Cara Orang Batak Menyambut Natal

Beragam cara orang Batak menggalang kebersamaan. Melalui perkumpulan marga misalnya, yang diimplementasikan dengan partangiangan (doa syukuran bersama) sekali sebulan. Dengan membentuk arisan,dalam ruang lingkup marga, lingkungan tempat tinggal, atau lingkungan satu profesi.

Menyambut hari-hari besar seperti Natal dan Tahun Baru, orang Batak punya cara yang spesifik merealisasikan semangat kebersamaan,melalui sebuah kebiasaan yang ditradisikan dengan sebutan Marbinda. Konotasi marbinda dalam konteks Batak, adalah menyembelih seekor hewan untuk dibagi bersama. Biasanya, hewan yang disembelih adalah jenis kerbau, lembu, dan babi. Jumlah pesertanya tergantung apa yang mau dibindakan. Kalau kerbau,pesertanya lebih banyak, bisa mencapai 35 sampai 40 orang. Kalau marbinda babi,pesertanya lebih sedikit, antara 10 sampai 15 orang.Itu pun tergantung besar kecilnya hewan yang mau dibindakan.

Marbinda dilaksanakan,setelah sekumpulan orang merancang, dan menyepakati hewan apa yang akan disembelih, dan dalam rangka apa. Yang paling dikenal adalah binda dalam rangka menyambut Natal dan Tahun Baru. Tak perlu ada panitia formal. Biasanya ada satu atau dua orang yang dipercayakan menangani setoran iuran dari peserta. Dia bisa dianggap ketua sekaligus bendahara. Ada satu kelompok binda yang mulai mengumpulkan iuran sekali seminggu, ada pula yang sekali sebulan. Kebanyakan kelompok mulai mengumpul setoran dari peserta terhitung bulan Januari, dengan deadline (batas waktu) pembayaran akhir bulan Oktober atau Nopember. Itu dimaksudkan,supaya uang dapat segera dibelanjakan beli kerbau sebulan sebelum hari H. Tapi ada juga satu kelompok baru membeli kerbau dua atau tiga hari sebelum hari H,tergantung kesepakatan.

Kebanyakan kelompok binda menetapkan sekretariat bersama di kedai kopi, kedai tuak, atau rumah makan yang ditentukan, atau kadang di rumah seseorang yang ditunjuk menjadi ketua merangkap juru pungut setoran anggota. Simpel memang. Tak perlu bertele-tele. Hal itu mudah ditemukan di sebuah kedai tuak atau kedai kopi, dimana daftar peserta ditulis di sehelai kertas yang ditempelkan di dinding. Kertas daftar itu berisi nama peserta, dan lajur-lajur nama bulan, serta jumlah uang yang sudah disetor peserta. Melalui catatan itu, tercermin transparansi. Setiap anggota bisa segera tahu, sudah berapa yang sudah disetor, bulan ke berapa yang belum dibayar.

Tanpa marbinda, rasanya merayakan Tahun Baru, seperti kurang meriahnya, ujar Welman Simanjuntak gelar Mr Long, seorang warga Tarutung yang selalu aktif mengikuti kegiatan itu. Menurutnya, siapa saja bisa beli daging kerbau ke pasar untuk keperluan tahun baru. Tapi rasanya tidak sama dengan daging yang diperoleh dengan marbinda. Pada saat marbinda, ada perasaan lebih puas dibanding membeli di pasar daging. Kumpul bersama dengan sesama peserta, mencerminkan kebersamaan,solidaritas, berbagi sama rasa sama rata. Marbinda tak selalu harus beruntung bila ditimbang dari harga daging di pasar. Bisa saja impas, bisa rugi sedikit, tapi bukan itu yang penting, melainkan kebersamaan dan kekompakan, imbuh Welman Simanjuntak, yang baru-baru ini ikut menjadi peserta kumpulan binda marga Simanjuntak di Tarutung Kota, dalam rangka Tahun Baru 2009.Banyak Simanjuntak mengikuti binda ini, tampak di antaranya Drs WP Simanjuntak, Jannen Simanjuntak, Jonggi Simanjuntak SH, Simanjuntak Saruksuk, D.Simanjuntak Bapak Timur, R. Simanjuntak Pancurbatu,Jansen Simanjuntak (wartawan), J.Simanjuntak Op.Diana Perumnas, HP Lumbantobing, Sagala, dan lain-lain. Dengan semangat mereka sama-sama bekerja membagi-bagi daging kerbau yang sudah disembelih. Semua harus dibagi rata. Sedangkan jika ada uang pembelian kerbau yang tersisa, disepakati untuk dijadikan lauk makan bersama.

Marbinda, menjadi sebuah tradisi menarik dan menjadi nilai plus, ketika masyarakat Batak menyambut Natal dan Tahun Baru. Pemda setempat memang setiap perayaan Natal/Tahun Baru, selalu memotong beberapa ekor kerbau untuk dibagikan pada para pegawai dan elemen lainnya. Itu sudah dilaksanakan Pemda Tapanuli Utara misalnya sejak dulu. Biayanya juga sudah dianggarkan dalam APBD tahunan. Menjelang hari Natal, bagian terkait di Kantor Bupati membagikan DO kepada setiap nama yang tercantum pada register penerima. Itu memang berbeda dengan marbinda yang diadakan kelompok tertentu di tengah masyarakat. Karena marbinda dibiayai sekelompok orang dalam semangat kebersamaan.

Marbinda di penghujung tahun 2008 lalu, lumayan ramai di beberapa kecamatan di wilayah Tano Batak. Di Tarutung, Siborongborong, Balige, Samosir, selalu ada yang merekat kebersamaan dalam tradisi marbinda. Di Tarutung misalnya. Banyak kelompok yang marbinda pada 30 Desember, dan sebagian lainnya pada 31 Desember. Kelompok binda marga Simanjuntak menyembelih kerbau binda di pusat kota, di halaman rumah HP Lumbantobing Jalan Sisingamangaraja, Tarutung. Daftar peserta tercatat 38 orang, dengan setoran Rp 300 ribu per orang, dicicil Rp 30 ribu per bulan, untuk sepuluh bulan. Tampak suasana gembira, saat kelompok marga Simanjuntak berkumpul sama-sama marhobas (melaksanakan bersama) pemotongan kerbau hingga pembagiannya. Uang yang tersisa dari pembelian kerbau digunakan untuk keperluan makan bersama. Mereka begitu kompak,dan bersukacita menenteng bagian masing-masing untuk dibawa kepada keluarga di rumah. Setiap peserta lumayan beruntung kalau dibanding harga daging di pasar menjelang tahun baru ini, ujar salah seorang di antaranya.

Pemandangan yang sama terlihat di Simpang Tiga jalan Sibolga, dekat loket bus ALS, di belakang kantor PUK jalan Sipoholon, dan di kawasan arah Pancurnapitu Kecamatan Siatas Barita.Beberapa partai peserta pemilu tak ketinggalan menyelenggarakan acara berbagi dengan marbinda.Seperti Partai Demokrat Taput yang marbinda di Huta Baginda Tarutung. Gambaran yang sama mungkin kelihatan di berbagai tempat lainnya di kawasan Tano Batak. Ada gambaran kebanggaan tercermin dari wajah penerima jagal binda (jatah daging) ketika menenteng plastik berisi daging dibawa ke rumah masing-masing.

Untuk menyambut Tahun Baru 2010 mendatang, kelompok marga Simanjuntak Sitolu Sada Ina Tarutung juga sudah menetapkan binda pada akhir Desember nanti. Memang tak selalu semua marga Simanjuntak yang jadi peserta, karena banyak di antaranya sudah ikut kumpulan binda di tempat masing-masing. Binda Simanjuntak yang diadakan di simpang empat Tarutung biasanya diikuti Simanjuntak dan boru bere yang biasa berkumpul di rumah makan HP Lumbantobing yang beristerikan boru Simanjuntak H-15, di samping BRI Tarutung. Pungutan iuran bulan ditetapkan Rp 35.000 per bulan dan selama 10 bulan masing-masing menyetor Rp 350.000.s

Yang penting, asal saja kekompakan dan kebersamaan itu tidak hanya terjalin saat marbinda saja, tapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dalam kerangka penguatan komunitas Batak yang bermartabat dengan filosofi Dalihan Natolu yang sudah teruji dan terpuji sejak jaman dahulu, begitu komentar seorang warga yang mengaku turut berbangga hati, karena pada saat dunia sedang dilanda krisis global,orang Batak tetap mau dan mampu berbagi kebersamaan dengan tradisi marbinda.

Ditulis oleh:
(Leonardo Simanjuntak Mdp)

Iklan

Kalender Punguan Sinurat 2010

Bagi siapapun yang menginginkan kalender ini untuk file yang aslinya silahkan download Klik pilihan dibawah ini

1 Untuk file Word

2. Untuk file PDF

3. Untuk file PNG

Filenya berbetuk Rar anda harus mengekstrak ke sebeuah folder terlebih dahulu baru dapat dibuka file dalam foldernya

Kalender Januari dan FebruariKalender Punguan Sinurat Mart dan April

Kalender Punguan Sinurat Mei dan JuniKalender Punguan Sinurat Juli dan Agustus

Kalender Punguan Sinurat September dan OktoberKalender Punguan Sinurat November dan Desember

Kekuatan Wanita Yang Mungkin Tak Di Miliki Laki-laki

Ditulis oleh: Poltak Simanjuntak

Seorang anak laki-laki bertanya pada ibunya: “Mengapa engkau menangis?”

“Karena aku seorang wanita,” jawab sang ibu.

“Aku tidak mengerti,” kata anak itu.

Ibunya hanya memeluknya dan berkata, “Dan kau tak akan pernah mengerti.”

Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, “Mengapa ibu suka menangis tanpa

alasan?”

“Semua wanita menangis tanpa alasan,” hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.

Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, dan dia tetap

ingin tahu mengapa wanita menangis.

Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, “Tuhan, mengapa wanita begitu mudah

menangis?”

Tuhan berkata: “Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang

yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia, namun, harus cukup

lembut untuk memberikan kenyamanan.”

“Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan

yang sering kali datang dari anak-anaknya.”

“Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan

mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh.”

“Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika

anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya.”

“Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan

tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya.”

“Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah

menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada di

sisi suaminya tanpa ragu.”

“Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan. Ini adalah khusus miliknya untuk

digunakan kapan pun ia butuhkan.”

“Kau tahu: Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia

tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya.”

“Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya…, karena itulah pintu hatinya, tempat

di mana cinta itu ada.”

Benhawerd Simanjuntak : Http://simanjuntak.or.id

Selamat Natal Punguan Sinurat

Klik Gambarnya untuk melihat Gambar yang Asli

Selamat Natal & Tahun Baru

Selamat hari Natal Dan Tahun Baru untuk semua Aparaku dan ito2ku serta keturunan Namboruku dimanapun kalian berada.

Untuk melihat gambar aslinya (Animasi) klik Disini Atau Lihat Kiriman Aslinya atau klik kanan mouse pada setiap gambar kemudian klik Open Link In New Tab

Tanah Leluhur keturunan Silahisabungan

Silalahi Nabolak

Sejarah mencatat, Sipaettua, Silahisabungan dan Sirajaoloan harus meninggalkan saudara sulung mereka Sibagotnipohan di Lumban Gorat (Balige).

Dalam perjalan Sipaettua, Silahisabungan dan Sirajaoloan meninggalkan tanah leluhur mereka, mereka sepakat untuk mencari daerah baru dan menjauh dari saudara sulung mereka di Lumban Gorat ( Balige ).

Sipaettua akhirnya memilih tinggal menetap di Laguboti dan keturunannya, yaitu Pangulu Ponggok Naiborngin, Sipartano Naiborngin dan Pardundong alias Puraja Laguboti. Keturunan Pangulu Ponggok Naiborngin memakai marga Hutahaean, Aruan dan Hutajulu. Keturunan Sipartano Naiborngin memakai marga Sibarani dan Sibuea. Keturunan Puraja Laguboti memakai marga Pangaribuan dan Hutapea Laguboti.

Tinggallah Silahisabungan dan Sirajaoloan melanjutkan perjalanan mereka. Akhirnya Sirajaoloan memilih tinggal menetap di Pangunguran Samosir, namun kemudian Sirajaoloan berpindah lagi ke Bakara. Keturunan Sirajaoloan memakai marga Naibaho, Sihotang, Bakara, Sinambela, Sihite, Manullang.

Silahisabungan akhirnya mengembara sebatangkara meninggalkan adiknya Sirajaoloan di Pangunguran sampai kemudian Silahisabungan menemukan suatu daerah dan menamainya Silalahi Nabolak (sekarang wilayah Kab. Dairi). Keturunan Silahisabungan memakai marga Sihaloho, Situngkir, Rumasondi, Sidabariba, Sinabutar, Sidebang , Pintubatu, Tambun, Tambunan, Silalahi, Doloksaribu, Sinurat, Nadapdap, Naiborhu, Rumasingap, Sipangkar, Sipayung, Sembiring, Sigiro dan Lumbanpea.

HORJA BIUS

Dalam budaya masyarakat Batak mengenal BIUS. Dahulu kala, Bius merupakan hukum adat tertinggi dalam persekutuan masyarakat Batak ( yang nota bene terdiri atas beberapa marga ) dalam suatu wilayah / huta. Pimpinan tertinggi dari bius ini adalah berasal dari Raja Marga Sipungka Huta. Yang dimaksud Raja Marga Sipungka Huta ( Raja Bius ) adalah golongan marga perintis (Penguasa) yang mendiami sekaligus pengukuhan kepemilikan wilayah / huta tersebut bagi marga-marga pendatang. Bius sangat dihormati sebagai hukum dan ikatan persatuan antara marga-marga Sipungka Huta dengan marga-marga pendatang di wilayah / huta itu.

Kegiatan ini disebut Horja Bius. Horja Bius hanya dapat dilakukan oleh Marga Sipungka Huta. Di Pangunguran Samosir misalnya, dikenal bius Sitolu Hae. Disebut Sitolu Hae karena di wilayah ini terdiri dari 3 (tiga) marga Sipungka huta, yaitu marga Naibaho keturunan Sirajaoloan, marga Simbolon keturunan Simbolontua dan Sitanggang keturunan Muntetua.

Naibaho terdiri atas marga-marga Siahaan, Sitangkaraek, Sidauruk, Sihutaparik dan Siagian. Simbolon terdiri atas marga-marga Nadeak, Tamba, Simbolon dan Silalahi ( sebagai Boru). Sitanggang terdiri atas marga Sitanggang, Sigalinging, Raja Pangadat dan Malau ( sebagai Boru ). Artinya, marga Silalahi dan marga Malau adalah sebagai pendatang yang dikukuhkan marga Sipungka huta mendiami wilayah / huta Pangunguran.

Bius Silahisabungan berada di Silalahi Nabolak, yang disebut Bius Parsang- garan yang terbagi atas 3 (tiga) turpuk yakni Bius Siopat Turpuk ( Sihaloho, Rumasondi, Sidabariba, Pintubatu), Bius Sitolu Tupuk ( Situngkir, Sinabutar, Sidebang), Bius Tambun.

Catatan :

  1. Keturunan Silahisabungan ( marga Silalahi ) yang ada di Samosir  ( Pangunguran, Parbaba, Tolping, Sibisa ) adalah sebagai marga pendatang. Faktanya, marga Silalahi (Silalahi Raja) bukan sebagai Sipungka Huta, artinya marga Silalahi tidak memiliki kapasitas menjadi Raja Bius.
  2. Kisah penculikan 3 ( tiga ) cucu Raja Silahisabungan, namun 2 ( dua ) orang berhasil meloloskan diri ketika perahu Tuan Sihubil melewati pesisir Pangunguran diindikasikan sebagai cikal bakal keberadaan marga Silalahi (Silalahi Raja) di Pangunguran , Tolping dan sekitarnya.

Sumber : Buku, Sejarah Raja Silahisabungan , oleh. J.Sihaloho

BELAJAR DARI AFES HUTAURUK

Afes Hutauruk bersama adiknya yang menderita HIVTerus terang, hati dan dada saya begitu bergetar ketika membaca berita mengenai seorang anak yang baru berumur 12 tahun yang berjuang dengan begitu tulus untuk merawat adiknya Ucok(bukan nama sebenarnya) yang menderita penyakit HIV. Dia seorang manusia kecil yang ditinggal mati oleh ibunya akibat penyakit yang sama. Ayahnya yang diduga orang yang menularkan penyakit HIV tersebut justru pergi dan meninggalkan mereka.

Jadilah Afes Hutauruk, anak yang yang seharusnya sedang menikmati masa kecilnya dan bermain main di luar sana bersama teman-temanya, tiba-tiba harus berubah menjadi seorang kepala keluarga, sebab disamping Ucok yang sedang sakit, Afes Juga harus mengurusi dua orang adeknya yang lain, Sonya Hutauruk dan Ruth Tania Hutauruk.

Sungguh. Dalam getar-getar keharuan ini saya menyaksikan Demonstrasi ketulusan dan keteguhan hati seorang manusia, Betapa tidak, Afes dan adiknya yang telah lelah menderita ini, harus diusir pula dari kampung halamannya Dusun Hutabagasan, karena warga seisi kampung itu takut tertular. Tak punya pilihan lain, Afes dan adik-adiknya pun pergi ke rumah neneknya di kawasan Toba Samosir. Setiba disana penderitaan malah semakin lengkap, kehadiran mereka juga tidak diterima sama warga sekitar, dan diusir juga dari kampung itu. Akhirnya sang nenek dan tantenya, El Boru Hutauruk membawa Ucok yang kondisinya sudah makin parah ke RS Pirngadie, Medan.

Ucok adik Afes sedang terbaring

Saya benar benar kagum pada Afes, seorang manusia yang mau berkorban dan memiliki hati yang tulus. Dengan rela meninggalkan sekolahnya di kelas 5, Sekolah Dasar setempat demi adiknya ucok. ‘Saya yang minta berhenti kok, saya ingin merawat adik saya sampai sembuh’ ujarnya ketika ada yang bertanya kenapa dia tidak sekolah lagi.

Ketika saya menulis ini, mungkin dia sedang menyuapi adiknya, sebuah kebiasaan yang sudah lama dia lakukan. Ucok memang harus disuapin dan dibantu untuk bisa duduk, badannya sudah tinggal Tulang dan kulit saja, terlihat sangat kurus dan lemah. Tapi Afes terlihat begitu senang merawat adiknya, ‘Ucok ini memang bandel kak, suka narik narik infusnya, makanya tangannya di ikat sama susternya’ tutur Afes sambil tersenyum pada adiknya. Senyum yang menunjukkan kasih sayang seorang Abang.

Melihat Afes kadang membuat saya merenung, betapa bedanya sifat si Afes ini dengan sifat teman teman saya sesama batak. Dimana banyak diantara teman saya tersebut sudah saling tak peduli pada saudara, padahal adat batak mengajarkan kita tentang norma dan etika. Tahukah anda bahwa begitu banyak didalam keluarga orang batak yang saling bersumpah bahwa hanya akan ‘mardomu di tano na rara’, hanya karena perbedaan perbedaan ideologi dan bahkan kadang hanya karena perbedaan pemahaman ketika menyelenggarakan sebuah pesta adat .

Dan orang orang seperti ini biasanya tidak pernah mau intropeksi diri, selalu ingin dibenarkan dan merasa paling benar. Orang orang seperti ini akan selalu menceritakan permsalahannya dari sisinya saja, dan berkoar koar bahwa adiknya atau abangnya yang salah. Seolah olah ketika ada orang yang membela dan membenarkan dia, maka dia akan mendapatkan buah kebenaran sehingga layak untuk ditinggikan TUHAN. Afes bercita cita jadi Dokter

Tapi Afes jelas berbeda, Berbuat baik baginya seperti sebuah pilihan hidup, bukan sekedar mencari sensasi untuk menguntungkan diri sendiri.  Ketika ada yang bertanya ‘apakah dia malu memiliki adik yang berpenyakit seperti ini’ dia langsung menjawab, ‘kenapa malu, bukankah semua ini adalah rencana Tuhan’ jawabnya dengan tegas tanpa sedikitpun keraguan.

Sekarang ini Afes dan adik adiknya memang harus kita kasihani, dan sayapun mendukung penggalangan dana dari teman teman untuk bisa sekedar berbagi.

Tapi dalam hal menjalani hidup kita harus banyak belajar dari si Afes. Dalam dunia yang serba sulit sekarang ini, perjuangan dalam mencari kehidupan memang bukan main melelahkan, saking lelahnya kadang kadang kitapun lupa akan teman dan saudara.

Ada yang sukses dan berhasil, tapi hidup dalam kesepian
Ada yang kaya dan terhormat, tapi hidup tanpa kasih sayang
Bersama sang waktu, dalam perjalanan panjang setiap orang, kadang kita akan akan menemui persimpangan jalan, saatnya kita berhenti sejenak, menurunkan batas kecepatan agar kita tidak tersesat, celaka dan salah arah, sehingga bisa selamat menemui destinasi. Saatnya kita untuk saling mengunjungi diantara saudara tanpa harus menunggu tahun baru tiba.

Buat anda yang telah bersumpah ‘mardomu di tano na rara’ Mari belajarlah dari Afes bukalah pintu maaf, cintailah mereka dengan setulus hatimu, dan percayalah dengan cinta anda akan menemukan ketenangan dan kedamaian dan ketika cinta anda berbalas, maka anda akan menjadi manusia yang berbahagia Dan untuk itu semua, marilah kita sama sama berdoa Tuhan, jika besok kami menghadapmu, biarlah kami mati diantara cinta…

Sumber : http://www.sukubatak.com