Kerabat Berpantangan

DALAM hubungan kekerabatan masyarakat  Batak, terdapat beberapa hubungan kerabat yang satu sama lain berpantangan (marsubang). Pantangan yang dimaksud dalam hal ini adalah dalam hubungan komunikasi di antara mereka. Kita mengenal ada empat hubungan kekerabatan berpantangan dalam struktur kekerabatan Batak (dilihat dari “aku”, seorang laki-laki yang telah berumah tangga): Marbao antara “aku” dengan istri dari ipar (saudara laki-laki istriku). Maranggi-boru antara “aku” dengan istri adik-adikku laki-laki. Marsimatua antara “aku” dengan ibu-mertuaku. Marparumaen antara “aku” dengan menantu perempuan, istri anak-anakku laki-laki.

Pada zaman dulu hubungan komunikasi di antara mereka yang berkerabat berpantangan tidak dapat dilakukan secara langsung. Misalnya ada sesuatu yang perlu disampaikan, harus melalui orang lain. Bertatapan mata secara langsung harus dihindarkan.

Tidak boleh duduk berdekatan atau berdampingan, apalagi sampai bersentuhan atau bersenggolan. Tidak boleh bersalaman, cukup dengan saling mengangguk satu sama lain dengan mengucapkan horas amang atau horas inang. Tidak boleh memberikan sesuatu langsung ke tangannya, harus melalui orang lain. Tidak boleh berada dalam satu ruangan atau kamar tanpa didampingi orang lain (W Hutagalung, 1963:45).

Aturan adat yang sedemikian ketat dalam hubungan komunikasi di antara kerabat berpantangan tidak dimaksudkan mengurangi rasa saling mengasihi di antara mereka. Bahkan sebaliknya, larangan-larangan keras itu justru menumbuhkan rasa hormat dan rasa kasih yang amat besar. Tentu saja pantangan keras itu akan menghindarkan hal-hal yang bertentangan dengan aturan-aturan moral dan kesusilaan di antara mereka.

Pelanggaran atas pantangan-pantangan itu pada zaman dulu dianggap sebagai gangguan atas keseimbangan mikro kosmos, dunia kehidupan manusia, yang hanya dapat diperbaiki dengan upacara adat, meminta maaf kepada segenap kerabat dalam suatu perjamuan khusus.

Dalam hal demikian, orang Batak mengenal ungkapan perumpamaan; “Pauk-pauk hudali, pago-pago tarugi; na tading diulahi, na sega dipauli”. Artinya, memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan perbuatan yang melanggar adat.

Sanksi yang tegas dan pasti atas pelanggaran-pelanggaran seperti itu memang tidak ada dalam aturan adat Batak. Kejadian demikian dianggap sebagai aib besar dalam lingkungan keluarga, sehingga apabila pelanggaran itu sedemikian jauh, misalnya sampai terjadi perselingkuhan, maka mereka akan dikucilkan dari masyarakat adat.

Pengaruh kehidupan dan pergaulan modern di tengah-tengah masyarakat Batak telah cukup banyak mengurangi keketatan pantangan tersebut. Hal demikan dapat kita saksikan dan rasakan dalam pergaulan hidup kita sehari-hari terutama di kota-kota besar.

Namun demikian, jika perhatikan lebih seksama, meskipun sudah lebih fleksibel, hubungan komunikasi di antara kerabat berpantangan itu tetap dalam batas-batas yang baik, dengan rasa hormat dan respek yang tinggi antara satu dengan yang lain.

Misalnya ”aku” akan berusaha menghindar apabila oleh karean sesuatu hal menantu perempuanku bergerak semakin dekat ke ”aku” tanpa ia sadari. Atau “aku” akan menghambil inisiatif untuk segera keluar apabila ternyata hanya ”aku” dan menantuku yang berada dalam satu ruangan atau satu kamar, dalam berbicara antara satu dengan yang lain selalu dengan tatakrama dan sopan santun yang tinggi (GG Malau,2000:50)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: