BELAJAR DARI AFES HUTAURUK

Afes Hutauruk bersama adiknya yang menderita HIVTerus terang, hati dan dada saya begitu bergetar ketika membaca berita mengenai seorang anak yang baru berumur 12 tahun yang berjuang dengan begitu tulus untuk merawat adiknya Ucok(bukan nama sebenarnya) yang menderita penyakit HIV. Dia seorang manusia kecil yang ditinggal mati oleh ibunya akibat penyakit yang sama. Ayahnya yang diduga orang yang menularkan penyakit HIV tersebut justru pergi dan meninggalkan mereka.

Jadilah Afes Hutauruk, anak yang yang seharusnya sedang menikmati masa kecilnya dan bermain main di luar sana bersama teman-temanya, tiba-tiba harus berubah menjadi seorang kepala keluarga, sebab disamping Ucok yang sedang sakit, Afes Juga harus mengurusi dua orang adeknya yang lain, Sonya Hutauruk dan Ruth Tania Hutauruk.

Sungguh. Dalam getar-getar keharuan ini saya menyaksikan Demonstrasi ketulusan dan keteguhan hati seorang manusia, Betapa tidak, Afes dan adiknya yang telah lelah menderita ini, harus diusir pula dari kampung halamannya Dusun Hutabagasan, karena warga seisi kampung itu takut tertular. Tak punya pilihan lain, Afes dan adik-adiknya pun pergi ke rumah neneknya di kawasan Toba Samosir. Setiba disana penderitaan malah semakin lengkap, kehadiran mereka juga tidak diterima sama warga sekitar, dan diusir juga dari kampung itu. Akhirnya sang nenek dan tantenya, El Boru Hutauruk membawa Ucok yang kondisinya sudah makin parah ke RS Pirngadie, Medan.

Ucok adik Afes sedang terbaring

Saya benar benar kagum pada Afes, seorang manusia yang mau berkorban dan memiliki hati yang tulus. Dengan rela meninggalkan sekolahnya di kelas 5, Sekolah Dasar setempat demi adiknya ucok. ‘Saya yang minta berhenti kok, saya ingin merawat adik saya sampai sembuh’ ujarnya ketika ada yang bertanya kenapa dia tidak sekolah lagi.

Ketika saya menulis ini, mungkin dia sedang menyuapi adiknya, sebuah kebiasaan yang sudah lama dia lakukan. Ucok memang harus disuapin dan dibantu untuk bisa duduk, badannya sudah tinggal Tulang dan kulit saja, terlihat sangat kurus dan lemah. Tapi Afes terlihat begitu senang merawat adiknya, ‘Ucok ini memang bandel kak, suka narik narik infusnya, makanya tangannya di ikat sama susternya’ tutur Afes sambil tersenyum pada adiknya. Senyum yang menunjukkan kasih sayang seorang Abang.

Melihat Afes kadang membuat saya merenung, betapa bedanya sifat si Afes ini dengan sifat teman teman saya sesama batak. Dimana banyak diantara teman saya tersebut sudah saling tak peduli pada saudara, padahal adat batak mengajarkan kita tentang norma dan etika. Tahukah anda bahwa begitu banyak didalam keluarga orang batak yang saling bersumpah bahwa hanya akan ‘mardomu di tano na rara’, hanya karena perbedaan perbedaan ideologi dan bahkan kadang hanya karena perbedaan pemahaman ketika menyelenggarakan sebuah pesta adat .

Dan orang orang seperti ini biasanya tidak pernah mau intropeksi diri, selalu ingin dibenarkan dan merasa paling benar. Orang orang seperti ini akan selalu menceritakan permsalahannya dari sisinya saja, dan berkoar koar bahwa adiknya atau abangnya yang salah. Seolah olah ketika ada orang yang membela dan membenarkan dia, maka dia akan mendapatkan buah kebenaran sehingga layak untuk ditinggikan TUHAN. Afes bercita cita jadi Dokter

Tapi Afes jelas berbeda, Berbuat baik baginya seperti sebuah pilihan hidup, bukan sekedar mencari sensasi untuk menguntungkan diri sendiri.  Ketika ada yang bertanya ‘apakah dia malu memiliki adik yang berpenyakit seperti ini’ dia langsung menjawab, ‘kenapa malu, bukankah semua ini adalah rencana Tuhan’ jawabnya dengan tegas tanpa sedikitpun keraguan.

Sekarang ini Afes dan adik adiknya memang harus kita kasihani, dan sayapun mendukung penggalangan dana dari teman teman untuk bisa sekedar berbagi.

Tapi dalam hal menjalani hidup kita harus banyak belajar dari si Afes. Dalam dunia yang serba sulit sekarang ini, perjuangan dalam mencari kehidupan memang bukan main melelahkan, saking lelahnya kadang kadang kitapun lupa akan teman dan saudara.

Ada yang sukses dan berhasil, tapi hidup dalam kesepian
Ada yang kaya dan terhormat, tapi hidup tanpa kasih sayang
Bersama sang waktu, dalam perjalanan panjang setiap orang, kadang kita akan akan menemui persimpangan jalan, saatnya kita berhenti sejenak, menurunkan batas kecepatan agar kita tidak tersesat, celaka dan salah arah, sehingga bisa selamat menemui destinasi. Saatnya kita untuk saling mengunjungi diantara saudara tanpa harus menunggu tahun baru tiba.

Buat anda yang telah bersumpah ‘mardomu di tano na rara’ Mari belajarlah dari Afes bukalah pintu maaf, cintailah mereka dengan setulus hatimu, dan percayalah dengan cinta anda akan menemukan ketenangan dan kedamaian dan ketika cinta anda berbalas, maka anda akan menjadi manusia yang berbahagia Dan untuk itu semua, marilah kita sama sama berdoa Tuhan, jika besok kami menghadapmu, biarlah kami mati diantara cinta…

Sumber : http://www.sukubatak.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: