Mamoholi

APABILA satu keluarga dekat kita melahirkan seorang anak, kita akan turut merasakan sukacita yang besar sebagaimana yang dialami keluarga dekat itu. Pada umumnya kita akan menyatakan sukacita itu dengan datang berkunjung ke rumah keluarga itu dengan membawa beras (parbue si pir ni tondi sesuai dengan kepantasannya menurut posisi kekerabatan masing-masing) serta bentuk pemberian lain baik berupa makanan maupun uang. Didaerah-daerah rantau seperti Jabodetabek kita lebih sering ambil ringkasnya saja dengan meberikan uang sekadar untuk membeli keperluan si bayi yang baru lahir seperti sabun, bedak, susu atau lainnya.

Diwilayah adat Toba, mamoholi disebut manomu-nomu yang maksudnya adalah menyambut kedatangan (kelahiran) bayi yang dinanti-nantikan itu. Disamping itu juga dikenal istilah lain utuk tradisi ini sebagai memboan aek ni unte yang secara khusus digunakan bagi kunjungan dari keluarga hula-hula/tulang.

Pada hakikatnya tradisi mamoholi adalah sebuah bentuk nyata dari kehidupan masyarakat Batak tradisional di bona pasogit yang saling bertolong-tolongan (masiurupan). Seorang ibu yang baru melahirkan di kampung halaman, mungkin memerlukan istirahat paling tidak 10 hari sebelum dia mampu mempersiapkan makanannya sendiri. Dia masih harus berbaring di dekat tungku dapur untuk menghangatkan badanya dan disegi lain dia perlu makanan yang cukup bergizi untuk menjamin kelancaran air susu (ASI) bagi bayinya.

Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, maka saudara-saudara sekampung akan secara bergantian dari hari ke hari berikutnya mempersiapkan makanan bagi si ibu berupa nasi, lauk daging ayam atau ikan (na tinombur), jenis sayuran yang dipercaya membantu menambah produksi ASI (seperti bangun-bangun) dan lain-lain. Selain makanan siap saji, ada juga keluarga-keluarga yang membawa bahan makanan dalam bentuk mentah seperti beras, ayam hidup, ikan hidup dan yang lebih mentah lagi dalam bentuk uang. Sehingga paling sedikit untuk dua atau tiga bulan berikutnya si ibu yang baru melahirkan itu tidak perlu khawatir akan makanan yang ia butuhkan untuk merawat bayinya sebaik-baiknya sampai ia kuat untuk melakukan tugas-tugas kesehariannya.

Kunjungan pihak hulahula/tulang untuk menyatakan sukacita dan rasa syukur mereka atas kelahiran cucu itu adalah sesuatu yang khusus. Mungkin mereka akan datang beberapa hari setelah kelahiran bayi itu dalam rombongan lima atau enam keluarga yang masing-masing mempersiapkan makanan bawaannya, sehingga dapat dibayangkan berapa banyak makanan yang tersedia sekaligus.

Untuk menyambut dan menghormati kunjungan hulahula itu maka tuan rumah pun mengundang seluruh keluarga sekampungnya untuk bersama-sama menikmati makanan yang dibawa oleh rombongan hulahula itu. Setelah makan bersama, anggota rombongan hulahula akan menyampaikan kata-kata doa restu semoga si bayi yang baru lahir itu sehat-sehat, cepat besar dan dikemudian hari juga diikuti oleh adik-adik laki-laki maupun  perempuan

(band W Hutagalung, 1963: 245)

Kitab Boru Debata

Kitab ini berisikan tentang kehidupan wanita hingga memperoleh anak termasuk para putri titisan Allah juga mengenai para ratu air.

Laklak Boru Debata (Kitab Putri Mulajadi)
Selama satu tahun, manuk-manuk hulambu jati mengeram tiga ruas bambu, kemudian dari tiga ruas bambu tersebut keluarlah tiga orang wanita yang bernama :

  1. Siboru Porti Bulan
  2. Siboru Malinbindabini
  3. Siboru Anggasana

Kemudian Ompunta Mulajadi Nabolon bersabda : “ Wahai engkau Siboru Porti Bulan kawinlah engkau dengan Batara Guru ! , engkau boru Malimbindabini kawinlah engkau dengan Debata Sori ! , engkau Siboru Anggasana kawinlah engkau dengan Debata Bulan ” ! ” Aku akan memberitahukan kepada kalian bagaimana terjadinya manusia selama sembilan bulan dalam kandungan ibu dan tiga bulan di kandung ayah. Jika delapan bulan dalam kandungan ibu, maka empat bulan dikandung ayah, sebab terjadinya manusia harus setelah tiga kali Panenabolon singgah di empat desa mengelilingi bumi ini, lalu aku akan memberikan kuasa kepada kalian agar menguasai air beserta isinya. Uruslah anak-anakmu kelak dan bantulah manusia yang tidak mempunyai keturunan”. Pada jaman dahulu kala dokter spesialis kandungan belum ada. Yang ada hanya dukun beranak (Sibaso Nabolon) yang mengurus sejak dikandungan sampai dilahirkan.

1. Kodrat Kandungan
Menurut orang batak, khususnya Ugamo Malim terjadinya manusia menjalani rentang waktu selama dua belas bulan. Di dalam kandungan ibu hanya sembilan bulan, dimanakah tiga bulan lagi? Menurut orang batak yang tiga bulan lagi dikandungan ayahnya, sebab jika tidak bersemayam dalam kandungan ayahnya selama tiga bulan, bagaimanapun si ibu tidak akan mengandung.

Terjadinya manusia dalam sembilan bulan.

Bulan I

Benih tiga bulan dalam kandungan Ayah Benih kejadian dalam Ibu, Roh dari Rohani bercampur dengan Roh Jasmani ditambah kodrat Mulajadi berdiam dibumi suci di rahim ibu.

Bulan 2

Telah bertambah Debata na tolu dibumi suci mendapat getaran, Jika sudah ketemu berbentuk.

Bulan 3

telah berada dalam bumi suci, dan sudah dapat berdenyut. Tambahan Debata na tolu masuknya warna merah, putih, hitam

Bulan 4

Pada bulan keempat, sudah dalam proses pembentukan kulit. Pada saat ini Ibu mulai merasa mual, karena sudah mulai bergerak.

Bulan 5

Pada bulan kelima proses terjadinya otak manusia dalam bumi suci.

Bulan 6

Proses bulan keenam adalah proses terjadinya urat manusia dan sudah mulai bergerak.

Bulan 7


Pada bulan ketujuh proses terjadinya tulang (Disini tidak dijelaskan kapan terjadinya Bere)

Bulan 8

Pada bulan kedelapan bayi sudah hampir rampung dan sudah mulai bolak-balik, serta mulai terjadinya rambut.

Bulan 9
– Proses pemisahan air ketuban
– Proses pemisahan bungkus
– Proses pemisahan tali-tali
– Proses pemisahan darah pengiring maut
– Dan tinggal menunggu hari lahirnya.

Setelah sembilan bulan dalam kandungan maka bayi tersebut mulai berputar, selama tujuh hari, tiba pada hari ketujuh setelah bayi tersebut berputar tujuh kali, maka pintu bumi pun terbuka dan bayi tersebut keluar kemudian menangis memulai hidup ke zaman mulia.
Perlu kita ketahui bahwa selama hidup hanya satu kali kita bisa lihat wujud roh manusia yaitu ARI-ARI.

2. Asal Kesempurnaan Hidup

Oleh sebab itu maka kita harus mengetahui adanya manusia sempurna pada keadaan yang sejati, seperti sang makhluk yang pulang pada zamannya. Jika telah terdesak dialamnya sendiri dan telah berwujud satu, maka akan lahir kedunia setelah :

  • Cahaya gemilang turun kepada bayi.
  • Budi turun pulang kepada adjsan
  • Raksa turun pulang kepada miral
  • Rupa turun pulang kepada arwah
  • Warna turun pulang kepada wasdayat
  • Bau turun pulang kepada wahdat
  • Angan turun pulang kepada hadijat
  • Hidup turun pulang kepada insan

Insan sempurna terang benderang dari kodrat Debata Natolu adalah pria dan wanita. Manusia yang sempurna didalam hidup di bumi suci setelah memiliki :

  • Kulit – Rambut
  • Otak – Daging
  • Urat – Darah
  • Tulang – Sumsum

adapun empat saudara kelima darinya dalam wujud adalah :

  • Air tuban
  • Bungkus
  • Temburi (Ari-ari)
  • Darah pengiring budak
  • Pancar ( telah sempurna kepada kodrat Yang Maha Mulia selama-lamanya )
  • Hitam bernyala merah
  • Merah bernyala kuning
  • Kuning bernyala putih
  • Putih bernyala murni
  • Kulit bernyala daging
  • Kulit bernyala tulang
  • Tulang bernyala kawat (urat)
  • Urat bernyala cahaya ( kata nujum manusia sempurna di bumi suci )

TAHAP-TAHAPAN UPACARA SAUR MATUA

Upacara kematian pada masyarakat Batak Toba merupakan pengakuan bahwa masih ada kehidupan lain dibalik kehidupan di dunia ini. Adapun maksud dan tujuan masyarakat Batak Toba untuk mengadakan upacara kematian itu tentunya berlatar belakang kepercayaan tentang kehidupan .

Saur matua adalah orang yang meninggal dunia telah beranak cucu baik darianak laki-laki maupun anak perempuan. Saur artinya lengkap/sempurna dalam kekerabatan, telah beranak cucu. Karena yang telah meninggal itu adalah sempurna dalam kekerabatan, maka harus dilaksanakan dengan sempurna. Lain halnya dengan orang yang meninggal sari matua. Kalaupun suhut membuat acara adat sempurna sesuai dengan Adat Dalihan Na Tolu, hal seperti itu belum tentu dilakukan karena masih ada dari keturunannya belum sempurna dalam hal kekerabatan. Dalam melaksanakan sesuatu upacara harus melalui fase-fase (tahapan-tahapan) yang harus dilalui oleh setiap yang melaksanakannya.

Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalui adalah sebagai berikut:

1. Sebelum Upacara di Mulai

Dalam kehidupan ini, setiap manusia dalam suatu kebudayaan selalu berkeinginan dan berharap dapat menikmati isi dunia ini dalam jangka waktu yang lama. Tetapi usaha untuk mencapai keinginan tersebut adalah di luar jangkauan manusia,karena keterbatasan, kemampuan dan akal pikiran yang dimiliki oleh manusia. Selain itu, setiap manusia juga sudah mempunyai jalan kehidupannya masing-masing yang telah ditentukan batas akhir kehidupannya. Batas akhir kehidupan manusia ini (mati) dapat terjadi dikarenakan berbagai hal,misalnya karena penyakit yang diderita dan tidak dapat disembuhkan lagi kecelakaan dan sebab-sebab lain yang tidak dapat diketahui secara pasti, maupun disebabkan penyakit.

Pada masyarakat Batak Toba, bila ada orangtua yang menderita penyakit yang sulit untuk disembuhkan, maka pada keturunanya beserta sanak famili biasanya melakukan acara adat khusus baginya, yang disebut dengan Manulangi (memberi makan). Sebelum diadakan acara manulangi ini, maka pada keturunannya beserta sanak famili lebih dahulu harus mengadakan musyawarah untuk menentukan berbagai persyaratan, seperti menentukan hari pelaksanaan adat panulangion itu, jenis ternak yang akan dipotong, dan jumlahnya serta biaya yang diperlukan untuk mempersiapkan makanan tersebut. Sesuai dengan hari yang sudah ditentukan, berkumpullah semua keturunan dan sanak famili di rumah orangtua tersebut dan dipotonglah seekor ternak babi untuk kemudian dimasak lagi dengan baik sebagai makanan yang akan disuguhkan untuk dimakan bersama-sama. Pada waktu itu juga turut diundang hula-hula dari suhut, dongan tubu, dan natua-tua ni huta (orang yang dituakan di kampung tersebut).

Kemudian acara panulangion dimulai dengan sepiring makanan yang terdiri dari sepiring nasi dan lauk yang sudah dipersiapkan, diberikan kepada orangtua tersebut oleh anak sulugnya. Pada waktu Eanulangi, si anak tersebut menyatakan kepada orangtuanya bahwa mereka sebenarnya khawatir melihat penyakitnya. Maka sebelum tiba waktunya, ia berharap agar orangtuanya dapat merestui semua keturunananya hingga beroleh umur yang panjang, murah rezeki dan tercapai kesatuan yang lebih mantap. Ia juga mendoakan agar orangtuanya dapat lekas sembuh. Setelah anaknya yang sulung selesai memberikan makan, maka dilanjutkan oleh adik-adiknya sampai kepada yang bungsu beserta cucu-cucunya. Sambil disuguhi makanan, semua keturunannya direstui dan diberi nasehat-nasehat. Pada waktu itu ada juga orangtua yang membagi harta warisannya walaupun belum resmi berlaku.

Setelah selesai memberi makan, maka selanjutnya keturunan dari orangtua itu harus manulangi hula-hulanya dengan makanan agar hula-hulanya juga memberkati mereka. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama-sama. Sambil makan, salah seorang dari pihak boru (suhut) memotong haliang (leher babi) dan dibagi-bagikan kepada hadirin. Setelah selesai makan, diadakanlah pembagian”jambar (suku-suku daging). Gaor bontar (kepala baglan atas sebelah kiri untuk boru (anak perempuan), Osang (mulut bagian bawah) untuk hula-hula, Hasatan (ekor) untuk keluarga suhut, soit (perut bagian tengah) untuk dongan sabutuha (teman semarga) dan jambar (potongan daging-daging) untuk semua yang hadir). Setelah pembagian jambar maka mulailah kata-kata sambutan yang pertama oleh anak Sulung dari orangtua ini dilanjutkan dari pihak boru, dongan sabutuha, dongan sahuta, dan terakhir dari hula-hula.

Setelah selesai kata mangampui, maka acarapun selesai dan diadakanlah doa penutup. Setelah acara panulangion itu selesai, maka pada hari berikutnya pihak hula-hula pergi menjenguk orangtua tadi dengan membawa dengke (ikan) dan sehelai ulos (kain adat batak) yang disebut ulos mangalohon ulos naganjang (memberikan kain adat). Ketika hula-hula menyampaikan makanan itu kepada orangtua yang sakit, disitulah merka memberikan ulos naganjang kepada orangtua itu dengan meletakkannya di atas pundak (bahu) orangtua tersebut. Tujuan dari pemberian ulos dan makanan ini adalah supaya orangtua tersebut cepat sembuh, berumur panjang dan dapat membimbing semua keturunannya hingga selamat dan sejahtera di hari-hari mendatang.

Setelah pemberian ikan dan ulos itu maka pihak boru brdoa dan menyuguhkan daging lengkap dengan suku-sukunya kepada pihak hula-hula. Pada waktu yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, akhirnya orangtua yang gaur matua itu meninggal dunia, maka semua keluarga menangis dan ada yang meratap sebagai pertanda bahwa sudah tiba waktunya bagi mereka untuk berpisah. Sesudah mayat tersebut dibersihkan maka dikenakan pakaian yang rapi dan diselimuti dengan kain batak (ulos). selanjutnya dibaringkan di ruang tengah yang kakinya mengarah ke jabu (bona rumah suhut). Pada saat yang bersamaan, pihak laki-laki baik dari keturunan orangtua yang meninggal maupun sanak saudara berkumpul di rumah duka dan membicarakan bagaimana upacara yang akan dilaksanakan kepada orangtua yang sudah saur matua itu. Dari musyawarah keluarga akan diperoleh hasil-hasil dari setiap hal yang dibicarakan. Hasil-hasil ini dicatat oleh para suhut untuk kemudian untuk dipersiapkan ke musyawarah umum. penentuan hari untuk musyawarah umum ini juga sudah ditentukan. Dan mulailah dihubungi pihak famili dan mengundang pihak hula-hula, boru, dongan tubu. raja adat, parsuhuton supaya hadir dalam musyawarah umum (Mangarapot). Sesudah acara mangarapot selesai, maka diadakanlah pembagian tugas bagi pihak hasuhuton. Beberapa orang dari pihak hasuhuton pergi mengundang (Manggokkon hula-hula, boru, dongan sabutuha (yang terdiri dari ternan semarga, teman sahuta, teman satu kampung) serta sanak saudara yang ada di rantau. Pihak suhut lainnya ada yang memesan peti mayat, membeli dan mempersiapkan beberapa ekor ternak (kerbau atau babi atau yang lainnya) sebagai makanan pesta atau untuk borotan.

Mereka yang bekerja pada saat upacara adalah pihak boru yang disebut Parhobas. Dan sebagian dari pihak suhut mempersiapkan pakaian adat untuk keturunan orangtua yang meninggal saur matua itu, yaitu semua anak laki-lakinya, cucu lakilaki dari yang pertama (sulung) dan cucu laki-laki dari anaknya perempuan.Pakaian adat ini terdiri dari ulos yang diselempangkan di atas bahu dan topi adat yang dipakai di atas kepala. Pihak boru lainnya pergi mengundang pargonsi dengan memberikan napuran tiar (sirih) yang diletakkan di atas sebuah piring beserta dengan uang honor dari pargonsi selama mereka memainkan gondang sabangunan dalam upacara saur matua. pemberian napuran tiar ini menunjukkan sikap hormat kepada pargonsi agar pargonsi bersedia menerima undangan tersebut dan tidak menerima undangan lain pada waktu yang bersamaan.

2. Acara Pelaksanaan Upacara Kematian Saur Matua

Setelah keperluan upacara selesai dipersiapkan barulah upacara kematian gaur matua ini dapat dimulai. Pelaksanaan upacara kematian saur matua ini terbagi atas dua bagian yaitu :

  • Upacara di jabu (di dalam rumah) termasuk di dalamnya upacara di jabu menuju maralaman (upacara di rumah menuju ke halaman ).
  • Upacara maralaman (di halaman) Kedua bentuk upacara inilah yang dilaksanakan oleh masyarakat Batak Toba sebelum mengantarkan jenazah ke liang kubur.

Upacara di jabu (di dalam rumah)
Pada saat upacara di jabu akan dimulai, mayat dari orangtua yang meninggal dibaringkan di jabu bona (ruang tamu). Letaknya berhadapan dengan kamar orangtua yang meninggal ataupun kamar anak-anaknya dan diselimuti dengan ulos sibolang. Suami atau isteri yang ditinggalkan duduk , di sebelah kanan tepat di samping muka yang meninggal. Kemudian diikuti oleh anak laki-laki mulai dari anak yang paling besar sampai anak yang paling kecil. Anak perempuan dari orangtua yang meninggal, duduk di sebelah kiri dari peti mayat. Sedangkan cucu dan cicitnya ada yang duduk di belakang atau di depan orangtua meeka masing-masing. Dan semua unsur dari dalihan natolu sudah hadir di rumah duka dengan mengenakan ulos.

Upacara di jabu ini biasanya di buka pada pagi hari (sekitar jam 10.00 Wib) oleh pengurus gereja. Kemudian masing-masing unsur dalihan natolu mengadakan acara penyampaian kata-kata penghiburan kepada suhut. Ketika acara penyampaian kata-kata penghiburan oleh unsur-unsur dalihan natolu sedang berlangsung, diantara keturunan orangtua yang meninggal masih ada yang menangis. Pada saat yang bersamaan, datanglah pargonsi sesuai dengan undangan yang disampaikan pihak suhut kepada mereka. Tempat untuk pargonsi sudah dipersiapkan lebih dahulu yaitu di bagian atas rumah (bonggar).  Kemudian pargonsi disambut oleh suhut dan dipersilahkan duduk di jabu soding (sebelah kiri ruang rumah yang beralaskan tikar. Lalu suhut menjamu makan para pargonsi dengan memberikan sepiring makanan yang berisi ikan (dengke) Batak, sagu-sagu, nasi, rudang, merata atau beras yang ditumbuk dan disertai dengan napuran tiar (sirih).

Setelah acara makan bersama para pargonsi pun mengambil tempat mereka yang ada di atas rumah dan mempersiapkan instrumen-instrumen mereka masing-masing. Umumnya semua pemain duduk menghadap kepada yang meninggal. Kegiatan margondang di dalam rumah biasanya dilakukan pada malam hari, sedangkan pada siang hari harinya dipergunakan pargonsi untuk istirahat. Dan pada malam hari tiba, pargonsi pun sudah bersiap-siap untuk memainkan gondang sabangunan. Kemudian pargonsi memainkan gondang Lae-lae atau gondang elek-elek, yaitu gondang yang memeberitahukan danmengundang masyarakat sekitarnya supaya hadir di rumah duka untuk turut menari bersama-sama.

Gondang ini juga dijadikan sebagai pengumuman kepada masyarakat bahwa ada orang tua yang meninggal saur matua. Dan pada saat gondang tersebut berbunyi, pihak suhut juga bersiap-siap mengenakan ulos dan topi adat karena sebentar lagi kegiatan margondang saur matua akan dimulai. Kemudian diaturlah posisi masing-masing unsur Dalihan Natolu. Pihak suhut berdiri di sebelah kanan yang meninggal, boru disebelah kiri yang meninggal dan hula-hula berdiri di depan yang meninggal. Jika masih ada suami atau isteri yang meninggal maka mereka berdiri di sebelah kanan yang meninggal bersama dengan suhut hanya tapi mereka paling depan.

a. Kemudian kegiatan margondang dibuka oleh pengurus gereja (pangulani huria). Semua unsur Dalihan Natolu berdiri di tempatnya masingmasing. pengurus gereja berkata kepada pangonsi agar dimainkan gondang mula-mula. Gondang ini dibunyikan untuk menggambarkan bahwa segala yang ada di dunia ini ada mulanya, baik itu manusia, kekayaan dan kehormatan.

b. Gondang ke dua yaitu gondang yang indah dan baik (tanpa ada menyebutkan nama gondangnya). Setelah gondang berbunyi, maka semua menari.

c. Gondang Liat-liat, para pengurus gereja menari mengelilingi mayat memberkati semua suhut dengan meletakkan tangan yang memegang ulos ke atas kepala suhut dan suhut membalasnya dengan meletakkan tangannya di wajah pengurus gereja.

d. Gondang Simba-simba maksudnya agar kita patut menghormati gereja. Dan pihak suhut menari mendatangi pengurus gereja satu persatu dan minta berkat dari mereka dengan rneletakkan ulos ke bahu rnasing-masing pengurus gereja. Sedangkan pengurus gereja menaruh tangan mereka ke atas kepala suhut.

e. Gondang yang terakhir, hasututon meminta gondang hasahatan dan sitio-tio agar semua mendapat hidup sejahtera bahagia dan penuh rejeki dan setelah selesai ditarikan rnereka semuanya mengucapkan horas sebanyak tiga kali.

Kemudian masing-masing unsur dari Dalihan Natolu meminta gondang kepada pargonsi, mereka juga sering memberikan uang kepada pargonsi tetapi yang memberikan biasanya adalah pihak boru walaupun uang tersebut adalah dari pihak hula-hula atau dongan sabutuha. Maksud dari pemberian uang itu adalah sebagai penghormatan kepada pargonsi dan untuk memberi semangat kepada pargonsi dalam memainkan gondang sabangunan.

Jika upacara ini berlangsung beberapa malam, maka kegiatan-kegiatan pada malam-malam hari tersebut diisi dengan menotor semua unsur Dalihan Na Tolu. Keesokan harinya, apabila peti mayat yang telah dipesan sebelumnya oleh suhut sudah selesai, maka peti mayat dibawa rnasuk kedalam rumah dan mayat dipersiapkan untuk dimasukkan ke dalam peti. Ketika itu hadirlah dongan sabutuha, hula-hula dan boru. Yang mengangkat mayat tersebut ke dalam peti biasanya adalah pihak hasuhutan yang dibantu dengan dongan sabutuha. Tapi dibeberapa daerah Batak Toba, yang memasukkan mayat ke dalam peti adalah dongan sabutuha saja.

Kemudian dengan hati-hati sekali mayat dimasukkan ke dalam peti dan diselimuti dengan ulos sibolang. posisi peti diletakkan sarna dengan posisi mayat sebelumnya. Maka aktivitas selanjutnya adalah pemberian ulos tujung, ulus sampe, ulus panggabei.

Yang pertama sekali memberikan ulos adalah hula-hula yaitu ulos tujung sejenis ulos sibolang kepada yang ditinggalkan (janda atau duda) disertai isak tangis baik dari pihak suhut maupun hula-hula sendiri. Pemberian ulos bermakna suatu pengakuan resmi dari kedudukan seorang yang telah menjadi janda atau duda dan berada dalam suatu keadaan duka yang terberat dalam hidup seseorang ditinggalkan oleh teman sehidup semati, sekaligus pernyataan turut berduka cita yang sedalamdalamnya dari pihak hula-hula. Dan ulos itu hanya diletakkan diatas bahu dan tidak diatas kepala. Ulos itu disebut ulos sampe atau ulos tali-tali. Dan pada waktu pemberian ulos sampe-sampe itu semua anak keturunan yang meninggal berdiri di sebelah kanan dan golongan boru di sebelah kiri daeri peti mayat.

Setelah ulos tujung diberikan, kemudian tulang dari yang meninggal memberikan ulos saput (sejenis ulos ragihotang atau ragidup), yang diletakkan pada mayat dengan digerbangkan (diherbangkan) diatas badannya. Dan bona tulang atau bona ni ari memberikan ulos sapot tetapi tidak langsung diletakkan di atas badan yang meninggal tetapi digerbangkan diatas mayat peti saja. Maksud dari pemberian ulos ini adalah menunjukkan hubungan yang baik dan akrab antara tulang dengan bere (kemenakannya).
Setelah hula-hula selesai memberikan ulos-ulos tersebut kepada suhut, maka sekarang giliran pihak suhut memberikan ulos atau yang lainnya sebagai pengganti dari ulos kepada semua pihak boru. pengganti dari ulos ini dapat diberikan sejumlah uang.

Kemudian aktivitas selanjutnya setelah pemberian ulos atau uang kepada boru adalah kegiatan margondang, dimulai dari pihak suhut, dongan sabutuha, boru dan ale-ale. Semuanya menari diiringi gondang sabungan dan mereka sesuka hati meminta jenis gondang yang akan ditarikan. Sesudah semua rombongan selesai menari, maka semua hadirin diundang untuk makan bersama. Sehari sebelumnya peti mayat dibawa ke halaman rumah orangtua yang saur matua tersebut, diadakanlah adat pandungoi yang biasanya dilakukan rada sore hari.

Adat ini menunjukkan aktivitas memberi makan (sepiring nasi beserta lauknya) kepada orangtua yang saur matua dan kepada semua sanak famili. Setelah pembagian harta warisan selesai dilaksanakan,lalu semua unsur Dalihan na Tolu kembali menari. Mulai dari pihak suhut, hasuhutan yang menari kemudian dongan sabutuha, boru, hula-hula dan ale-ale. Acara ini berlangsung sampai selesai ( pagi hari ).

Upacara di jabu menuju maralaman
Keesokan harinya (tepat pada hari penguburan) semua suhut sudah bersiapsiap lengkap dengan pakaian adatnya untuk mengadakan upacara di jabu menuju maralaman. Setelah semuanya hadir di rumah duka, maka upacara ini dimulai, tepatnya pada waktu matahari akan naik (sekitar pukul 10.00 Wib). Anak laki-laki berdiri di sebelah kanan peti mayat, anak perempuan (pihak boru) berdiri di sebelah kiri, hula-hula bersama pengurus gereja berdiri di depan peti mayat dan dongan sabutuha berdiri di belakang boru. Kemudian acara dipimpin oleh pengurus gereja mengenakan pakaian resmi (jubah).

Setelah acara gereja selesai maka pengurus gereja menyuruh pihak boru untuk mengangkat peti mayat ke halaman rumah sambil diiringi dengan nyanyian gereja yang dinyanyikan oleh hadirin. Lalu peti mayat ditutup (tetapi belum dipaku) dan diangkat secara hati-hati dan perlahan-lahan oleh pihak boru dibantu oleh hasuhuton juga dongan sabutuha ke halaman. peti mayat tersebut masih tetap ditutup dengan ulos sibolang. Lalu peti mayat itu diletakkan di halaman rumah sebelah kanan dan di depannya diletakkan palang salib kristen yang bertuliskan nama orangtua yang meninggal. Sesampainya di halaman, peti mayat ditutup dan diletakkan di atas kayu sebagai penyanggahnya. Semua unsur dalihan Na Tolu yang ada di dalam rumah kemudian berkumpul di halaman rumah untuk mengikuti acara selanjutnya.

Upacara Maralaman (di halaman rumah)
Upacara maralaman adalah upacara teakhir sebelum penguburan mayat yang gaur matua. Di dalam adat Batak Toba, kalau seseorang yang gaur matua meninggal maka harus diberangkatkan dari antaran bidang (halaman) ke kuburan (disebut Partuatna). Maka dalam upacara maralaman akan dilaksanakan adat partuatna. Pada upacara ini posisi dari semua unsur dalihan Na Tolu berbeda dengan posisi mereka ketika mengikuti upacara di dalam ruah. pihak suhut berbaris mulai dari kanan ke kiri (yang paling besar ke yang bungsu), dan di belakang mereka berdiri parumaen (menantu perempuan dari yang meninggal) posisi dari suhut berdiri tepat di hadapan rumah duka. Anak perempuan dari yang meninggal beserta dengan pihak boru lainnya berdiri membelakangi rumah duka kemudian hula-hula berdiri di samping kanan rumah duka.

Semuanya mengenakan ulos yang disandang di atas bahu. Ke semua posisi ini mengelilingi kayu borotan yang ada di tengahtengah halaman rumah. Sedangkan peti mayat diletakkan di sebelah kanan rumah duka dan agak jauh dari tiang kayu borotan Posisi pemain gondang sabangunan pun sudah berbeda dengan posisi mereka ketika di dalam rumah. Pada upacara ini, posisi mereka sudah menghadap ke halaman rumah (sebelumnya di bonggar rumah, tetapi pada upacara maralaman mereka berada di bilik bonggar sebelah kanan). Kemudian pargonsi pun bersiap-siap dengan instrumennya masing-masing.

Setelah semua unsur Dalihan Na Tolu dan pargonsi berada pada tempatnya, lalu pengurus gereja membuka kembali upacara di halaman ini dengan bernyanyi lebih dahulu, lalu pembacaan firman Tuhan, bernyanyi lagi, kata sambutan dan penghiburan dari pengurus gereja, koor dari ibu-ibu gereja dan terakhir doa penutup. Kemudian rombongan dari pengurus gereja mengawali kegiatan margondang. Pertama sekali mereka meminta kepada pargonsi supaya memainkan sitolu Gondang (tanpa menyebut nama gondangnya) , yaitu gondang yang dipersembahkan kepada Debata (Tuhan) agar kiranya Yang Maha Kuasa berkenan memberkati upacara ini dari awal hingga akhirnya dan memberkati semua suhut agar beroleh hidup yang sejahtera di masa mendatang. Lalu pargonsi memainkan sitolu Gondang itu secara berturut-turut tanpa ada yang menari.

Setelah sitolu Gondang itu selesai dimainkan, pengurus gereja kemudian meminta kepada pargonsi yaitu gondang liat-liat. Maksud dari gondang ini adalah agar semua keturunan dari yang meninggal saur matua ini selamat-selamat dan sejahtera. Pada jenis gondang ini, rombongan gereja menari mengelilingi borotan (yang diikatkan kepadanya seekor kuda) sebanyak tiga kali, yang disambut oleh pihak boru dengan gerakan mundur. Gerak tari pada gondang ini ialah kedua tangan ditutup dan digerakkan menurut irama gondang. Setelah mengelilingi borotan, maka pihak pengurus gereja memberkati semua boru dan suhut.

Kemudian pengurus gereja meminta gondang Marolop-olopan. Maksud dari gondang ini agar pengurus gereja dengan pihak suhut saling bekerja sama. pada waktu menari pengurus gereja mendatangi suhut dan unsur Dalihan Natolu lainnya satu persatu dan memberkati mereka dengan meletakkan ulos di atas bahu atau saling memegang wajah, sedang suhut dan unsur Dalihan Na Tolu lainnya memegang wajah pengurus gereja. Setelah gondang ini selesai, maka pengurus gereja menutup kegiatan margondang mereka dengan meminta kepada pargonsi gondang Hasahatan tu sitiotio. Semua unsur : Dalihan Na Tolu menari di tempat dan kemudian mengucapkan ‘horas’ sebanyak 3 kali.

Kegiatan margondang selanjutnya diisi oleh pihak hasuhutan yang meminta gondang Mangaliat kepada pargonsi. Semua suhut berbaris menari mengelilingi kuda sebanyak 3 kali, yang disambut oleh pihak boru dengan gerakan mundur. Gerakan tangan sama seperti gerak yang dilakukan oleh pengurus gereja pada waktu mereka menari gondang Mangaliat. Setelah gondang ini selesai maka suhut mendatangi pihak boru dan memberkati mereka dengan memegang kepala boru atau meletakkan ulos di atas bahu boru.Sedangkan boru memegang wajah suhut.

Setelah hasuhutan selesai menari pada gondang Mangaliat, maka menarilah dongan sabutuha juga dengan gondang Mangaliat, dengan memberikan ‘beras si pir ni tondi’ kepada suhut. Kemudian mangaliatlah (mengelilingi borotan) pihak boru sambil memberikan beras atau uang. Lagi giliran pihak hula-hula untuk mangaliat. Pihak hula-hula selain memberikan beras atau liang, mereka juga memberikan ulos kepada semua keturunan orangtua yang meninggal (baik anak laki-laki dan anak perempuan). Ulos yang diberikan hula-hula kepada suhut itu merupakan ulos holong.

Biasanya setelah keturunan yang meninggal ini menerima ulos yang diberikan hulahula, lalu mereka mengelilingi sekali lagi borotan. Kemudian pihak ale-ale yang mangaliat, juga memberikan beras atau uang. Dan kegiatan gondang ini diakhiri dengan pihak parhobas dan naposobulung yang menari. Pada akhir dari setiap kelompok yang menari selalu dimintakan gondang Hasahatan atau sitio-tio dan mengucapkan ‘horas’ sebanyak 3 kali.

Pada saat setiap kelompok Dalihan Na Tolu menari, ada juga yang mengadakan pembagian jambar, dengan memberikan sepotong daging yang diletakkan dalam sebuah piring dan diberikan kepada siapa yang berkepentingan. Sementara diadakan pembagian jambar, kegiatan margondang terus berlanjut. Setelah semuanya selesai menari, maka acara diserahkan kepada pengurus gereja, karena merekalah yang akan menurup upacara ini. Lalu semua unsur Dalihan Na Tolu mengelilingi peti mayat yang tertutup. Di mulai acara gereja dengan bernyanyi, berdoa, penyampaian firman Tuhan, bernyanyi, kata sambutan dari pengurus gereja, bernyanyi dan doa penutup. Kemudian peti mayat dipakukan dan siap untuk dibawa ke tempat penguburannya yang terakhir yang telah dipersiapkan sebelumnya peti mayat diangkat oleh hasuhutan dibantu dengan boru dan dong an sahuta, sambil diiringi nyanyian gereja yang dinyanyikan oleh hadirin sampai ke tempat pemakamannya. Acara pemakaman diserahkan sepenuhnya kepada pengurus gereja. Setelah selesai acara pemakaman, kembalilah semua yang turut mengantar ke rumah duka.

3. Acara Sesudah Upacara Kematian.

Sesampainya pihak suhut , hasuhutan, boru, dongan sabutuha, hula-hula di rumah duka, maka acara selanjutnya adalah makan bersama. Pada saat itulah kuda yang diborotkan tadi sudah dapat dilepaskan dan ternak (babi) yang khusus untuk makanan pesta atau upacara yang dibagikan kepada semua yang hadir. Pembagian jambar ini dipimpin langsung oleh pengetua adat. Tetapi terdapat berbagai variasi pada beberapa tempat yang ada pada masyarakat batak toba. Salah satu uraian yang diberikan dalam pembagian jambar ini adalah sebagai berikut:

  • Kepala untuk tulang
  • Telur untuk pangoli
  • Somba-somba untuk bona tulang
  • satu tulang paha belakang untuk bona ni ari
  • Satu tulang belakang lainnya untuk parbonaan
  • Leher dan sekerat daging untuk boru

Setelah pembagian jambar ini selesai dilaksanakan maka kepada setiap hulahula yang memberikan ulos karena meninggal saur matua orang tua ini, akan diberikan piso yang disebut “pasahatkhon piso-piso”, yaitu menyerahkan sejumlah uang kepada hula-hula, jumlahnya menurut kedudukan masing-masing dan keadaan.

Bilamana seorang ibu yang meninggal saur matua maka diadakan mangungkap hombung (buha hombung), yang dilakukan oleh hula-hula dari ibu yang meninggal, biasanya dijalankan oleh amana posona (anak dari ito atau abang adik yang meninggal). Buha Hombung artinya membuka simpanan dari ibu yang meninggal. Hombung ialah suatu tempat tersembunyi dalam rumah, dimana seorang ibu biasanya menyimpan harta keluarga ; pusaka, perhiasan, emas dan uang.

Harta kekayaan itu diminta oleh hula-hula sebagai kenang-kenangan, juga sebagai kesempatan terakhir untuk meminta sesuatu dari simpanan “borunya” setelah selesai mangungkap hombung, maka upacara ditutup oleh pengetua adat. Beberapa hari setelah selesai upacara kematian saur matua, hula-hula datang untuk mangapuli (memberikan penghiburan) kepada keluarga dari orang yang meninggal saur matua dengan membawa makanan berupa ikan mas. Yang bekerja menyedikan keperluan acara adalah pihak boru.

Acara mangapuli dimulai dengan bernyanyi, berdoa, kata-kata penghiburan setelah itu dibalas (diapu) oleh suhut. Setelah acara ini selesai, maka selesailah pelaksanaan upacara kematian saur matua. Latar belakang dari pelaksanaan upacara kematian saur matua ini adalah karena faktor adat, yang harus dijalankan oleh para keturunan orang tua yang meninggal tersebut. Pelaksanaan upacara ini juga diwujudkan sebagai penghormatan kepada orang tua yang meninggal, dengan harapan agar orang tua tersebut dapat menghormati kelangsungan hidup dari para keturunannya yang sejahtera dan damai. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara manusia yang masih hidup dengan para kerabatnya yang sudah meninggal masih ada hubungan ini juga menentukan hidup manusia itu di dunia dan di akhirat.

Sebagai salah satu bentuk aktivitas adat , maka pelaksanaan upacara ini tidak terlepas dari kehadiran dari unsur-unsur Dalihan Natolu yang memainkan peranan berupa hak dan kewajiban mereka. Maka dalihan natolu inilah yang mengatur peranan tersebut sehingga prilaku setiap unsur khususnya dalam kegiatan adat maupun dalam kehidupan sehari-hari tidak menyimpang dari adat yang sudah ada.

Upacara Adat Kematian Suku Batak

Pendahuluan

Berbicara tentang Sari Matua, Saur Matua dan Mauli Bulung adalah berbicara tentang kematian seseoang dalam konteks adat Batak. Adalah aksioma, semua orang harus mati, dan hal itu dibenarkan oleh semua agama. Bukankah pada Kidung Jemaat 334 disebut: “Tiap orang harus mati, bagai rumput yang kering. Makhluk hidup harus busuk, agar lahir yang baru. Tubuh ini akan musnah, agar hidup disembuhkan. di akhirat bangkitlah, masuk sorga yang megah.”Selain yang disebutkan diatas, masih ada jenis kematian lain seperti “Martilaha” (anak yang belum berumah tangga meninggal dunia), “Mate Mangkar” (yang meninggal suami atau isteri, tetapi belum berketurunan), “Matipul Ulu” (suami atau isteri meninggal dunia dengan anak yang masih kecil-kecil), “Matompas Tataring” (isteri meninggal lebih dahulu juga meninggalkan anak yang masih kecil).

Sari matua

Tokoh adat yang dihubungi Ev H Simanjuntak, BMT Pardede, Constan Pardede, RPS Janter Aruan SH membuat defenisi : “Sari Matua adalah seseorang yang meninggal dunia apakah suami atau isteri yang sudah bercucu baik dari anak laki-laki atau putri atau keduanya, tetapi masih ada di antara anak-anaknya yang belum kawin (hot ripe).Mengacu kepada defenisi diatas, seseorang tidak bisa dinobatkan (dialihkan statusnya dari Sari Matua ke Saur Matua. Namun dalam prakteknya, ketika hasuhuton “marpangidoan” (bermohon) kepada dongan sahuta, tulang, hula-hula dan semua yang berhadir pada acara ria raja atau pangarapotan, agar yang meninggal Sari Matua itu ditolopi (disetujui) menjadi Saur Matua.

Sering hasuhuton beralasan, “benar masih ada anak kami yang belum hot ripe (kawin), tetapi ditinjau dari segi usia sudah sepantasnya berumah tangga, apalagi anak-anak kami ini sudah bekerja dan sebenarnya, anak kami inilah yang membelanjai orang tua kami yang tengah terbaring di rumah duka. “Semoga dengan acara adat ini mereka secepatnya menemukan jodoh (asa tumibu dapotan sirongkap ni tondi, manghirap sian nadao, manjou sian najonok). Status Sari Matua dinaikkan setingkat menjadi Saur Matua seperti ini ditemukan pada beberapa acara adat.

Tokoh adat diatas berkomentar, permintaan hasuhuton itu sudah memplesetkan nilai adat yang diciptakan leluhur. Pengertian Sari Matua, orang itu meninggal, sebelum tugasnya sebagai orang tua belum tuntas yakni mengawinkan anak-anaknya. Tidak diukur dari segi umur, pangkat, jabatan dan kekayaan.

Mereka memprediksi, terjadinya peralihan status, didorong oleh umpasa yang disalah tafsirkan yakni: “Pitu lombu jonggi, marhulang-hulanghon hotang, raja pinaraja-raja, matua husuhuton do pandapotan.” (semua tergantung suhut). Umpasa ini sasarannya adalah untuk “sibuaton” (parjuhutna-boan), karena bisa saja permintaan hadirin parjuhutna diusulkan lombu sitio-tio atau horbo, tetapi karena kurang mampu, hasuhuton menyembelih simarmiak-miak (B2), atau sebaliknya jika mampu, simarmiak-miak marhuling-hulinghon lombu, simarmiak-miak marhuling-hulinghon horbo. Faktor lain ujar mereka, adanya “ambisi” pihak keluarga mengejar cita-cita orang Batak yakni hamoraon, hagabeon, hasangapon. Selanjutnya, dongan sahuta, terkesan “tanggap mida bohi”, karena mungkin pihak hasuhuton orang “terpandang”.

Sebenarnya, untuk meredam “ambisi” hasuhuton, senjata pamungkas berada ditangan Dongan Sahuta. Benar ada umpasa yang mengatakan : “Tinallik landurung bontar gotana, sisada sitaonon dohot las ni roha do namardongan sahuta, nang pe asing-asing margana.” Tetapi bukankah ada umpasa yang paling mengena: “Tinallik bulu duri, sajongkal dua jari, dongan sahuta do raja panuturi dohot pengajari.” Mereka harus menjelaskan dampak negatif dari peralihan status Sari Matua ke Saur Matua berkenaan dengan anak-anak almarhum yang belum hot ripe. Artinya, jika kelak dikemudian hari, anak tersebut resmi kawin, karena dulu sudah dianggap kawin, tentu dongan sahuta tidak ikut campur tangan dalam seluruh kegiatan/proses perkawinan. Barangkali, bila hal itu diutarakan, mungkin pihak hasuhuton akan berpikir dua kali, sekaligus hal ini mengembalikan citra adat leluhur.

Selanjutnya, ada pula berstatus “Mate Mangkar” berubah menjadi Sari Matua, karena diantara anaknya sudah ada yang berumah tangga namun belum dikaruniai cucu. Hasuhuton beralasan, parumaen (menantu) sudah mengandung (“manggora pamuro”). Hebatnya lagi, parjuhutna (boan) sigagat duhut (bukan simarmiak-miak merhuling-hulinghon horbo).Saya kurang setuju menerima adat yang demikian”, ujar Ev H Simanjuntak. Lahir dulu, baru kita sebut Si Unsok atau Si Butet, kalau orang yang meninggal tadi dari Mate Mangkar menjadi Sari Matua, lalu ompu si apa kita sebut? Ompu Sipaimaon?”, katanya memprotes. Kalau hanya mengharapkan manjalo tangiang menjadi partangiangan, kenapa kita sungkan menerima apa yang diberikan Tuhan kepada kita, sambungnya. Soal boan sigagat duhut, menurut Simanjuntak, hal itu sudah melampaui ambang batas normal adat Batak. Seharusnya simarmiak-miak, karena kerbau adalah ternak yang paling tinggi dalam adat Batak, tegasnya. Ulos tujung dan sampe tua
Ulos tujung, adalah ulos yang ditujungkan (ditaruh diatas kepala) kepada mereka yang menghabaluhon (suami atau isteri yang ditinggalkan almarhum). Jika yang meninggal adalah suami, maka penerima tujung adalah isteri yang diberikan hula-hulanya. Sebaliknya jika yang meninggal adalah isteri, penerima tujung adalah suami yang diberikan tulangnya. Tujung diberikan kepada perempuan balu atau pria duda karena “mate mangkar” atau Sari Matua, sebagai simbol duka cita dan jenis ulos itu adalah sibolang.

Dahulu, tujung itu tetap dipakai kemana saja pergi selama hari berkabung yang biasanya seminggu dan sesudahnya baru dilaksanakan “ungkap tujung” (melepas ulos dari kepala). Tetapi sekarang hal itu sudah tidak ada lagi, sebab tujung tersebut langsung diungkap (dibuka) oleh tulang ataupun hula-hula sepulang dari kuburan (udean). Secara ratio, yang terakhir ini lebih tepat, sebab kedukaan itu akan lebih cepat sirna, dan suami atau isteri yang ditinggal almarhum dalam waktu relatif singkat sudah dapat kembali beraktifitas mencari nafkah. Jika tujung masih melekat di kepala, kemungkinan yang bersangkutan larut dalam duka (margudompong) yang eksesnya bisa negatif yakni semakin jauh dari Tuhan atau pesimis bahkan apatis.

Ulos Sampe Tua, adalah ulos yang diberikan kepada suami atau isteri almarhum yang sudah Saur Matua, tetapi tidak ditujungkan diatas kepala, melainkan diuloskan ke bahu oleh pihak hula-hula ataupun tulang. Jenis ulos dimaksud juga bernama Sibolang. Ulos Sampe Tua bermakna Sampe (sampailah) tua (ketuaan-berumur panjang dan diberkati Tuhan) Akhir-akhir ini pada acara adat Sari Matua, sering terlihat ulos yang seharusnya adalah tujung, berobah menjadi ulos sampe tua. Alasannya cukup sederhana, karena suami atau isteri yang ditinggal sudah kurang pantas menerima tujung, karena faktor usia dan agar keluarga yang ditinggalkan beroleh tua.

Konsekwensi penerima ulos Sampe Tua adalah suami ataupun isteri tidak boleh kawin lagi. Seandainya pesan yang tersirat pada ulos Sampe Tua ini dilanggar, kawin lagi dan punya anak kecil lalu meninggal, ulos apa pula namanya. Tokoh adat Ev H Simanjuntak, BMT Pardede, Raja Partahi Sumurung Janter Aruan SH dan Constant Pardede berpendapat sebaiknya ulos yang diberikan adalah tujung, sebab kita tidak tahu apa yang terjadi kedepan. Toh tujung itu langsung dibuka sepulang dari kuburan, ujar mereka.

Saur Matua

Seseorang disebut Saur Matua, ketika meninggal dunia dalam posisi “Titir maranak, titir marboru, marpahompu sian anak, marpahompu sian boru”. Tetapi sebagai umat beragama, hagabeon seperti diuraikan diatas, belum tentu dimiliki seseorang. Artinya seseorang juga berstatus saur matua seandainya anaknya hanya laki-laki atau hanya perempuan, namun sudah semuanya hot ripe dan punya cucu.Khusus tentang parjuhutna, Ev H Simanjuntak bersama rekannya senada mengatakan, yang cocok kepada ina adalah lombu sitio-tio atau kalau harus horbo, namanya diperhalus dengan sebutan “lombu sitio-tio marhuling-hulinghon horbo”. Sebab kelak jika bapak yang meninggal, “boan”-nya adalah horbo (sigagat duhut).

Diminta tanggapannya apakah keharusan boan dari mereka yang Saur Matua lombu sitio-tio atau sigagat duhut, tokoh adat ini menjelaskan, hal itu relatif tergantung kemampuan hasuhuton, bisa saja simarmiak-miak. Disinilah pemakaian umpasa “Pitu lombu jonggi, marhulang-hulanghon hotang, raja pinaraja-raja, matua hasuhuton do pandapotan”. Kalangan hula-hula, terutama dongan sahuta harus memaklumi kondisi dari hasuhuton agar benar-benar “tinallik landorung bontar gotana, sada sitaonon do na mardongan sahuta nang pe pulik-pulik margana”. Jangan terjadi seperti cerita di Toba, akibat termakan adat akhirnya mereka lari malam (bungkas) kata mereka.

Masih seputar Saur Matua khususnya kepada kaum bapak, predikat isteri tercinta, kawin lagi dan punya keturunan. Kelak jika bapak tersebut meninggal dunia, lalu anak yang ditinggalkan berstatus lajang, sesuai dengan defenisi yang dikemukakan diawal tulisan ini, sang bapak menjadi Sari Matua.

Mauli Bulung

Mauli Bulung, adalah seseorang yang meninggal dunia dalam posisi titir maranak, titir marboru, marpahompu sian anak, marpahompu sian boru sahat tu namar-nini, sahat tu namar-nono dan kemungkinan ke “marondok-ondok” yang selama hayatnya, tak seorangpun dari antara keturunannya yang meninggal dunia (manjoloi) (Seseorang yang beranak pinak, bercucu, bercicit mungkin hingga ke buyut).Dapat diprediksi, umur yang Mauli Bulung sudah sangat panjang, barangkali 90 tahun keatas, ditinjau dari segi generasi. Mereka yang memperoleh predikat mauli bulung sekarang ini sangat langka.
Dalam tradisi adat Batak, mayat orang yang sudah Mauli Bulung di peti mayat dibaringkan lurus dengan kedua tangan sejajar dengan badan (tidak dilipat).

Kematian seseorang dengan status mauli bulung, menurut adat Batak adalah kebahagiaan tersendiri bagi keturunannya. Tidak ada lagi isak tangis. Mereka boleh bersyukur dan bersuka cita, berpesta tetapi bukan hura-hura, memukul godang ogung sabangunan, musik tiup, menari, sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang Maha Kasih lagi Penyayang.

Kitab Debata Asi-asi

Kitab ini menerangkan tentang inti dari Kitab Batara Guru, Debata Sorisohaliapan, Mangala Bulan (Debata Natolu) dan induk dari segala kitab. Kitab ini juga berisi tentang ilmu pengetahuan manusia, karena manusia adalah titisan Debata Asi-asi.

Laklak Debata Asi-asi (Kitab Debata Asi-asi)
Debata Asi-asi ( Manuk-Manuk Hulambu jati atau Raja Pinang Habo ) adalah mahluk pertama yang diciptakan oleh Debata Mulajadi Nabolon, berparuh besi berkuku gelang yang berkilauan. Mengenai bentuknya, seperti kupu-kupu yang sangat besar dan mempunyai telur seperti periuk yang sangat besar, wajahnya seperti sarung bintang Rumariri. Kemudian kepada Debata Asi-asi, Mulajadi Nabolon pernah bersabda bahwa Debata Asi-asi ditakdirkan hanya bisa menerima segala kata-kata dari manusia. Memberkati manusia supaya selalu bergondang. Bila yang diinginkan gondang Debata Guru maka baju yang di gunakan harus berwarna hitam, Jika yang diinginkan gondang Debata Sori baju yang digunakan harus berwarna putih dan jika yang diinginkan gondang Debata Bulan maka baju yang digunakan harus berwarna merah. Biasanya permintaan atau ritual tersebut diatas dilaksanakan satu kali dalam setahun. Namun bukan dalam hal ini saja setiap manusia selalu membutuhkannya, tetapi dalam segala hal yang diperlukan. Dan apabila suatu hari nanti ada manusia yang bungkuk, yang buta, yang tuli, yang satu tangan dan yang satu kaki, maka mereka adalah golongan dari orang-orang yang menghinanya, tetapi apabila ada anak satu-satunya yang bersedih hati, manusia yang banyak keturunan, raja dan panglima maka mereka adalah orang-orang yang selalu bersyukur dan memanggilnya, sebab apa dan bagaimanapun manusia adalah titisannya.

Manusia akan kawin dan banyak keturunan, maka mereka akan memanggilmu : “ Wahai engkau Debata Asi-asi, Tuhan yang kusayangi, Tuhan tak dipanggil, Tuhan tidak diberi apa-apa, sebab engkau yang menutup ubun-ubun yang membuka mata, yang menerangkan pendengaran yang membuka mulut, yang mengembangkan hati, yang membulatkan jantung dan memisahkan jari-jari bagi kami manusia. Berkatilah kami ” ! Kemudian Debata Asi-asi menjawab :

  1. Buatlah suratmu, surat sembilan belas itulah bekal hidup yang dapat digunakan dalam mengarungi hidupmu.
  2. Aku telah mengutus seluruh roh kedalam tubuhmu pada saat kau berada di kandungan ayahmu tiga bulan, dan di kandungan ibumu sembilan bulan yaitu :
  • Raja Aksara 19+7 dikeningmu
  • Tuan Diratte Bosi diubun-ubun
  • Sirambo Nauppung dirambutmu
  • Siataran Nabolak dimukamu
  • Tuan Silinong-linong dimatamu
  • Tuan Dikatu Holing di telingamu
  • Tuan Dibatu Juguk dihidungmu
  • Sidari Marduppang dibibirmu
  • Singalu Ihataran di gigimu
  • Sidari mengambat dilangkahmu
  • – Silobur Sirom-sirom di kerongkonganmu
  • Raja Muda diotakmu
  • Raja-Kuat di pusatmu
  • Raja Alim di dadamu
  • Si Aji Humik di hatimu
  • Si Aji Runggu-runggu di jantungmu
  • Si Aji Porjat ditelapak kakimu

dan engkau lahir ke bumi dengan empat saudaramu kelima dirimu sebab akulah yang menutup ubun-ubunmu membulatkan jantungmu mengembangkan hatimu, dan yang memisah jari-jarimu. Peliharalah seluruh roh yang ada padamu agar engkau arif sehat dan bijaksana “.

Di dalam kitab Debata Asi-asi ini terdapat juga ilmu perlindungan yang bernama ” Ilmu Kulambu Jati” yang mempelajari aksara 19 (sembilan belas) dan 9999 urat manusia. Menurut kitab ini, sebelum manusia lahir ke bumi lebih dahulu berputar di dalam kandungan ibu tujuh kali kemudian lahir. Ilmu yang dimiliki manusia seperti yang didalam kandungan, sebab manusia dalam kandungan terbungkus dan berada di tengah air. Dalam ilmu ini juga manusia dimasukkan kedalam air untuk menerima ilmu perlindungan.

Caranya :
Orang yang menerima ilmu perlindungan tersebut dibawa ke laut atau ke danau. Kemudian di suruh menyelam, dan berputar tujuh kali di dalam air sambil berdoa memanggil 12 (dua belas) roh yang ada pada tubuh, jika berhasil, maka dia akan jauh dari mara bahaya.

Setelah tiba dirumah orang tersebut diberi pelajaran tentang urat manusia, menurut orang batak urat manusia sama dengan urat ayam karena manusia berasal dari ayam selanjutnya mengajari tentang urat manusia dan ilmu perlindungan. Inilah ilmu perlindungan yang diberikan oleh Debata Asi-asi kepada manusia.

PANGANTUSION TU PARTUTURON

Dalam kehidupan orang Batak sehari-hari, kekerabatan (partuturon ) adalah kunci pelaksanaan dari falsafah hidupnya. Bagi orang Batak, partuturon adalah sangat penting, karena dari partuturon kita tahu hubungan kekerabatan kita satu sama lain dan menentukan bagaimana kita menyapa lawan bicara kita. Dalam upacacara adat, partuturon adalah dasar untuk mengetahui posisi kita, yaitu unsur mana kita dalam dalihan na tolu. Pada suatu saat kita bisa Dongan Tubu, di saat lain menjadi Boru dan di lain kesempatan menjadi Hula-hula.

BUDAYA Batak Toba sangat kaya akan istilah hubungan kekerabatan (partuturon), sehingga bagi mereka yang tidak mempelajarinya atau menerapkan sejak kecil akan sulit menggunakannya dengan benar. Banyak orang Batak yang tidak begitu faham mengenai hubungan kekerabatan (partuturon), terutama mereka yang lahir dan besar di perantauan.

Apabila kita salah dalam menyapa kerabat kita, maka bisa terjadi orang yang disapa tersebut menjadi tersinggung, karena merasa kurang dihargai pada posisinya yang sebenarnya. Juga partuturon ini sangat menentukan dalam pembagian jambar dalam acara adat. Oleh karena itu kita masyarakat Batak wajib memahami hubungan kekerabatan atau yang dalam bahasa Batak disebut Partuturon. …. Baca selengkapnya

RUHUT MAMUNGKA HUTA DOHOT JABU

by tanobatak

“Ganjang pe banjar ganjang, mandapot di Raja Huta”. “Bolon pe rumah gorga, mandapot do di jabu bona”.
Poda umpama ni natua-tua najolo mandok: “Sai tubu anak sipungka parik, sai tubu boru si hodohon hudon bolon”.

Ia anak sipungka parik, sai anak nabegu do i, jala na todos di ari. Ai molo mamungka huta jolma najolo, nungnga adong sangkap dohot tujuanna, lumobi di tano nagonting, pintor adong do alona. Songon on ma hinadokdok ni na mamungka huta. Undungna jumolo dipajongjong, hadudu tarupna, hadudu dohot dorpina, manangkas do tu tano podomanna, dung i muse sai godang dope binatang harangan disi.

Patik ni pungkaon huta; Nang tung godang batu di ingananna i, dang boi pintor boi i bahenon gabe dalihan, ingkon hau do jolo pantikhonon, i ma na nigoaranna “Balikkuhu”, mangalap sian balikkuhu do dalihan natolu. Ai ianggo somalna lima dalihan najolo.

Dang na mangarehei angka panurat dohot angka siboto adat hata on, ala na songon on ma umbahen salpu-salpu sinurat ni panurat. Songon bangko ni asu, ala dang borhat sian Si sia-sia ni hata Batak dohot Adat Batak. Nungnga nian haruar ditaon 1965 si sia-sia ni hata Batak dohot si sia-sia ni “Gumbal” (Pargolatan) ni halak Batak, alai dang ringkot mangguruhon. Sai umpama dohot umpasa do dilului, hape dasor ni umpama i, dang diguruhon, gabe godang ma sala mamangke. Tabo dibege sipareon, alai tujuan ni hata i di na mangantusi (datu panusur) nungnga tu ulaon na humurang “tondi” di pandohan i, dang martondi hata i, gabe mangulpuk ma datu tu suhut dohot tu raja namandok i. Alai ianggo nagalia, dang lolo horja godang, ia so jolo ro Guru Bisara mangadopi ulaon i, ai i do na gabe panurirang najolo. Dang songon sinuaeng on, jahul petaho, barat pe taho, di olophon suhut do.
Asa ianggo najolo naung pinillit ni horja do naboi mandok hata, dang masa manjukjukhon dirina.

Hak Ni Parhutaon.

Dung dipukka parik pintor disuan ma bulu, disuan ma hau, disuan ma bangun-bangun. Umbahen na pintor disuan bulu dohot hau, asa pintor tanda do ibana siusung bunti (bukti) tu huta i manang na ampuna huta. Ai manang ise nampuna bulu dohot hau, ibana do raja huta di huta i. Marlapatan do bulu, molo bulu duri, bulu ni anak nabegu ma i, bulu suraton, bulu hariapan ma i, alai bulu godang, bulu ni raja huta do i. Dang barani jolma mambuat bulu godang manang tubisna, ia so jolo dipangido tu nampuna bulu i, ima hasurungan ni bulu godang. Alana molo soada do bulu godangna, dang targoar i nampuna huta.

Patik Ni Raja Huta.

“Ganjang pe banjar ganjang, mandapot di Raja Huta”. “Bolon pe rumah gorga, mandapot do di jabu bona”. Asa manang aha pe ulaon di huta i, dang tarpajadi i, ia so jumolo disukkun Raja Huta. Manang gabe pe, manang mora halak, dang boi joloanan Raja Huta mangkatahon parbue manang napuran pelean tu Debata. Sian Raja Huta do muse pilliton nagabe Raja ni Bius, jala ido naboi manullang horbo bius dohot horbo satti.

Alai ditingki on nungnga mumpat tuhe, nungnga sesa gadu, nungnga muba uhum, dung tuat sori dalu ni Bolanda, songon naung sinurathon dibaritani si Sarbut Tampubolon, taon 1982. Asa manang ise namar ale-ale tu soridalu ni Bolanda najolo, i ma naboi pabalik uhum dohot manengsang adat. I do umbahen na boi nuaeng nang boru gomgoman mangkatahon parbue di parbiusan.

Sihodohon Hudon Bolon

Ia boru sihodohon hudon bolon, ruhut tu harajaon ma i, panggalangon ma i, jala sian dia ma boi ibana manggalang ia so adong indahanna dohot juhut tanggoanna. “Holit mula ni hamoraon, panggalangan mulani harajaon, hasingalon jumadi hatangkangon”.

Nungnga tangkas dipatorang hata on di Sitombuk Surik tahun 1965, bonana dohot ujungna. Asa saut tahi nadenggan, ingkon adong do na olo manggalang. Songon mamungka bondar rupani, laho mamungka galung (hauma), ido umbahen jumolo tapian dilului asa huta dipukka, ido alana umbahen dos dipadomu parik tu hudon bolon.

Di indahan do na upa na pande, napantas marboru, siparosu ale-ale, sipasorta hula-hula. Asa rosu na marale-ale, ingkon masitopot-topotan do i disipanganon, asa sorta marhula-hula, tagilon do juhut tu hula-hula. Asa tek-tek do mula ni godang, serser mula ni tor-tor, siup mula ni tabas, buhu mula ni pollung, indahan mangula adat, juhut mangula uhum. Hombar tu angka i “tradisi” ni halak Batak dohot ruhut pandohan ni pasu-pasu.

Bangun-bangun.

Dang pola ganjang be patorangon taringot tu bangun-bagun, na padiri tu haroan do i, jala na pinatomu do i tu hata ni tonggo-tonggo manang tangiang tu Debata, asa pintor tibu ro haroan.

M A M U K K A J A B U

Godang ruhut ni namamukka jabu, na deba olo songon na mamukka huta, jolo dirobo manuk diampang (tondung) ingananna dohot manang siadop dia bahenonna. Dung tulus sangkap i, diririt ma hau di harangan. Jumolo ma tustus diririt, dung dapotna, dililit ma hau i, manang ditallik-tallik humaliang paima disuru tukkang martaba, ima na margoar lilit, dos ma i dohot na manandehon sige tubona ni bagot, nungnga di-oro hau i, manang bagoti, sada patik do i. Tallik (lilit) mangoro hau, sige mangoro bagot sinamot mangoro boru manang tanda hata, ima tuhe sigaton, batangi dapoton.

Sai jumolo do tustus mardalan dibuat, asa hau na asing, asa pintor lintas (tiur) jabu i paulion. Dibunti i do i, lapatanna: diboan sagu-sagu dihatahon do i tu nampuna harangan i, jala hatana didok ma: “Diho do bonana, diho do punsuna, tonga-tonga na do dihami”, ninna.

Marnappuna do tombak i jala adong do parbalohan ni ganup tombak, dang boi buaton ni halak na asing hau tu tombak ni halak, ia sojolo mangido tu raja ni luat i, jala mangalehon bunga hau do i.

Hinorhon ni na masihotang najolo sian Lumban Julu Sipahutar tu dolok Saut Pangaribuan, gabe pul ma parmusuan ni Lumban Julu tu Lumban Sormin. Ala Ompu Soduduhon Pakpahan do Raja di Lumban Sormin, jala guru Sumillam Raja Lumban Julu, gabe raja nadua on ma manuhuk gora ni na nirajaannana uju i. Jala ima bingkas ni porang Bolanda tu Lumban Julu Pea Linta Sipahutar, barita ni si Sarbut Tampubolon.

Maniktik

Dung laho sude parhau i jala nungnga sae dibahen tiang-tiang, manuhil ma. Dipaturut ma tiang i dipapillithon ma tu suhut manang dia jabu bona, jala dipapillitton ma tu natorop manang dia jabu bona. Dipillit tukkang ma di ibana, di tiktik ma tiang natolu i sada-sada, maralatan ma ibana.

Molo pinillit ni natorop do adong hombar, ni ulpuk ma masa gora ni begu manang gora ni jolma. Molo pinillit suhut do hombar, tusuhut mangupa (manaem). Molo pinillit ni tukkang do hombar, tukkang ma maneam. Jala ima asal usul ni hata Batak na mandok: “Sitiktik sigompa, golang-golang pangalangguna, otik pe pinatupa ni inanta i, tu godangna pinasuna. Ia gompa, suhul (gagang) ni tuhil do i, jala gomal, golang-golang, ima sampok ni tuhil i. Jala manjalo tiktik tiang ma tukkang disi. Hata pasu-pasu disi holan manggabei suhut dohot tukkang dope, hata disi asa hipas-hipas suhut dohot tukkang unang marmara, jala asa lu pangomoan. Hombar tusi ma umpasa dohonon.

Paraithon

Dung sidung hau i hona tuhil dohot jongjong, paraithon ma. Manjalo jongjong rait ma tukkang, jala hata pasu-pasu sian na torop hombar tu hata rait ma, manang nakkok dipanggabean, tu hata nakkok ma umpasa sibahenon.

Pamuli Tungkang

Dung sidung jabu i, di pamuli ma tukkang, jala ditulak ma hunsi tu suhut. Hata pasu-pasu tusi: “Naung parduru on gabe partonga-tonga, sideak pangisi, sitorop pinompar”, hombar tusi ma umpasa sieneton.

Ganup mangula siulaon halak Batak adong do digoari nasida na margoar “borhat-borhatna”. Haru patiur bondar adong do dibahen nasida borhat-borhatna. Tung sura adong na mamboan sipanganon tu bagas ni nasida, sitongka do ninna nasida molo so adong pinatupa ulakna manang borhat-borhat ni namamboan sipanganonna i. Hira na manalup do na ro i molo so dipatupa sisongon i. I dope na masa sahat tu tingki on. Molo so adong be tarpatupa, nanggo apala boras satangkar na ingkon do lehenon borhat-borhat ni namamboan sipanganon i (na mangebati jabu ni bagas nasida). Lumobi muse di na manungkangi bagas sibagandingtua ni ina, sipanguliman ni ama, na ingkon do suman bahenon paborhat tukang dohot pamuli tukang, asa si ripe gabe na mangingani bagas i si ripe horas. Di angka na mambahen na jagar pe tu angka ompu naung jumolo, molo pinature tambakna na ingkon do bahenon adat tu pande borhat-borhatna dohot adat pamuli tukang (pande).
Siingoton; Molo adong di nasida masa “gora tanga”. Ditungkangi pe undung-undungna ndang dipatupa nasida borhat-borhat ni tukang dohot pumuli tukang. Ai manangkas do na manalup nasida, jala sitalupon do angka si songon i.

Manopong-nopongi

Dung adong pitu ari, jouon ma natunggane mangan, 3-4 halak na so hea mabalu naung gabe ibana manang mora. Jala dung sidung mangan, mulak ma nasida, ipe asa boi marlaho-ro jolma tu jabu i, na pogos nang na dangol dohot na asing.

Parjambaran

Ia parjambaran, sirampas harajaon do i dohot jambar ni dongan tubu. Tukkang do sibagi i, ise sitiop jabu bona, ido nampuna tuk-tuk ginjang, jala sitiop jabu suhut, ido nampuna tuk-tuk toru, jala ondolan dohot ojahan (hae-hae), tukkang do nampunasa. Jambar ni natorop sian panamboli dohot hae-hae deba.

Mangompoi

Laho mangompoi, boi ma masiboan siluana be, hula-hula mamboan sipirnitondi, boru ale-ale, dongan tubu mangalehon pangurupion,. Umpasa sidohonon, boi ma patomu-tomuon hombar tu isi ni jabu, lumobi molo mangkuling ogung.

Ruhut Pauli Jabu

Ndang boi mamintor anak manjae, ia so jumolo mamungka bale-bale. Ingkon jolo ser-ser do asa tor-tor, dohot udutna, ima umbahen didok umpama: “Jolo marjabu bale-bale, asa marjabu sopo, jolo sian natunggane, asa tu naumposo”. Diruhut ni pangkataion jabu ruma. Molo marjabu ruma halak, naboi panungkunan ma i di indahan manang eme. Ido alana umbahen dibahen tanda-tanda ualu tarus ni ruma, paboa boi ibana panungkunan tu desa na ualu. Mangenet sian i ma goar Sibagot Ni Pohan, bagot, tarus manang tuak. Pohan, meme, poda. Namarlapatan do goar i sude. Ala tu bagot ni pohan dipasahat tu Tuan Sori Mangaraja batu hula dohot boni (eme) ima mula ni saba.

Umpama namardomu tusi: “Hotang sasa pangarahut ni ruma, tu porhis lumunta-lunta, dos do raja dohot namora, padenggan uhum dibagasan ni huta”.

Parbagianan Ni Jabu

Ia di jabu bona, anak siampudan. Di jabu suhut, anak sihahan, dijabu soding, sibitonga dohot dijabu sitappar piring. Jala molo tuk bahenon ni natorasna, jabu sopo di Sihahan, jabu ruma i ma di siampudan. Jala molo massitantanan marsisur-suran di jabu tiningggalhon ni natorasna, tama dapotan parbagian pahoppu sihahaan.

Ianggo adong do jabu ruma, sai tu jabu ruma ma hasangkotan ni ogung, jala dang marimbar pinomparna mamakke i, molo mamungkul ogung. Jala molo adong dope ruma hadomuan parsantian, sai disi do inganan ni Parsibasoan dohot Debata idup. Jala disi do manggohi parmiahan (Parsibasoan).