Bab. V.6. Pertemuan Silahisabungan dengan Raja Parultop

Setelah  berbulan – bulan Silahisabungan timggal di Silalahi, dia dikejutkan dengan suatu peristiwa yang membawa berkah bagi hidupnya. Pada suatu hari seorang raja Pakpak bernama Raja parultop berburu atau menyumpit burung dihutan Simarnasar diatas Silalahi Nabolak. Sewaktu Raja Parultop menyumpit seekor burung elang ( lail ), paha elang itu kena, sehingga tidak mati. Burung elang itu kembali terbang. Raja Parultop mengejar, tetapi begitu didekati burung itu kembali terbang. Demikianlah berulang – ulang, akhirnya Raja Parultop tiba diatas bukit Silalahi Nabolak.

Pada waktu Raja Parultop mengejar kebukit Silalahi, burung elang itu terbang menuju pulau Samosir melalui Tao Silalahi yang sangat luas itu. Rupanya burung elang itu tidak sanggup terbang ke samosir lalu kembali kepantai Silalahi dan hinggap dekat pondok Silahisabungan (Terkenalnya Tao Silalahi dari cerita ini artinya Tao na so boi di habangi lali). Burung elag itu mudah ditangkapnya karena sudah lelah. Raja Parultop yang memperhatikan burung elang itu kembali dan hinggap dipantai Silalahi, dia bertekat akan menangkap burung elang itu hidup atau mati, walaupun hari sudah senja. Raja Parultop menuruni bukit Silalahi dan terus mencari tempat hinggapnya burung elang itu.

Raja parultop tercengang melihat sorang pemuda duduk diatas pondok sambil memengang burung elang yang disumpitnya tadi. Dengan rasa geram dan marah Raja Parultop berkata : “ Hei, siapa kamu yang berani tinggal ditanah milikku ini ? aku adalah raja Pakapak yang berkuasa sampai kepantai danau ini. Mari burung elang yang kau pegang itu, kau perlu dihukum dan diusir dari tempat ini, “ katanya.

Silahisabungan mendududki tanah yang dibawa dari Balige dan mengambil air yang dibawa dari Mual Siguti, lalu dengan sopan santun dan cukup berwibawa, menjawab : “ Raja Pakpak yang mulia, saya tidak bersalah, ucapan raja  yang mengada – ngada. Saya berani sumpah, bahwa tanah yang saya duduki ini adalah tanahku dan air yang saya minum ini adalah airku, “ lalu meneguk air dari kendi ( tabu – tabu ) yang dibawanya dari Mual Siguti.

Kemudian Silahisabungan berkata : “ Natipniptip sanggar mambahen huru – huruan, jumolo sinungkun marga asa binoto partuturan, ia goarhu sude jolma baoa mamboan. Na manungkun ma ahu marga aha ma amang ? lalu menyalam Raja parultop dengan hormat.

Mendengar ucapan sumpah Silahisabungan dan tutur katanya yang menawan, amarah Raja Parultop jadi hilang dan menjawab dengan ramah : “ goarmu sude jolma baoa maboan, goarhu pe denggan ma paboaon, I ma ula – ulangku ari marga Padangbatanghri na domu tu marga panasaribu. “ katanya.

Mereka tidak menyebutkan nama masing – masing dengan jelas. Tetapi sudah sama – sama mengerti. ( sude jolma baoa mamboan, maksudnya ia bernama Silahi = anak laki – laki, ula ulangku siganup ari atau pekerjaan setiap hari, maksidnya ia bernama Parultop, orang yang berburu dengan sumpit.)

Kemudian Silahisabungan berkata :”horas ma tulang,aiinongku pe boru pasaribu do,” (horas paman,ibuku pun boru pasaribu) katanya sambil mempersilahkan raja [parultop naik kegubuk karena hari sudah mulai gelap,silahisabungan mengajak raja parul-top bermalam digubuk itu. Ajakan Silahisabungan diterimanya dengan senang hati agar mereka dapat bercakap – cakap sepanjang malam.

Setelah makan mereka asik bercakap – ckap sampai larut malam. Dalam percakapan mereka Raja Parultop menanya dimana istri dan keluarga Silahisabungan. Dijawabnya bahwa istrinya belum ada. Dia masih perjaka belum pernah berumah tangga. Mendengar tutur kata dan sopan santun dari Silahisabungan , Raja ingin bermenentukan Silahisabungan lalu berkata : “ ada putriku 7 orang. Semuanya sudah anak gadis kalau kau berkenan menjadi menantuku besok kita pergi ke Balla. Pilih salah satu putriku menjadi istrimu. Dengan syarat tidak boleh dimadu ( na so marimbang ) sepanjang hidupmu “Silahisabungan menyambut dengan senang hati, lalu berkata “ mana mungkin saya berani ke Balla. Kalau tidak memenuhi adat istiadat. Sedang hidupku hanya sebatang kara. Kumohon , janganlah alang kepalang kasih sayang pamanlah membawa paribanku itu kemari, supaya disini saya pilih “.

Alasan Silahisabungan masuk akal Raja Parultop, akhirnya menerima permintaan calon menantunya. Kemudian menetapkan hari dan tanggal pertemuan sekaligus perkawinannya. kemudian mereka sama-sama minta tidur karena sudah lelah sepanjang hari.

Silahisabungan tidak dapat tidur memikirkan dan membayangkan putri Raja itu. Bagaimana cara memilihnya kalau benar 7 orang putrid raja. Dengan diam – diam membuka Lak –lak Tumbaga Holing untuk melihat petunjuk. Dalam petunjuk dilihatnya putrid raja hanya seorang. Kenapa dikatakan 7 orang ?

Rupanya Raja Parultop pun tidak tidur sepanjang malam itu dengan pura – pura tidur diintipnya gerak – gerik Silahisabungan. Diketahuilah bahwa Silahisabungan adalah Datuk Bolon, bukan sembarang orang. besoknya silahisabungan memberangkatkan raja parultop pulang ke Balla dengan oleh-oleh ihan Batak,lalu berkata;” kalau rombongan paman datang terlebih dahulu nyalakan api diatas bukit sana,kemudian akan saya nyalakan api dibawah ini tanda saya sudah siap menyambut.setelah rampung semua perjanjian mereka raja Parultop pulang ke Balla dengan membawa banyak ihan Batak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: