BERBAGAI PENILAIAN TERHADAP ORANG BATAK

1. Orang Batak menurut Paranormal Permadi, SH.

( Majalah Bona ni Pinasa, Maret 1995 )

Memang di situlah anehnya. Orang Batak itu kasar dan brutal, tetapi hatinya halus. Makanya lagu-lagu Batak itu ”nangis manganung”. Semua merintih. Jadi orang Batak itu sebenarnya cengeng, fisiknya saja yang kuat. Itulah yang mendekatkan saya dengan Batak. Kita punya persamaan.

Bagaimanapun, penilaian Permadi diwarnai nuansa negatif dan positif. Kesan positif itu antara lain sifat bekerja keras, habis-habisan siang malam. Tetapi sisi lain, orang Batak juga menunjukkan sifat tak sabaran, cenderung menempuh jalan pintas dan malas, apalagi kalau dalam keadaan menganggur.

Kelihatannya, orang Batak itu sulit menciptakan pekerjaan. Dia harus diberi pekerjaan. Dan sesudah pekerjaan diperoleh, dia akan benar-benar bekerja keras, banting tulang. Tetapi kalau tak ada pekerjaan, mereka malas-malasan, akhirnya main judi, minum-minum di warung atau lapo tuak. Jadi, orang Batak suka pekerjaan- pekerjaan keras yang dipercayakan kepadanya, makanya, seperti di Jakarta ini, banyak yang menjadi kuli atau kondektur.

Sifat positif kedua ialah sifat gotong royong. Tetapi bila kadar sifat ini telalu tinggi, akhirnya bisa berakibat negatif. Misalnya, begitu ada seorang Batak menjadi pejabat, maka bagaikan semut, semua kerabatnya akan mengerubunginya. Kadang muncullah sifat kurang terpuji. Bila si pejabat tidak memberi sesuai dengan harapan, lalu diomongin dan dibilang sombong.

Kejujuran, keterbukaan, dan sikap terus terang, termasuk dalam mengkritik orang lain, juga dinilai Permadi sebagai sifat yang positif. Tetapi sifat yang sangat positif ini telah tenggelam menjadi tidak positif karena dominasi Jawa yang marah kalau dikritik terus terang. Keadaan bukannya balance, tapi orang Batak justru banyak yang ketularan orang Jawa. Sifat ketularan ini dengan jelas terlihat pada seorang Batak yang menjadi pejabat- dan banyak pejabat orang Batak yang beristrikan orang Jawa.

Si Batak yang menjadi pejabat ini akan ikut-ikutan budaya Jawa. Kalau ketemu pejabat, dia akan megang burungnya, ngomong dengan menunduk, tidak mau lagi melihat wajah lawan bicara.

Mantan menteri Kehutanan Hasjrul Haahap pernah pernah mengkritik saya. Katanya; kau ini aneh, kau yang jadi Batak, saya jadi Jawa. Tetapi setelah ia tidak menteri lagi, ia kembali menajdi Batak, ha ha ha…

Sementara itu, sifat sombong, gengsi dan harga diri orang Batak yang tinggi itu dinilai relatif oleh Permadi. Tergantung pada kemampuan seseorang menempatkan posisinya. Bisa positif bisa negatif. Sebab, harga diri yang tinggi itu sebenarnya positif. Untuk bisa melakukan tawar-menawar ( bargaining position) diperlukan harga diri yang tinggi atau kesombongan yang benar. Tetapi celakanya, justru terjadi di sini, orang Batak sering meremehkan ( prestasi atau kemampuan) orang lain. Padahal kalau diberi kesempatan, belum tentu bisa dia mencapai prestasi seperti itu.

Gaya hidup seperti raja ( walaupun miskin), suka memerintah orang, ngutang demi gengsi dan berpikir pendek juga merupakan ekses negatif dari harga diri yang tinggi itu. Saya tahu banyak orang Batak yang mengutang demi gengsi. Tak peduli, yang penting bisa hidup seperti raja karena memang semua lelaki Batak suatu saat akan menjadi raja. Jadi, dalam hal ini ada kesalahan dalam mengappresiasi nilai-nilai budaya.

Permadi menegaskan, dalam pembangunan kebudayaan nasional yang besifat Bhinneka Tungal Ika, budaya Batak adalah aset nasional. Oleh karena itu, nilai-nilai budaya Batak yang unggul harus diinventarisasi dan dikembangkan.

Kita tahu, di bidang seni, Batak itu unggul. Di bidang sumber daya alam, wilayah Tanah Batak juga sangat kaya. Tidak ada tanah sesubur itu, terutama dalam bidang perkebunan, seperti kopi, teh, karet. Tetapi yng memprihatinkan, rakyatnya miskin, itu karena mereka kurang kreatif. Kalau di Jawa, tanah koong seperti itu pasti sudah jadi sawah atau perkebunan.

Permadi menyarankan agar potensi kekayaan alam dan budaya dikembangkan dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Rakyat harus diberi kesempatan untuk mengolah tanahnya sendiri, jangan justru diserahkan kepada orang luar.

2. Penilaian lainnya

Hasil pengamatan Eliakim Tambunan :

Budaya Parhobas sedang luntur : Lunturnya budaya memberikan pelayanan ” parhobas” ini sudah terasa merambat ke kalangan aparat pemerintah daerah. Misalnya jika bicara tentang mempersiapkan data keperluan proposal proyek, aparat bersangkutan tidak lekas tergerak kalau merasa pelaksanaan proyek itu nantinya jatuh ke tangan orang lain, atau bukan kelompoknya yang mengerjakannya. Ini bekaitan dengan sifat ”elat” atau tidak suka kalau orang lain mendapat rezeki.

DR. Meyer Siahaan :

Pola Hidup Konsumtif sudah masuk desa :

Gejalanya: Generasi muda di Bonapasogit makin banyak nongkrong di lapo tuak berlama-lama, dan uang yang dibelanjakan lebih banyak dari pendapatannya. Kemudian, untuk menempuh jarak hanya 3-5 km tidak mau lagi berjalan kaki, langsung naik angkot. Orang yang diajak bekerjasama ( bermitra) langsung menuntut ada sepeda motor

Prof. DR. Midian Sirait :

Mempertanyakan, apakah sesungguhnya masih ada kebudayaan Batak itu?

Memperhatikan kalau hari Minggu, anak-anak muda bukannya pergi beribadah ke Gereja, tetapi lebih senang pergi nonton. Pada hari-hari biasa, belum waktunya pulang sekolah, tetapi sudah nongkrong di jembatan. Kepala kampung lulusan SMA, tetapi kerjanya hanya main catur di lapo Tuak. Raja-raja adat tidak berprilaku seperti raja, kecuali di waktu pesta perkawinan, Dia tidak panutan lagi, sudah kehilangan wibawa. Begitu juga para pengurus Gereja, kenapa terus berkelahi ? Jadi sepertinya tidak ada lagi yang pedulu tentang nilai-nilai budaya Batak.

Drs. Jhonson Pardosi ( Staf Pengajar Program Studi Sastra Batak- USU):

Di kota-kota besar, sudah jarang generasi muda Batak Toba yang dapat berbahasa Batak. Mereka tidak mengerti kalau tonggo-tonggo itu adalah bentuk doa dan andung itu bukan ratapan semata. Mereka hanya tahu kalau tonggo-tonggo itu hanya merupakan doa untuk roh-roh jahat dan untuk roh nenek moyang.

Padahal kalau disaksikan di lapangan, misalnya dalam hal penggunaan tonggo-tonggo dalam acara keagamaan ( Parmalim, Parbaringin dan Si Raja Batak) tidak sama dengan tonggo-tonggo yang dipakai dalam acara horja atau pesta besar. Begitu juga dengan andung, bukan hanya ratapan karena kematian, kepedihan hati, penyesalan dan kebahagiaan. Tetapi masih ada yang disebut andung paragat, andung parmahan, andung parhaminjon ( andung penyadap nira, gembala kerbau, dan penyadap kemenyaan) yang semuanya itu bagian dari budaya.

Bah! Lebih parah lagi, banyak para tua-tua adat yang tidak tahu membedakan antara Umpama dengan Umpasa.

Kesimpulan :

Artikel ini ditujukan kepada kita orang Batak, apakah sekarang orang batak seperti tanggapan orang-orang tersebut diatas, banyak tanggapan yang negatif tentang orang Batak.

Kita tidak perlu marah atau sakit hati bila membaca tanggapan mereka, marilah kita introspeksi diri kita sendiri, apakah benar kenyataan seperti itu, kalau memang benar, marilah kita mulai sekarang mencintai budaya kita sendiri, memelihara adat-istiadat yang tidak bertentangan dengan agama yang kita anut dan kehidupan sosial bermasyarakat, jangan malu mengaku sebagai orang batak, Batak orangnya keras tapi hatinya lembut itu sudah banyak orang tahu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: