmaima ingin meminjam tombak pusaka itu untuk berburu babi di hutan. Ia pun meminta ijin kepada abangnya.

“Bang, bolehkah aku pinjam tombak pusaka itu?”

“Untuk keperluan apa, Dik?”

“Aku ingin berburu babi hutan.”

“Aku bersedia meminjamkan tombak itu, asalkan kamu sanggup menjaganya jangan sampai hilang.”

“Baiklah, Bang! Aku akan merawat dan menjaganya dengan baik.”

Setelah itu, berangkatlah Sangmaima ke hutan. Sesampainya di hutan, ia pun melihat seekor babi hutan yang sedang berjalan melintas di depannya. Tanpa berpikir panjang, dilemparkannya tombak pusaka itu ke arah binatang itu. “Duggg…!!!” Tombak pusaka itu tepat mengenai lambungnya. Sangmaima pun sangat senang, karena dikiranya babi hutan itu sudah roboh. Namun, apa yang terjadi? Ternyata babi hutan itu melarikan diri masuk ke dalam semak-semak.

“Wah, celaka! Tombak itu terbawa lari, aku harus mengambilnya kembali,” gumam Sangmaima dengan perasaan cemas.

Ia pun segera mengejar babi hutan itu, namun pengejarannya sia-sia. Ia hanya menemukan gagang tombaknya di semak-semak. Sementara mata tombaknya masih melekat pada lambung babi hutan yang melarikan diri itu. Sangmaima mulai panik.

“Waduh, gawat! Abangku pasti akan marah kepadaku jika mengetahui hal ini,” gumam Sangmaima.

Namun, babi hutan itu sudah melarikan diri masuk ke dalam hutan. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah dan memberitahukan hal itu kepada Abangnya.

“Maaf, Bang! Aku tidak berhasil menjaga tombak pusaka milik Abang. Tombak itu terbawa lari oleh babi hutan,” lapor Sangmaima.

“Aku tidak mau tahu itu! Yang jelas kamu harus mengembalikan tombok itu, apa pun caranya,” kata Datu Dalu kepada adiknya dengan nada kesal.”

Baiklah, Bang! Hari ini juga aku akan mencarinya,” jawab Sangmaima.

“Sudah, jangan banyak bicara! Cepat berangkat!” perintah Datu Dalu.

Saat itu pula Sangmaima kembali ke hutan untuk mencari babi hutan itu. Pencariannya kali ini ia lakukan dengan sangat hati-hati. Ia menelesuri jejak kaki babi hutan itu hingga ke tengah hutan. Sesampainya di tengah hutan, ia menemukan sebuah lubang besar yang mirip seperti gua. Dengan hati-hati, ia menyurusi lubang itu sampai ke dalam. Alangkah terkejutnya Sangmaima, ternyata di dalam lubang itu ia menemukan sebuah istana yang sangat megah.

“Aduhai, indah sekali tempat ini,” ucap Sangmaima dengan takjub.

“Tapi, siapa pula pemilik istana ini?” tanyanya dalam hati.

Oleh karena penasaran, ia pun memberanikan diri masuk lebih dalam lagi. Tak jauh di depannya, terlihat seorang wanita cantik sedang tergeletak merintih kesakitan di atas pembaringannya. Ia kemudian menghampirinya, dan tampaklah sebuah mata tombak menempel di perut wanita cantik itu. “Sepertinya mata tombak itu milik Abangku,” kata Sangmaima dalam hati. Setelah itu, ia pun menyapa wanita cantik itu.

“Hai, gadis cantik! Siapa kamu?” tanya Sangmaima.

“Aku seorang putri raja yang berkuasa di istana ini.”

“Kenapa mata tombak itu berada di perutmu?”

“Sebenarnya babi hutan yang kamu tombak itu adalah penjelmaanku.”

“Maafkan aku, Putri! Sungguh aku tidak tahu hal itu.”

“Tidak apalah, Tuan! Semuanya sudah terlanjur. Kini aku hanya berharap Tuan bisa menyembuhkan lukaku.”

Berbekal ilmu pengobatan yang diperoleh dari ayahnya ketika masih hidup, Sangmaima mampu mengobati luka wanita itu dengan mudahnya. Setelah wanita itu sembuh dari sakitnya, ia pun berpamitan untuk mengembalikan mata tombak itu kepada abangnya.

Abangnya sangat gembira, karena tombak pusaka kesayangannya telah kembali ke tangannya. Untuk mewujudkan kegembiraan itu, ia pun mengadakan selamatan, yaitu pesta adat secara besar-besaran. Namun sayangnya, ia tidak mengundang adiknya, Sangmaima, dalam pesta tersebut. Hal itu membuat adiknya merasa tersinggung, sehingga adiknya memutuskan untuk mengadakan pesta sendiri di rumahnya dalam waktu yang bersamaan. Untuk memeriahkan pestanya, ia mengadakan pertunjukan dengan mendatangkan seorang wanita yang dihiasi dengan berbagai bulu burung, sehingga menyerupai seekor burung Ernga. Pada saat pesta dilangsungkan, banyak orang yang datang untuk melihat pertunjukkan itu.

Sementara itu, pesta yang dilangsungkan di rumah Datu Dalu sangat sepi oleh pengunjung. Setelah mengetahui adiknya juga melaksanakan pesta dan sangat ramai pengunjungnya, ia pun bermaksud meminjam pertunjukan itu untuk memikat para tamu agar mau datang ke pestanya.

“Adikku! Bolehkah aku pinjam pertunjukanmu itu?”

“Aku tidak keberatan meminjamkan pertunjukan ini, asalkan Abang bisa menjaga wanita burung Ernga ini jangan sampai hilang.”

“Baiklah, Adikku! Aku akan menjaganya dengan baik.”

Setelah pestanya selesai, Sangmaima segera mengantar wanita burung Ernga itu ke rumah abangnya, lalu berpamitan pulang. Namun, ia tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan menyelinap dan bersembunyi di langit-langit rumah abangnya. Ia bermaksud menemui wanita burung Ernga itu secara sembunyi-sembunyi pada saat pesta abangnya selesai.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pada malam harinya, Sangmaima berhasil menemui wanita itu dan berkata:

“Hai, Wanita burung Ernga! Besok pagi-pagi sekali kau harus pergi dari sini tanpa sepengetahuan abangku, sehingga ia mengira kamu hilang.”

“Baiklah, Tuan!” jawab wanita itu.

Keesokan harinya, Datu Dalu sangat terkejut.

Wanita burung Ernga sudah tidak di kamarnya. Ia pun mulai cemas, karena tidak berhasil menjaga wanita burung Ernga itu. “Aduh, Gawat! Adikku pasti akan marah jika mengetahui hal ini,” gumam Datu Dalu. Namun, belum ia mencarinya, tiba-tiba adiknya sudah berada di depan rumahnya.

“Bang! Aku datang ingin membawa pulang wanita burung Ernga itu.

Di mana dia?” tanya Sangmaima pura-pura tidak tahu.

“Maaf Adikku! Aku telah lalai, tidak bisa menjaganya. Tiba-tiba saja dia menghilang dari kamarnya,” jawab Datu Dalu gugup.

“Abang harus menemukan burung itu,” seru Sangmaima.

“Dik! Bagaimana jika aku ganti dengan uang?” Datu Dalu menawarkan.

Sangmaima tidak bersedia menerima ganti rugi dengan bentuk apapun. Akhirnya pertengkaran pun terjadi, dan perkelahian antara adik dan abang itu tidak terelakkan lagi. Keduanya pun saling menyerang satu sama lain dengan jurus yang sama, sehingga perkelahian itu tampak seimbang, tidak ada yang kalah dan menang.

Datu Dalu kemudian mengambil lesung lalu dilemparkan ke arah adiknya. Namun sang Adik berhasil menghindar, sehingga lesung itu melayang tinggi dan jatuh di kampung Sangmaima. Tanpa diduga, tempat jatuhnya lesung itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah danau. Oleh masyarakat setempat, danau tersebut diberi nama Danau Si Losung.

Sementara itu, Sangmaima ingin membalas serangan abangnya. Ia pun mengambil piring lalu dilemparkan ke arah abangnya. Datu Dalu pun berhasil menghindar dari lemparan adiknya, sehingga piring itu jatuh di kampung Datu Dalu yang pada akhirnya juga menjadi sebuah danau yang disebut dengan Danau Si Pinggan.

Demikianlah cerita tentang asal-mula terjadinya Danau Si Losung dan Danau Si Pinggan di daerah Silahan, Kecamatan Lintong Ni Huta, Kabupaten Tapanuli Utara.

Cerita di atas termasuk ke dalam cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Ada dua pesan moral yang dapat diambil sebagai pelajaran, yaitu agar tidak bersifat curang dan egois.

– sifat curang. Sifat ini tercermin pada sifat Sangmaima yang telah menipu abangnya dengan menyuruh wanita burung Ernga pergi dari rumah abangnya secara sembunyi-sembunyi, sehingga abangnya mengira wanita burung Ernga itu hilang. Dengan demikian, abangnya akan merasa bersalah kepadanya.

– sifat egois. Sifat ini tercermin pada perilaku Sangmaima yang tidak mau memaafkan abangnya dan tidak bersedia menerima ganti rugi dalam bentuk apapun dari abangnya.

Dikutip dari beberapa sumber

SINURAT

adat_batakSinurat adalah salah satu marga dari suku batak, Sinurat berasal dari keturunan ke 3 dari Silahisabungan Lihat Tarombo Silahisabungan. Sinurat adalah keturunan dari Si Raja Parmahan yang di Culik dan tinggal di Balige. Banyak marga Sinurat memakai marga Silalahi karena sesuai dengan perjanjian antara Raja Parmahan dengan Tambunan yang membuat ikrar keturunan marga Raja parmahan harus menggunakan marga Silalahi Lihat kisah Raja Bunga-bunga atau Raja Parmahan.

Tetapi dengan berkembangnya keturunan dari Sinurat, sekarang ini Sinurat tidak lagi menggunakan marga Silalahi tapi tetap menggunakan marganya sendiri yaitu Sinurat.

Keturunan Sinurat dari Sinabutar ada empat orang yaitu  :

1. Si Raja Tano
2. Si Raja Pagi
3. Opung Gumbok Nabolon
4. Raja Muha

Sinurat berasal dari Balige, dan dari Balige ini Sinurat merantau ke beberapa daerah. Antara lain : Si Raja Tano, merantau ke daerah Asahan, Siantar dan Tebeing. Si Raja Pagi merantau ke daerah Balige, Dairi dan Pak-pak, Opung Gumbok Nabolon merantau ke Samosir Pangururan, buhit. Dari keempat anak anak sinurat kemudian lahir lagi keturunan-keturunan Sinurat yaitu :

1. Si Raja Tano

Untuk Si Raja Tano penulis belum mendapatkan informasi tentang keturunannya.

2. Si Raja Pagi

Siraja pagi merantau di sekitar balige, dairi dan pak-pak, keturunan Sinurat Siraja Pagi yaitu :

  1. Ompung Sundoang Tinggal di daerah Lumban Lobu
  2. Raja Ujung tinggal di daerah Lagu Boti
  3. Raja Pansadian tinggal di daerah Janji Matogu Porsea
  4. Op. Raja Majid tinggal di daerah Simalungun
  5. Op. Tapak tinggal di daerah Huga Padang Simalungun.

3. Ompung Gumbok Nabolon

Pulang kembali ke Silalahi Nabolak yaitu ke Samosir Pangururan, dimana keturunan dari Ompung Gumbok Nabolon adalah :

  1. Si Batu Mamak
  2. Si Raja Bahul
  3. Si Raja Bajar
  4. Si Loncing.

4. Raja Muha

Sinurat Raja Muha sampai sekarang tidak ada kabarnya, oleh sebab itu dikatakan Manorus (Hilang), Kemungkinan besar mereka merantau ke Mandailing dan tidak lagi menggunakan marga Sinurat atau Silalahi atau mereka merantau ke Tanah Karo dan tidak menggunakan marga Sinurat atau Silalahi.

Keturunan Silahisabungan termasuk Sinurat dalam kehidupan sehari-hari tidak menggunakan penomoran dalam silsilah marga seperti marga2 lain yaitu Humbang, hutajulu dll. Tapi kedudukan dan posisi generasi tidak hilang, kedudukan siakangan (Siabangan) dan sianggian (Adik) akan terlihat pada saat mengadakan Ulaon Adat (Pesta Adat) dimana posisi urutan akan terlihat dari posisi duduknya yaitu dari yang paling tua sampai yang paling Muda. Dan juga akan terlihat dalam hal penerimaan Jambar.

Sekarang ini Marga Sinurat telah menyebar kemana-mana di seluruh pelosok Indonesia, bahkan sampai keluar Negri. Sehigga banyak yang tidak lagi mengetahui silsilahnya atau asal-usulnya,

Diharapkan Orangtua (Natua-tua) Sinurat tetap menceritakan dan memberitahu kepada generasi penerus, agar kita marga Sinurat tidak hilang seperti keturunan Sinurat Raja Muha.

Sampai di sini saya tuliskan tentang Sinurat, Tujuan saya menulis ini karena saya sadar masih banyak kekurang tahuan saya tentang marga saya sendiri yaitu Sinurat, dan saya mengharapkan bantuan dan penerangan bagi na tua-tua yang mengerti tentang marga Sinurat agar saya tuliskan tentang Sinurat yang benar dan akan saya bagikan ke seluruh generasi muda dalam forum ini, agar generasi muda mengerti dan mengetahui tentang asal-usul marganya sendiri.

Horas
Dunov Saur Raja Sinurat