Bab. V.8. Keturunan Silahisabungan Dari Pinggan Matio

Pada suatu hari pergilah silahisabungan Bersama Pinggan Matio boru padangbatanghari kekampung mertuanya di Balla. Sewaktu  mendaki bukit silalahi,isterinya yang sudah hamil tua mulai merasa dahaga. Rasa penat mulai terasa, sehingga mereka mengaso dilereng bukit yang terjal. Rasa haus pinggan Matio mulai mendesak dan karena capeknya ia bersenandung dengan sedih : “ Loja ma boruadi mamboan tua sian mulajadi, mauas ma tolonan ndang adong mangubati. Jonok do berengon sillumalan na so dundungonki, boha do parsahatku tu hota ni damang parsinuan, dainang pangintubu I, “ katanya. ( sudah lelah aku membawa kandungan, rasa haus tak ada mengobati. Nampak dekat air danau tetapi tak boleh terjangkau, apakah aku sampai dikampung orang tuaku. )

Mendengar keluhan istriku, Silahisabungan mengambil Siorlombing ( tombak ) dari kantongannya, lalu berdoa kepada Mulajadi Nabolon agar diberikan air penghidupan ( mual sipaulak Hosa ) karena Pinggan Matio merasa haus,kemudian silalahisabungan menancapkan Siorlombinmgngnya ke dinding batu terjal dan keluarlah air, lalu diminum Pinggan Matio sepus puasnya, Air itulah yang di sebut” Mual Sipaulak hosa, ”yang terdapat dilereng bukit Silalalahi Nabolok. Setelah rasa haus hilang dan tenaga mulai pulih, mereka meneruskan perjalanan kekampung mertuanya di Balla.

Kedatangan Silalahisabung dan Pinggan Matio disambut keluarga Raja Parultop dengan gembira apalagi setelah dilihat putrinya sudah hamil tua.

Karena pinggan Matio sudahhamil tua, mertua Silahisabungan meminta agar putrinya tinggal di Balla menunggu kelahiran anaknya, karena Silalahi tidak ada teman mereka membantu.

Setelah beberapa bulan mereka tinggal di Balla, Pinggan Matio melahirkan seorang anak Laki – laki. Silahisabungan merasa gembira dan bersyukur karena dia sudah menjadi seorang ayah. Begitu juga Raja Parultop dan istrinya merasa berbahagia karena sudah ada cucu dari putrinya Pinggan Matio. Mereka berencana untuk mengadakan perhelatan besar sambil membuat nama cucunya itu. Rencana itu diberitahukan kepada menantunya Silahisabungan, yang disambut dengan senang hati.

Raja Parultop mengundang Raja – Raja dan penduduk negeri untuk menerima adat dari Silahisabungan sambil menobatkan nama cucu yang baru lahir. Pada pesta perhelatan itu Raja Parultop berkata : “ bapak dan ibu yang kami hormati, sudah lebih satu tahun puteri kami Pinggan Matio berumah tangga dengan Silahisabungan dan telah dianugerahi Tuhan seorang anak laki – laki. Selama ini kami merasa ragu – ragu karena belum terlaksana adapt yang berlaku. Hari ini tibalah saatnya anak menantu kami membayar adat sekali gus memberi nama cucu yang baru lahir dan menobatkan ayahnya menjadi Raja.”

Kemudian Raja Parultop mengatakan : “ Nunga lolo raja,  jalanunga loho roha, hubanen ma goar ni pahompu on Si Lohoraja.” ( Sudah berkumpul semua Raja, sudah bulat dan puas pikiran = Loho roha kuberikan nama cucuku ini Si Lohoraja), katanya. Beberapa minggu setelah pesta, Raja Silahisabungandengan istrinya Pinggan Matio kembali ke Silalahi Nabolak. Putera sulung Si Lohoraja kemudian dojodohkan ( dipaorohan dengan putri pamannya Rahim Bani boru Padangbatanghari.

Selama dua tahun mereka tidak pernah lagi datang ke Balla. Karena sudah dua tahun tak pernah datang Raja Silahisabungan dan Pinggan Matio ke Balla, rasa kangen dan rindu Raja Parultop timbul lalu berkata kepada istrinya : “ Sitingkir jolo borunta tu silalahi, (aku sudah rindu] katanya. Bertepatan dengan kehadiran Raja Parultop di Silalahi Pinggan Matio, melahirkan anak kedua seorang laki – laki. Kemudian anak itu diberi nama Tingkir raja atau Tungkirraja.

Pada suatu ketika  Raja silahisabungan bertukang membuat tempat tidur ( rusbang ) dari kayu bulat yang disebut “Sondi” Setelah tempat tidur selesai dikerjakan , Pinggan Matio melahirkan anak ketiga seorang laki – laki, yang kemudian diberi nama Sondiraja. Raja Silahisabungn nampak bergembira karena telah mempunyai tiga orang anak laki – laki , tetapi Pinggan Matio terasa kurang bergairah karena belum diberikan Tuhan anak perempuan.

Hati pinggan matio yang gundah gulana diperhatikan Raja Silahisabungan, lalu ia pergi bersemedi kegua Batu diatas Huta Lahi. Dia memohon kepada Mulajadi Nabolon agar mereka diberikan seorang anak perempuan. Idaman Pinggan Matio dan Permohonan Raja Silahisabungan dikabulkan Mulajadi Nabolon. Pinggan Matio melahirkan anak keempat seorang perempuan, lalu ia berkata : “ Nunga Gabe jala mamora ahu, hubahen ma goar ni borunta on Deang Namora,” ( Sudah bahagia dan kaya aku, kuberikan nama Puteri kita Deang Namora = Kaya) katanya kepada Raja Silahisabungan dengan Suka cita. Raja Silahisabungan juga merasa bahagia karena permintaannya terkabulkan.

Kemudian Pinggan Matio melahirkan anak kelima, seorang anak laki – laki. Pada waktu kelahiran anak kelima ini, raja Silahisabungan baru mengganti atap rumah yang terbuat dari kayu butar. Oleh karena itu mereka membuat nama anak kelima ini Baturraja atau Sidabutar/Sinabutar.

Pada waktu kelahiran anak keenam, Raja Silahisabungan sedang berada di pulau Samosir untuk mencari tanah kosong menjadi milik keturunannya kelak. Tanah itu kemudian disebut “Luat Parbaba.” Setelah Raja Silahisabungan kembali dari seberang (Bariba) dijumpainya telah lahir seorang anak laki-laki. Karena ia baru tiba dari Bariba ( seberang ) maka diberilah nama anak itu Dabaribaraja atau Sidabariba.

Kelahiran anak Raja Silahisabungan yang ketujuh ditandai dengan terjadinya peristiwa alam. Pada saat Pinggan Matio melahirkan, turun hujan lebat sehingga terjadi tenah longsor ( tano bongbong ) di Silalahi Nabolak. Karena Tano Bongbong ( Tanah Longsor ) itu mengagetkan Raja Silahisabungan dan Pinggan Matio, maka mereka membuat nama laki – laki yang baru lahir itu Debongraja = Debangraja atau Sedebang.

Anak Raja Silahisabungan yang kedelapan bernama Baturaja atau Pintubatu. Pada waktu kelahiran anak bungsu Pinggan Matio ini, Raja Silahisabungan sedang bersemedi di Gua batu diatas Huta Lahi. Saat melahirkan itu, Pinggan Matio merasa lelah karena Faktor usia, sehingga mengerang minta bantuan. Lohoraja yang melihat ibunya mengerang pergi mamanggil Raja Silahisabungan. Raja Silahisabungan buat obat salusu ( obat penambah tenaga ), Boru Pinggan Matio melahirkan seorang anak Laki – laki. Karena Silahisabungan dipanggil dari Gua Batu maka diberilah nama anak itu Baturaja atau Pintubatu. Dengan kelahiran Baturaja maka anak Raja Silahisabungan dari Pinggan Matio boru Padangbatanghari berjumlah delapan orang, tujuh orang anak laki – laki dan seorang puteri.

Semenjak kelahiran Baturaja, Raja Silahisabungan selalu manandanghon Hadatuon (Bertanding ilmu ) ke Samosir, Simalungun dan Tanah Karo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: