Bab. V.10. Poda sagu–sagu Marlangan

Dengan mempergunakan Silompit dalan dan berlayar didaun sumpit, pada sore harinya Raja Silahisabungan telah tiba di Silalahi Nabolak. Begitu sampai dirumah tas hadang –hadangan terus ditaruh di atas para – para dan raja Silahisabungan duduk bersandar dengan muka murung. Melihat kejadian itu Pinggan Matio dan anak – anaknya tidak berani bertanya apa yang terjadi

Pada keesokan harinya pada waktu Raja Silahisabungan pergi memeriksa ladangnya, Pinggan Matio mendengar suara bayi menangis di atas Para – para lalu memeriksa tas hadang – hadangan Raja Silahisabungan. Pinggan Matio terkejut melihat seorang bayi yang cantik mungil didalamnya, kemudian memangku dan menimang – nimangnya agar tidak menangis lagi. Setelah Raja Silahisabungan kembali kerumah, istrinya Pinggan Matio bertanya :” amang Raja Nami, dari mana bayi lelaki yang cantik mungil ini? Katanya dengan ramah. Dengan suara yang lembut Raja Silahisabungan menerangkan asal – usul anak itu dan meminta agar memaafkan perbuatannya. Mendengar keterangan suami yang penuh kasih saying, Pinggan Matio berkata : “ Sudah Tambun ( Tambah ) anakku dan inilah anak bungsuku maka saya beri namanya Tambun Raja, “ katanya sambil mendekap dan menimang – nimang bayi itu. Mendengar pernyataan Pinggan Matio, Perasaan Raja Silahisabungan menjadi Lega.

Kasih saying ibu Pinggan Matio kepada  anak bungsunya Tambun Raja sungguh berlebihan sehingga menimbulkan Iri hati abang – abangnya. Raja Silahisabungan dan ibu Pinggan Matio sangat memanjakan Sitambunraja, yang kemudian terkenal Siraja Tambun. Pada suatu ketika Raja Silahisabungan mengadakan pembagian tanah ( Tano Golan ) kepada anak – anaknya agar jangan terjadi persoalan dikemudian hari. Dalam pembagian itu Siraja Tambun mendapat tanah yang paling luas dan subur yang mengakibatkan kecemburuan abang – abangnya.

Pada suatu hari terjadi pertengkaran antara siraja Tambun dengan salah seorang abangnya. Dalam pertengkaran itu terungkap kata – kata yang menyakitkan hatinya : “ hai raja tambun, kau jangan manja dan sombong. Kau bukan adik kami, entah dimana ibumu kami tak tau, “ kata abangnya itu. Mendengar ucapan yang memilukan itu, Siraja Tambunpun menangis tersedu – sedu dan mengadu kepada ibunya. Ibu Pinggan Matio mengusap usap anaknya itu dengan kasih sayang dan mengatakan :” jangan dengarkan kata – kata abangmu itu. Aku adalah ibumu yang membesarkan kau sejak kecil, “ katanya. Tetapi setiap timbul pertengkaran dengan abangnya selalu didengarnya kata – kata yang menyayat hatinya, akhirnya Siraja Tambun memberanikan diri bertanya kepada ayahnya : ” Ayah, siapakah ibu yang melahirkan saya dan dimana pamanku ?” raja Silahisabungan menjawab dengan ramah dan penuh kasih sayang :“ anakku tersayang, ibumu adalah Pinggan Matio yang membesarkan dan menyusukan kau sejak kecil, :” katanya .

Karena tindakan dan perbuatan abangnya semakin menyakitkan, maka Siraja tambun dengan tegas bertanya: “ ayah jangan berdusta lagi, siapa sebenarnya ibu yang melahirkan saya ? “ katanya dengan nada mengancam dihadapan pinggan matio. Raja Silahisabungan dan Pinggan Matio saling berpandangan lalu menjawab :” anakku tercinta, ibumu adalah Siboru Nailing Putri Raja Mangarerak di Sibisa, Bila kau ingin dan rindu menjumpainya, biar ku antar nanti dengan baik,:” katanya dengan membujuk.

Kemudian Raja Silahisabungan menyuruh Pinggan Matio menempa Sagu – sagu Marlangan berbentuk manusia yang ditaruh di kedalaman ampang ( Sejenis bakul ). Mereka pergi kemaras dan dibentangkanlah tikar tempat mereka duduk. Raja Silahisabungan, Pinggan Matio bersama Daeng Namora duduk menghadap ampang berisi Sagu – sagu marlangan, lalu disuruhnya Lohoraja, Sondiraja, Dabaribaraja, dan Batu raja duduk disebelah kanannya. Tungki Raja, Batu Raja dan Debang Raja disuruhnya duduk disebelah kiri mereka. Sedang Siraja Tambun disuruh duduk dimukanya sama – sama menghadap ampang berisi Sagu – sagu Marlangan. Stelah mereka duduk mengelilingi ampang berisi sagu-  sagu marlangan itu Raja Silahisabungan berdiri dan berdoa kepada Mula Jadi Nabolon, lalu menyampaikan pesan ( wasiat ) yang kemudian terkenal dengan nama “ PODA SAGU – SAGU MARLANGAN “. Isi Poda sagu – sagu marlangan tersebut adalah sebagai berikut. :

HAMU ANAKKU NA UALU :

  1. INGKON MASIHANOLONGAN MA HAMU SAMA HAMU RO DI POMPARANMU, SISADA ANAK SISADA BORU NA SO TUPA MASIOLIAN, TARLUMBI POMPARANMU NA PITU DOHOT POMPARANMU SI TAMBUN ON.
  2. INGKON HUMOLONG ROHAMU NA PITU DOHOTPOMPARANMU TU BORU POMPARAN NI ANGGIMU SI TAMBUN ON, SUWANG SONGON I NANG HO TAMBUN DOHOTPOMPARANMU INKON KUMOLONG ROHAM DI BORU POMPARAN NI HAHAM NA PITU ON.
  3. TONGKA DOHONONMU NA UALU NA SO SAINA KAMU TU PUDIAN NI ARI.
  4. TONGKA PUNGKAON BADA MANANG SALISI TU ARI NA NAENG RO
  5. MOLO ADONG MARBADAKAN MANANG PARSALISIHAN DI HAMU, INGKON SIAN TONGA – TONGAMU MASI TAPI TOLA, SIBAHEN UMUM NA TINGKOS NA SOJADI MARDINKAN, JALA NA SO TUPA SALAK NA HASING PASAEHON.

Kemudian Raja Silahisabungan duduk dan menyuruh anak-naknya menjamah sagu – sagu marlangan itu tanda kesetiaan dan ikrar yang harus djunjung hingga. ke 8 anak Raja Silahisabungan menjamah Sagu – sagu marlangan itu dan berkata : ” Sai dipergogoi Mulajadi Nabolon ma hami dohot pomparanmi mangulahon poda na nilehonmi amang,” katanya mereka bergantian. Kemudian Raja Silahisabungan berkata, barang siapa yang melanggar wasiat ini seperti sagu – sagu marlangan inilah tidak berketuruna, ingkop mago jala pupur.” Katanya.

Setelah acara dimaras Simarampang selesai, Raja Silahisabungan bersama istrinya dan putera putrinya kembali lagi ke Huta Lahi untuk mempersiapkan bekal Siraja Tambun diperjalanan. Pada saat itulah Raja Silahisabungan memberikan “ barang homitan hadatuon “ kepada Siraja Tambun. Kemudian Siraja Tambun bersalam – salaman dengan abang – abangnya sambil saling memberikan doa restu. Sewaktu menyalam Pinggan Matio, ibunya itu mendekap Siraja Tambun dan berkata :” Unang lupa ho amang di au inangmu na patarus – tarus dohot na pagodang – godang ho, “ katanya sambil mendoakan semoga Siraja Tambun selamat dan berbahagia kelak.

Mendengar kata – kata Pinggan Matio, Itona ( saudarinya) Deang Namora menangis lalu merangkul dan mencium Siraja Tambun. Dengan rasa pilu dan sedih ia berkata :”borhat ma ito tu huta ni tulangta. Na denggan I ma paboa tu inang pangintubu, gabe jala horas ma ho amang na burju,” katanya dengan terisak- isak. Setelah itu berangkatlah Siraja Tambun diantar Raja Silahisabungan ke Sibisa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: