Bab. VIII. BERITA SI BURSOKRAJA ( OMPU SINAMBANG )

Dalam buku Pusataha Tarigot Taronggo nibang Sobatak ( 1926)yang disusun Demang Waldemar Hutagalung dai Pangururan, dikatakan Si Busokraja adalah putera sulung Sinabang, yang membuat namanya Ompu Sinabang dan kemudian hari menjadi Ompu  Lahisabungan.

Debangraja ( Sidebang = Sinabang ) yang kawin dengan Panamean boru Sagala mempunyai anak laki – laki 4 (empat) orang sampai dewasa keempat anak ini belum dibuat namanya sehingga selalu dipanggil sibursok ( panggilan kepala anak laki – laki sejak lahir ). Bila orangtuanya atau temannya memanggil (Bursok) mereka sama – sama menjawab, sehingga merasa malu dan kesal.

Pada suatu ketika anak sulung Sinabang mengumpulkan adik – adiknya dan berkata :” karena orang tua tidak membuat nama kita, bagaimana kalu masing – masing kita memilih nama, supaya jangan merasa malu melihat teman – teman. Badan kita sudah dewasa tidak pantas lagi dipanggil Sibursok,” katanya. Adiknya mengangguk tanda setuju. Kemudian ia berkata :” kalau kita memilih nama tidak boleh lagi berobah dan kita harus berjanji, dengke ni Sabulan tu tonggina tu tabona, manang ise siose pada tu ripurna tu magona. “ ( barangsiapa yang melanggar janji akan hidup sengsara ).

Setelah mereka seia – sekata mengingat janji, anak sulung menanya nama adik – adiknya. Anak kedua menjawab :” tak mungkin kami lebih dulu punya nama, pantasnya abang anak pertama yang lebih dahulu punya nama,” katanya. Anak sulung itupun berkata :”kalau begitu, baiklah, nama saya Ompu Sinabang,” katanya. Semua adiknya terkejut mendengar pilihan abangnya lalu berkata :”mana mungkin nama ompu Sinabang, sedang ayah kita bernama Debangraja.” Tetapi karena mereka sudah memikat janji, adiknya pasrah menerima dan anak kedua memilih namanya Si Ari, anak ketiga memilih namanya Si Taon, anak keempat memilih namanya Si Badung. Ketiga adiknya merasa cemas memikirkan tidakan orangtuanya kepada abangnya, bila mendengar namanya itu.

Pada malam harinya sewaktu mau makan, ompu Sinabang pura – pura sibuk bermain – main dihalaman rumah. Karena nasi dan lauk pauk telah terhidang, ayahnya menyuruh anaknya memanggil abangnya supaya sama – sama makan. Si Ari memanggil :” Ompu Sinabang ; Mari makan.” Katanya. Tetapi ia pura–pura tidak mendengar, lalu Si Taon dan Si Sidung memanggil :” ayo cepat Ompu Sinabang ! nasi sudah terhidang kata mereka bergantian. Ayah mereka Sidebang Raja terkejut mendengar nama mereka bergantian. Selera makan menjadi hilang, mukanya jadi murung karena pikiran terganggu. Demikian juga ibu boru Sagala merasa tidak enak mendengar panggilan putera sulungnya itu. Ulah siapakah ini ? mungkinkah karena ejekan dari teman – temannya ?

Pada saat itu ayah mereka Debangraja masih menahan emosinya dan termenung memikirkan perbuatan anak – anaknya. Karena setiap memanggil anak sulungnya disebut ( Ompu Sinabang ) maka pada suatu hari Debangraja mengumpulkan anak – anaknya dan berkata :” Ise Mambahen goarmu Ompu Sinebang, ai goarhu do Debangraja, Gabe Marompung ma ahu tu ho ?“ ( Siapa membuat namamu Ompu Sinabang, sedang namaku Sidebangraja, jadi memanggil nenekkah aku kepadamu ? ) katanya dengan nada membentak.

Si Bursokraja ( Ompu Sinebang ) menjawab :” ahu do mamillit goarhu Ompu Sinabang jala dang na mandok asa marompung hamu tu ahu !” ( saya yang memilih namaku Ompu Sinabang dan tak ada maksudku agar ayah memanggil nenek kepadaku ) katanya dengan tegas. Ayahnya debangraja mulai marah dan berkata :” ganti goarmi, molo so diganti ho ndanghuetongbe ho anakku !” ( ganti Namamu itu, dengan nada mengancam. Kemudian Si Bursokraja ( Ompu Sinabang) menjawab :” Nunga marpadan ahu dohot muba,” ( kami sudah berikrar dengan adik – adik ini, nama yang kami pih tidak boleh berubah, bagaimanapun ayah, nama yang kupilih itu tidak akan berubah.) katanya dengan tegas sedikit pun tidak merasa takut.

Dengan emosi ayahnya Dedangraja berdiri lalu berkata :” Laho ma ho sian jolongkon, anak na so hasea do ho. Huetong ma ho tilaha na mate dibuat ngenge, holan anggim na tolu on pe anakhu las ma rohangku.” ( Pergilah kau dari rumah ini, anak durjana kau rupanya. Kuanggap kau yang sudah meninggal  akibat penyakit cacar, dan hanya adikmu yang tiga orang ini pun anakku, berbahagialah aku), katanya  sambil mengusir Si Bursokraja ( Ompu Sinabang ).

Kemudian Si Bursokraja ( Ompu Sinabang ) berdiri mengumpulkan pakaiannya lalu berkata:” Borhat ma au amang , andalu do panduda anduri pamiari. Ndang tarjua amang pandok  ni soro ni ari.”( Berangkatlah saya ayah, sudah begini rupanya suratan badan ).katanya sambil menyalam ibu dan adik- adiknya . Ayahnya Debangaraja berkata dengan tegas :”tuktuk ma pangirmu , dompak mata ni ari , tuntun ma lomom, unang ho sumolsol bagi. Adong do ruma ijuk, panoloti  donasoada, adong do sipaingot pangoloim do na so ada.”( Yah , teruskan tekatmu, jangn kau menyesal nanti, kaena diberi nasehat kau tidak mau menuruti).

Sejak peristiwa ini Si Borsokraja (ompu Sinabang ) pergi melalang buana dan bertekat tidak akan kembali lagi ke Silalahi Nabolak dan akan merahasiakan asal – usulnya kepada keturunannya di kemudian hari . Dia berangkat menuju Balige untuk menjumpai Siraja Bunga – bunga (Siraja Parmahan ) yang telah dinobatkan Tuan Sihubil menjadi anak kesayanga di Hinalang Belige.

Si Borsokraja (Ompu Sinabang) berjalan menepi – nepi pantai menuju Pangururan di pulau Samosir . Setelah ia tiba di Pangururan di dengarnya ada seorang puteri Raja Simbolon yang cantik rupawan dan pandai berperi bahasa dan teka –teki ( marundang – undangan dohot marhuling –hulingan). Mendengar berita itu ia tertarik dan berniat akan mencoba kepandaian puteri raja serta melamarnya.

Si Bursokraja ( ompu Sinabang ) pergi menjumpai puteri raja yang sedang bertenun diatas sopo . dengan membunyikan saga – saga / hodong ( sejenis alat musik ) dia berkata: “Natiniptip sangar mambahen huruhuruan < jumalo sinungkun marga asa binoto partuturan . molo na mariboto dengan do marsijalangan, molo na marpariban denggn do marsihaholongan :”( Dipotong – potong pinpin, dibuat sangkar burung, lebih dahulu tanya marga supaya jelas kerabat penghubunmg. Kalau bersaudara baik jaga bersalaman, kalau putri paman alangkah baiknyamemadu cinta kasih sayang, katanya sambil melihat ke atas sopo itu .

Mendengar tutur kata melalui saga – saga itu, putri raja tercengang dan melihat seorang pemuda datang mendekatinya , tampangnya gagah perkasa menunjukan seorang keturunan raja. Puteri rajapun menjawab dengan saga – saga :”Amang raja doli , na ro manungkum mandiori, ia siboruadi I ma Si Rumandangbulan Si Sindarmataniari , na tong – tong lungun – lungan paima –ima si tuan doli na gabe sirongkap ni tondi , boru ni Simbolontuan na malo manotari. “( yah anak perjaka yang mencari, namaku adalah Si Romundang bulan SiSindarmataniari, yang selalu merindukan pemuda teman sehidup semati, puteri Simbolon tuan yang bijak mentari ) katanya memperkenalkan diri.

Kemudian Si Bursokraja ( Ompu Sinabang ) meperkenalkan dirinya cucu Raja Silahisabungan yang Hidup berkelana mengadu untung di rantau orang dan berkata : “ Sibigo pidong Toba, sitapi-tapi pidong jau, Adung na solot di bagasan roha, tu ise iba mengadu-adu ?” ( Sibigo burung toba, sitapi-tapi burung jauh, ada terselip dalam hati, kepada siapa saya akan mengadu ? ) katanya menyampaikan cinta kasihnya kepada putri raja itu.

Mendengar nama raja Silahisabungan yang terkenal seorang Datu Bolon, Sabungan ni hata, sabungan ni habisuhon, putri raja pun berpikir sejenak dan berkata : “ Molo toho do adong holong diate-ate, denggan ma pasahat tu damang simbolon tuan, alai jumolo lului ma di ahu bagot ni horbo tunggal !”  ( kalau benar dolok tolong di balige, dolok pusukbuhit di Pangururan, kalau benar ada cinta didalam hati sampaikanlah kepada ayah Simbolontuan, tetapi cari dulu untukku susu kerbau jantan ) katanya mencoba keahlian si Bursokraja ( Ompu Sinabang ).

Kemudian si Bursokraja ( Ompu Sinabang ) berpikir bahwa permintaan puteri raja itu adalah teka-teki ( undang-undangan = torkan-torkanan ) lalu menjawab :

“ Mauliate ma boru ni rajanami, sude pangidoanmi luluanku do i, alai paborhat ma tugongku boras ni sirumondang bulan, sidua sangkabona, meam-meam ni dakdanak harosuon ni na magodang !” ( terima kasih putri Raja, semua permintaanmu aka kupenuhi, tapi berikanlah bekalku, buah Sirumondangbulan, yang dua setangkai, permainan anak – anak, kesukaan orang dewasa.) katanya menjawab teka – teki itu.

Puteri Raja itu termenung memikirkan teka – tekinya ( undang – undangannya) sudah terjawab, lalu berkata : “  Molo boti, nangkok ma hamu tu lambunghon, alai unang dege belatuk  ( tangga ) i . “  (Kalau begitu, naiklah kamu kesampingku, tetapi jangan pijak tangga itu ). Katanya mengajak Sibursokraja ( Ompu sinabang ) sambil mencoba keahliannya. Dengan Spontan Si Bursokraja ( Ompu Sinabang ) Membuka Topinya dan berkata :” Tiop Ma tahulup on tanda na marsijalangan kita.” ( peganglah topiku ini tanda kita bersalaman), katanya sambil melemparkan topinya kepada putri raja untuk menjawab teka – teki Putri itu.

Kemudian Putri Raja mempersilahkan Si Bursokraja ( Ompu Sinabang ) naik keatas lalu mereka bersalaman dan berbincang – bincang dengan penuh kemesraan. Setelah beberapa lama mereka berkanalan dan memadu cinta akhirnya mereka kawin yang direstui orang tua Raja Simbolontuan.

Pada Suatu ketika istrinya Sindarmataniari br.Simbolon meminta kepada Ompu Sinabang agar mereka pergi memperkenalkan diri kepada mertuanya di Silalahi Nabolak. Tetapi dijawab Ompu Sinabang dengan halus :” sabarlah dulu menunggu waktu yang tepat,” katanya untuk menyembunyikan Rahasianya. Setelah beberapa kali diajak istrinya dan didesak mertuanya agar mereka pergi menjumpai orangtua di Silalahi Nabolak, akhirnya Ompu Sinabang terpaksa menyetujui dan berkata :” Molo boti jumolo laho ma ahu tu Balige, mandapothon dahahang Siraja Bunga – bunga ( Siraja Parmahan ) asa Adong donganta mandapothon damang !” (Kalau begitu, lebih dulu saya pergi ke Balige, menjumpai abang Siraja Bunga- bunga (Siraja Parmahan) supaya ada teman kita menjumpai ayah !”) katanya berdalih untuk menyembunyikan Rahasinya. Si Sindamataniari br.Simbolon dan mertuanya menyetujui, karena dianggap alas an Si Bursokraja ( Ompu Sinabang ) sangat baik. Berangkatlah Ompu Sinabang.

Pada Saat ompu Sinabang tiba di Muara, rupanya ada terjadi perang diantara Toga Sianturi ( Marga Simatupang ) dengan pihak lain. Setelah Toga Sianturi berkenalan dengan ompu Sinabang, Toga Sianturi meminta bantuan Ompu Sinabang sebagai panglima perang, karena diketahui bahwa ia adalah keturunan Raja Silahisabungan yang terkenal di antara kawan atau musuh. Mendengar panglima perang Toga Sianturi keturunan Raja Silahisabungan, musuhnya pun lari Meninggalkan Muara.

Karena jasa Ompu Sinabang dan untuk menjaga keamanan negeri, Toga Sianturi mengawinkan Putrinya Siboru Anting Haomasan dengan Ompu Sinabang. Toga Sianturi memberikan pauseang kepada menantunya yakni “ Sopo sianting – anting dan mas Sihosari / Mas Siboru lote.”

Pada suatu ketika istrinya Siboru Anting Haomasan meminta agar mereka pergi menjumpai mertuanya di Silalahi Nabolak bersama istrinya Siboru Anting haomasan berangkat meninggalkan Muara. Mereka diberangkatkan Toga Sianturi dari Bontean onon batu dengan Solu Jagaibuar ( perahu besar ) bersama Sopo Sianting – anting di atasnya. Mereka berangkat menuju Silalahi Nabolak melalui tao lontung untuk menjauhio jejak dari Pangururan.

Pada saat mereka berlayar di tao Ambarita, Ompu Sinabang melihat ada orang melambai- lambaikan tangan (manghilap ) seakan – akan  memanggil supaya mereka berlabuh kapantai Ambarita. Rupanya saat itu ada upacara “ Manarsar Lambe “ ( menyembah dewa laut ) yang dilakukan penduduk negeri yang bermaksud mengadakan Horja Sakti Mangalahat Horbo Bius di Ambarita.

Setelah penduduk negeri yang terdiri dri marga Sidabutar, Siallagan dan Rumahorbo ( Keturunan Nai Ambaton ) beserta marga manik keturunan Silauraja berkenalan dengan Ompu Sinabang, maka penduduk berkata :” Nunga sada tua on, ro hamu pomparan ni Raja Bolon, diulaon “ manarsar Lambe. Ala naeng mangalahat horbu bius luat Ambarita on, beha tung dohot hamu di Horja on !” ( sudah satu berkat ini, datang, datang keturunan Raja Besar pada Manarsar lambe ini. Karena akan diadakan pesta besar“ mangalahat Horbo Bius “ di Ambarita ini, bagaimana kalau kalian ikut dalam pesta ini ) kata mereka mengajak Ompu Sinabang dan Istrinya. Ompu Sinabang menjawab dengan rendah hati :” baris – baris ni gaja tu rura Pangaloan, molo mangido raja dae do so oloan, molo so noloan tubu do hamagoan, molo nioloan sai tubu do pangomoan !” ( Permintaan raja tak boleh ditolak ) katanya tanda setuju sambil memberikan pengertian kepada istrinya Siboru Anting Haomasan. Kemudian Ompu Sinabang berkata:” Molo boi jumolo hualap ma boru ni raja i Si Sindarmataniari br.Simbolontuan sian Pangururan asa rap manortor hami di horja on !” ( kalau boleh kujemput dulu puteri raja Si Sindarmataniari br. Simboluntuan dari Pangururan supaya kami sama – sama menari pada pesta ini ) katanya sambil meminta persetujuan istrinya Siboru Anting Haomasan.

Kemudian penduduk negeri keturunan Raja Nai Ambaton berkata :” Na uli ma tutu I, ai Raja ni borunami do hamu  ape. Hunga Singkop be horja sakti on, ai nunga adong Raja ni Hula – hua, Raja ni Dongan tubu dohot Raja ni Boru !” ( sungguh baik sekali, upaya kalian adalah menantu kami. Sudah lengkap pesta besar ini, sudah ada Raja ni Hula – hula, Raja ni Dongan Tubu dan Raja ni Boru) kata Mereka.

Kemudian Ompu Sinabang pergi ke Pangururan menjemput istrinya Sindamataniari br, Simbolon dan membujuk agar ikut ke Ambarita mengikuti Horja Sakti mangallang horbo bius yang dibuat keturunan Raja Nai Ambaton.

Sewaktu Ompu Sinabang merari bersama Istrinya, dibuatnya Si SIndarmataniari br.Simbolon disebelah kanan sedang Siboru  Anting  haomasan br.Simatupang disebelah kirinya. Pada pesta Horja Sakti itu, dinobatkan Ompu Sinabang menjadi Boru Bius dan diberikan Ulos so ra buruk, yairu tano Tolping. Dengan diangkatnya Ompu Sinabang menjadi Boru Bius, maka dengan berbagai upaya dia membujuk kedua istrinya agar tetap tinggal di Tolping lalu berkata :” untuk apa lagi kita pergi ke Silalahi Nabolak, sedang kita sudah ditetapkan menjadi Boru Bius, nanti kita dianggap kurang menghargai pemberian Raja ni Hula – hula,” katanya berdalih supaya rahasianya tertutup.

Ompu Sinabang bersama kedua istrinya akhirnya membuka kampung dan tinggal di Tolping. Setelah hampir satu tahun mereka tinggal di Tolping, kedua istrinyapun mengandung.

Pada suatu hari istrinya Sindamataniari berkata :” kami sudah  sama – sama hamil tua dengan Anting Haomasan, tidak mungkin satu Rumah. Kalau boleh antarkan lah saya ke Pangururan, biar disana aku melahirkan ,” katanya dengan pasrah. Setelah Ompu Sinabang berembuk dengan kedua istrinya maka diantarlah Sindarmataniari ke pengururan.

Baru beberapa hari mereka tinggal di Pangururan lahirlah seorang anak laki – laki. Saat Sindarmataniari melahirkan, tiba pula utusan dari Tolping memberitahukan bahwa Siboru Anting Haomasan telah melahirkan seorang anak laki – laki. Ketika utusan dari Tolping mengajak Ompu Sinabang, ipar (eda ni ) Sindarmataniari berkata:” Jumolo mangan ma hati amang, ai dison pe nunga seorang Si Bursok,” (makanlah dulu kita amang, disini pun sudah lahir SI Bursok) katanya menyambut utusan itu.

Mendengar kata – kata “Sibursok” yang diucapkan besannya (baona), Ompu Sinabang tidak mau makan dan mukanya terlihat murung. Istrinya Sindarmataniari br.Simbolon memperhatikan perilaku suaminya itu lalu berkata :” Boasa ndang mangan hamu, ai aha huroha na hurang ?” ( mengapa kamu tidak makan, apa kiranya yang kurang.) katanya sambil menyodorkan sirih. Ompu Sinabang menjawab dengan teka – teki :” Pantang dohonan ni besan (bao) songon I asa sinur pinahanna!” ( pantang diucapkan besan begitu begitu supaya peliharaannya baik ) katanya sambil mengunyah sirih yang diberikan istrinya.

Istri dan besannya itu saling berpandangan mendengar kata – kata Ompu Sinabang itu. Kemudian utusan dari Tolping itu berbisik :”ra, Sibursok do goar ni amang on, Alana goar ni besan (bao) naso jadi dohonan.” ( mungkin nama amang ini Sibursok, karena nama besan pantang disebutkan) katanya dengan pelan.

Semua yang hadir mengerti dan sejak itu anak yang baru lahir itu disebut “Si Pantang “. Menurut kebiasaan marga Silalahi di Pangururan bila lahir anak laki – laki tidak boleh disebut Sibursok seperti kebiasaan orang batak.

Setelah selasai robu – robua ( tujuh hari tujuh malam ) Ompu Sinabang pergi Tolping dan dijumpainya Siboru Anting Haomasan sedang menyusukan anaknya. Ompu Sinabang kepada istrinya:” Sudah dua orang anakku Laki – Laki, terima kasihlah kepada Mula jadi, kiranya mereka menjadi anak yang bijak bestari,” katanya dengan penuh harapan, mengingat kutukan ayahnya dari Silalahi.

Setelah kedua anaknya itu besar diajarkannya berbagai Ilmu Pencaksilat dan sering diadu pertandingan sepak terjang terjang ( Martada ), ia disebut Martada, maka ia disebut partada. Keturunan Si Pantang tinggal di Pangururan dan keturunan partada tinggal dan memekai marga Silalahi.

Setelah Partada beranak di Tolping, datang pula kesana keturunan Siraja Silahisabungan telah (Manjaee sian Bius Amping, Karena banyak keturunan telah banyak bermukim di Tolping karena keturuannaya telah banyak karena keturunan Raja Silahisabuguan telah banyak bermukim di tolping ) yang disebut Bios Tolping denga Raja tanah pemangku Raja adar :”

1. pande bona ni ari marga Silahoho dai dibisa
2. Pande  Nabolon marga Silalahi dari Sibisa
3. Raja Panuturi marga Silalahi keturunan Partada.
4. Raja Panullang  marga Sigiru dari bukit.

Dengan terbentuknya Bius Tolping maka tanah keturunan Raja Silahisabungan di pulau Samosir “ tano so magotap sian Parbaba sahat tu Tolping.”  Download Tumaras Bab. VIII

Iklan

Bab. VI.3. Berita Mata Sopiak

Mata Sopiak anak Tuan Pagar Aji dari Tambunan adalah seorang Datu Bolon yang memiliki roman muka yang menyeramkan . Matanya hanya satu terdapat di dahi , besarnya seperti palu – palu ni agong di sertai alis mata yang lebat. Berita yang turun – temurun tentang mata Sopiak adalah sebagai berikut :

Dung doli – doli pamatang ni mata Sopiak , laho ma ibana mardalani tu luat Pangaribuan sahat tu bona ni dolok Saut. Ala ni  lo jana mauas ma ibana . dilului ma pansur paridian laho pasombu uas. Di tingki sahat Mata Sopiak tu sada pansur paridian l, pajump-ang maibana dohot boru ni raja luat I na margot Sialang di robean ,na tau pangalu – aluan na olo pangunalaen. Dibereng Sialang dirobean ma bohi ni Mata Sopiak, Dung sahat tu jabu manompas ma boru ni raja i, di papeakpamatangna ndang haru tu talaga ndang haru tu halangulu. Dung diida amana borruna I songon I sungkun – sungkun ma rohana laos didok:”Madekdekhias – hias inang sian tangan ni pambau , manimbas nimbas boru ni raja , begu aha ulaning naso mar4labu ?”Dialusi borona I ma : “mangangkat ma bingkorung amang tu tali ni hu dali , tundal pinarhatutu nidok ni siniar ni aji :mabiar ahu nangkining umbahen ro maringkati , so dung huida songon I anggo di bongka siapari, “ninna boruna i. ro mamuse amana manangkasi :” Ba aha ma I huroda borrungku ?” ninna .didok boruna i9 ma , adong huida sada jolma rat u pansur paridian asing tompa ni bohina , sadado matana di pardompahanna , balgana nasa palu – palu ni ogtung , jala sumalin pot – pot ni imbuluna .

umbege hata ni boruna I longang ma raja I, disuru ma naposona mamareng tu pansur paridian hape di harbangan  ni huta I do pe, nunga pajumpang nasida dohot Mata Sopiak. Di bereng naposo ni raja I ma bohi ni Mata Sopiak , logam –logaman ma ala ni biarna , laos didok : “dilului raja I hamu amang ,” ninna mardongan biar. Dialusi Mata Sopiak ma :”Beta ma , ahu pe naeng mandongan biar .di alusi Mata Sopiak ma:” Beta ma ahu pe naeng mandapothon raja i do ,”ninna. Dung pajumpang dohot raja I, disungkun ma Mata Sopiak :” Isedo hamu jala sian dia hamu llae, “ ninna raja i.Songo na longang Mata Sopiak mambege hata ni raja I , songon na longang  Mata Sopiak mambage hata ni raja I, so pola martutur pintor didok lae. Ala hurang suman di hilala rohana , dialusi ma:”Anggo goarhu huboan – boan do,hutangku pe dao do lae ,” ninna huhut songon na di pabollang simalolongna. Marnida ma raja I, laos didok ma:”Tu jabu ma hita asa jumolo mangan nunga loja hamu hubereng ,”ninna songo na pasangaphon . di suru ma patupaon ni naposona sipangannon . disseat ma sada pinahan lobu , sada biang , sada huting dohot sada manuk .dung masak di paarade ma tu jolo ni Mata Sopiak alai jumolo diisi do dohot rasun tu bagasan lompana I . dung I didok raja I ma : “Nunga rade sipanghanon lae mangn ma hita ” ninna songon na pajagarhon.

Andorang so mangan dope didok nata Sopiak ma :”Ai juhut aha do lompanta on, somgon na godang hida massamna, “ ninna huhut songon na dipaserbeng matana tu rja i. dung I didok raj I ma :” Sillang na tupa ma lee, angka naposo I patupa hon sian huboto manang na juhut aha I,” ninna.

Dung I dibuat Mata Sopiak ma pitu lili tunggal sian hajutna laos diboshikhon pitu hali tu lompan naung rade dijolona. Di dokma:” ia biang do ho mrauang ma, molo babi do marngiak – ngiak ma ho, ia huting do marngeong ma ho, molo manuk do marandepande ma ho !” ninna huhut dipabollang matana. Pintor mangangkat be ma na ginoaranna I sian parlompannan I, jala mangkuling songon pinangido ni mata Sopiak. Dung I didok mata Sopiak ma :” Rupa ni naso Sipanganon do pinatupa ni nasopo I, ai mengangkat do sude sian piring, denggan ma seat hamu sada pinahan lobu asa rap mangan hita,” ninna songon na paposhon roha ni raja i.

Marnida na masa i mabiar situtu ma raja i, disuru ma patupahon songo pangidoan ni mata sopiak. Dung simpul mangan nasida disuru raja i ma naposona patupa podoman ni mata sopiak diatas sopo ala mabiar do raja i rap modom di jabu. Ala ni lojana tung rengee do mata sopiak na modom i, ndang di boto na Masa borngin i. hape di tonga borngin i, na bungkas do raja i dohot pangisi ni huta i tu luat na asing. Dung dungo mata Sopiak monogot i, tarsonggot ma ibana marnida naung bungkas pangisi ni huta i. laho ma ibana tu balian ni huta patangkashon, hape naung sude do pangisi ni luat i bungkas ala sar barita naung ro datu bolon margoar “ Dao lae “ tompa ni bohina sihabiaran, hadatuon na ndang tarimbangan. Dung ilaho ma mata Sopiak mardalani tu robean ni dolok na jonok tu huta i. Pajumpang ma ibana disi do hot sada ina-ina na mabalu dohot sada baruna na marbaju. Di sungkun Mata sopiak ma manang tu dia laho maporus pangisi ni luat i. Alai dialusi ina-ina na mabalu i ma :” I ale amang, sian dia ma botoonnami, ai na mabalu do ahu,” umbahen marborngin-borngin hami dohot borungku dirobean on,”ninna huhut dipasingkop pardalananna naeng moporus marlojongi ala ni biarna. Alai pintor ditangkup Mata Sopiak ma boruna na marbaju i huhut didok: “Dope ni dopi na arsam na tata, ahu ma dihalangulu, ho ma dinggan talaga, asa denggan ma roha ni inang pangintubu, hita ma mardongan sajabu, nanna huhut mangelak boru-boru ma :”Hodong da pahu tubu di liang-liang, molo holo roham diahu, naso jadi be sirang,” ninna mambahen parpadanan. Dioboan Mata Sopiak ma boru-boru i dohot innana tu huta, jadi saut ma nasida mardongan saripe.

Marpinompari ma Mata sopiak diluat i sahat tu Angkola, pinomparna ma marga Daulay na sahat tu padangbolak Gunung Tua.

Download cerita lengkap Tumaras Bab VI.

Bab. VI.2. Berita keturunan Siraja Tambun

Si Raja Tambun yang dinobatkan menjadi “Raja Boru “ di Sibisa dengan nama Raja Itano , tidak kembali lagi ke Silalahi Nabolak , Ia bersama Pintahaomasan br. Manurung tetep tinggal di Sibasa dan di berikan Tuhan 3 ( tiga ) orang anak laki – laki, yaitu :

1. Tambun Mulia
2. Tambun Saribu
3. Tambun Marbun .

Tambun Mulai mempunyai 2 (dua ) anak laki – laki , yaitu :

1.Tambun Uluan
2.Tambun Holing.

Tambun Uluan tetap tinggal di Uluan, keturunannya memakai Marga Tambun. Tambun Holing pergi ke Tambunan sekarang dan mempunyai anak laki – laki 3 (tiga ) orang, Yaitu :

1. Raja Ujungsunge
2. Tuan pagar Aji
3. Datu Tambunan Toba.

Seorang anak Tuan Pagar Aji, bernama Mata Sopiak pergi Angkola keturunannya memakai marga Daulay .

Datu Tambunan Toba mempunyai 3 (tiga) orang anak laki laki , yaitu
1. Raja Baruara
2. Datu Gontam (lumban Pea )
3. Raja Parsingati (lumban Gaol)

Keturunan Tambun holing pada umumnya memakai marga Tambunan,dan banyak yang pergi ke Sigotom .

Menurut turasi dan tarombo Siraja Tambun, Tambun Saribu mempunyai 3 orang anak laki – laki, yaitu :

1. Doloksaribu
2. Sinurat
3. Nadapdap,

Tetapi Tambun Marbun belum belum jelas ketunannya. Menurut tuirasi dan tarombo Raja Silambungan , keturunan Siraja Bunga – bunga ( siraja Parmahan ) yang tinggal di hinalang Balige kembali membuat sagu – sagu marlangan di Onan Raja Tambunan untuk mengingat “ poda sagu – sagu marlangn “yang di buat Raja Silahisabungan di Silalahi Nabolak.

Dengan adanya turasi dan tarombo Siraja Tambun yang menyatakan Doloksaribu , Sinurat dan nadapdap keturunan Tambun Saribu maka timbul permasalahan karena pada umumnya marga Doloksaribu, Sinurat dan nadapdap mengaku ketunan Siraja Parmahan yang memakai marga Silalahi . Untuk memurnikan Poda sagu – sagu marlangan maka di anjurkan agar keturunan Siraja  Parmahan memakai

1. Silalahi Doloksaribu
2. Silalahi sinurat
3. Silalahi nadapdap.

Dan bila keturunan Tambun Saribu di anjurkan memakai

1. Tambun Doloksaribu
2. Tambun Sinurat
3. Tambun nadapdap

Sesuai dengan  anjuran  Panitia Pusat Tarombo Raja silalahibungan tahun 1968 . Keadaan ini harus diterima dengan lapang dada dan tak perlu diperdebatkan, biarlah masing-masing oknum atau kelompok menentukan kedudukannya dengan berpedoman kepada sagu – sagu marlangan . Harapan ini sangat diperlukan demi persatuan dan kesatuan keturunan Raja Silahisabungan.

Bab. VI.1 KISAH SIRAJA TAMBUN DI SIBISA

DALAM PERJALANAN DARI Silalahi Nabolak, Raja Silahisabungan menceritakan perkawinannya dengan Siboru Nailing putrid Raja Mangarerak kepada anaknya Siraja Tambun. Karena perkawinan kami dahulu mempunyai masalah jadi kemungkinan kehadiranmu diSibina ini menimbulkan persoalan. Jadi kau anakku – harus hati –hati dan pandai bergaul. Disamping ilmu yang kau miliki perlu kau ingat :” pantun hangoluan, tois hamagoan.” Bila anakku berperangi sopan ( santun, Porman, toman, ) dalam hidupmu maka tercapailah kebahagiaan hidup dan apabila kamu lengah (tois) menghadapi masalah akan timbul malapetaka. Dikampung kita, perasaanmu sangat sedih karena perbuatan abang – abangmu, tetapi mungkin lebih sakit lagi perasaanmu nanti di Sibisa ini, kata Raja Silahisabungan samil memberikan sebuah cincin ( tintin Tumbuk ) yang diserahkan Siboru Nailing sewaktu mereka berpisah dahulu. Cincin inilah nanti tunjukkan, pertanda kau adalah anak Siboru Nailing katanya kepada Siraja tambun.

Setelah mereka tiba di Sibisa, Raja Silahisabungan mendengar kabar bahwa Siboru Nailing belum lagi kawin, lalu ia menerangkan ciri – ciri Siboru Nailing kepada Siraja Tambun. Kemudian Raja Silahisabungan membawa Siraja Tambun keumbul ( mual ) Simataniari dan berkata :” Disinilah tunggu ibumu itu, nanti sore ia pasti mandi dan mengambil air dari umbul ini,” katanya dengan penuh keyakinan.

Pada sore harinya Siraja Tambun melihat seorang perempuan pulang dari umbul membawa air lalu ia menyapa :” inang boi do inumonku saotik mual na binoanmi ? nunga mauas ahu!” (bu, bolehkah sedikit air itu itu saya minum ? sudah haus aku ) katanya minta belas kasihan. Lalu perempuan itu menjawab dengan tercengang : Ise do hamu ito, jala sian dia hamu ro tu huta on ? songon na lulu roha mauas hamu dibot ni ari !” ( siapakah kamu ito, dan dari mana datang kekampung ini ? seperti tak masuk akal, merasa haus ito pada sore hari ) katanya sambil memberikan air untuk diminum Siraja Tambun. Setelah Siraja Tambun minum lalu ia berkata :” jolma na dangol do baoadi, na madekdek sian langit, na mapultak sian bulu bolon na maos – aos malungun mangalului inang pangintubu,” ( manusia malangnya aku, yang jatuh dari langit dan lahir dari ruas bamboo,  yang sudah lam berkelana dan rindu mencari ibu yang melahirkan ) katanya dengan sopan santun. Mendengar ucapan kata – kata itu, perempuan itu teringat kepada anaknya yang dibawa Raja Silahisabungan dulu, lalu berkata:” Ala Naung bot ari ito, tu jabunami ma jolo hamu marborngin, sai na patuduon ni mulajadi Nabolon do na niluluanmi,” ( karena hari sudah sore, dirumah kamilah ito bermalam, Tuhan Yang Maha Kuasa akn memberi petunjuk nanti kepadamu ) katanya sambil mengajak Siraja Tambun supaya ikut ke rumah orangtuanya.

Siraja Tambun menyambut ajakan perempuan itu karena itu karena ia yakin bahwa itulah ibunya sesuai dengan ciri – ciri  yang diterangkan Raja Silahisabungan. Setelah mereka tiba dirumah Raja Mangarerak dan pamannya Toga manurung bertanya :”Siapa pemuda ini Boru Nailing ?” kata Taja Mangarerak. Siboru Nailing menjelaskan pertemuan mereka di Mual Simatraniari lalu berkata :” na asi do rohangku mamereng, aia didok ndang marama – marina ibana, ala naung bot ari hutogihon  ma tu jabu asa dison ibana. Marbongin.” ( kasihan aku melihatnya, karena katnya tidak ada ayah – ibunya, karena hari sudah sore maka kuajak kerumah untuk bermalam.)

Raja Mangarerak berkata :” unang ma mambahen persoalan muse baoa on. Nunga songon bagianmu ditinggalhon Raja Silahisabungan , sotung mambahen gora ho muse diluat on , “(jangan nanti pemuda ini membuat persoalan , sudah demikian nasibmu ditinggalhon Raja Silahisabungan , jangan lagi kau membuat huru –hara dinegeri ini ) katanya dengan nada keras . lalu adik Siboru Nailing, Toga Manurung berkata : “ndang songon amang , dengg tasungkun baoa on manang na olo do mangurupi hita. “ (jangan begitu ayah , lebih baik kita tanya pemuda ini apakah dia mau membantu kita.) katanya sambil menanya Siraja Tambun. Setelah mendengar kata – kata Raja Manggarerak dan pernyataan Toga Manurung lalu ia menjawab :” Molo holong do roha ni raja I manjampi ahu gebe hatoban do ahu,” ( kalau Raja menginginkan aku, menjadi hamba pun saya mau ) katanya merendahkan diri karena dia sudah yakin bahwa Siboru Nailing itulah ibunya tetapi masih disembunyikan menjaga hal – hal yang tidak diinginkan. Sejak hari itu, Siraja Tambun menjadi pembantu Toga Manurung untuk mengembalakan ternak (permahan ) dan pekerja lainnya.

Dari pertemuan di Umbul (mual) Simataniari, Siboru Nailing merasa ada kontak batin membuat ia sayang melihat pemuda itu ( Siraja Tambun ) tetapi ia tidak mau bertanya siapa sebenarnya pemuda itu, walaupun Siraja Tambun sebagai pembantu (hamba) dirumah toga Manurung tetapi Siborung Nailing memperlakukannya sebagai tamu biasa, kalau ia disuruh mengantar nasi Siraja Tambun keladang selalu dibuat makanan yang enak bukan makanan seorang pembantu. Dan mereka sering bercakap – cakap bersenda gurau bagaikan seorang ibu dan anak.

Pada suatu hari Siboru Nailing pergi keladang mengantar nasi Siraja Tambun. Karena hari terasa  sangat terik Siboru Nailing mengajak ia ( Siraja Tambun ) supaya berteduh dibawah pohon rindang melepaskan lelah. Sewaktu mereka bercakap – cakap, karena lelahnya Siraja Tambun terlena dan tidur dipangkuan Siboru Nailing. Karena Siboru Nailing terlambat pulang sebagai biasa, Toga Manurung pergi keladang melihatnya. Saat itulah Toga Manurung terkejut melihat Siraja Tambun tertidur dipangkuan Siboru Nailing, lalu berkata :” na so adat na so uhum do pambahenmo. Ho sada hatoban barani pulut modom diabingan ni Siboru Nailing. Jolma na jahat do huroha baoa on, jadi ingkon uhumon do ibana jala beanghonon.

( Perbuatanmu sudah melanggar hukum dan adat . Kau adalah seorang hamba, tetapi tega tidur di pangkuan Siboru Nailing .Orang jahat kau rupanya , jadi kau harus di pasung ) kata Toga Manurung sambil memarahi kakaknya Siboru Nailing . Siboru nailing tidak dapat berbuat apa – apa dan Siraja Tambun pun dihukum pasung .

Setelah Siraja Tambun dipasung terjadilah malapetaka di uluan. Sudah hampir enam bulan terjadi musim kemarau panjang mengakibatkan tanah Uluan menjadi kekeringan. Akibat musim kemarau itu  Raja Manggarerak dan Toga manurung mencari dukun untuk “marmanuk diampang” menanya penyebab malapetaka yang menimpa negeri uluan. Setelah diadakan upacara marmanuk diampang, dukun berkata : “ adong anak ibebere na pinatangis – tangis jala na pinasiak – siak, ingkon paluaon do ogung sebangunan jala patortoran bere na pina siak – siak asa ro udan paremean.” Rupanya ada kemenakan yang menangis tersiksa dan teraniaya. Harus dipukul gendang dan dibuat menari kemenakan yang tersiksa agar datang hujan pemberi berkah )

Raja Manggarerak dan Toga Manurung bertanya – Tanya siapakah gerangan kemenakan yang menangis tersiksa dan teraniaya ? lalu Toga Manurung berkata :”Ai so adong berengku tubu ni itongku siboru nailing,” (tak ada kemenakanku, anak kakak Siboru Nailing ) katanya. Kemudian Siboru Nailing berkata :” unang dok songon I, tangkasi hamu ma jolo baoa na hona beang an, atik beha anakku do I na binoan ni Raja Silahisabungan,” ( jangan ucapkan demikian, teliti dulu pamuda yang terpasung itu, apakah itu anak saya yang dibawa Raja Silahisabungan ) katanya memecahkan persoalan. Mendengar keterangan Siboru Nailing, Toga Manurung membuka pasungan dan bertanya :” hei anak muda siapa kau sebenarnya?“. Lalu pemuda ( Siraja Tambun ) menjawab :” aku adalah Siraja Tambun, Anak Raja Silahisabungan dari Silalahi nabolak,” katanya sambil menunjukkan Cincin ( Tintin Tumbuk ) yang diberikan Raja Silahisabungan. Dengan tiba–tiba Siboru Nailing mendekapnya dan merangkulnya dan berkata :” ahu do inangmu pangintubu, nunga gabe ahu hape, nunga hudahop anakku tambun ni ate–ate urat ni pusu – pusu. Ai tintinku do tintin tumbun on na umbun tu sude jari – jari,: ( akulah ibumu yang melahirkan kau, sudah kupeluk kau, sudah kupeluk anak buah hatiku, urat nadi jantung. Cincin ini adalah milikku yang dapat masuk kesemua jari – jari,”) katanya.

Kemudian Toga Manurung berkata  “ nunga godang salah nami bere. Pandok ni datu ingkon patortoran do ho jala paluan ogung sabungan asa ro udan paremean.” (sudah banyak kesalahan kami bere, menurut dukun kau harus dipestakan dengan memukul gendang baru turun hujan pembawa berkah.) lalu Siraja Tambun menjawab :”molo songon I do tulang, laho ma jolo ahu mangalapi dahahang ke Silalahi.”(kalau begitu permisilah aku dulu biar kujemput abang – abangku ke Silalahi).

Setelah ada pengakuan Toga Manurung akan “Patortoran “ Siraja Tambun, langitpun mendung dan tidak berapa lama turunlah hujan lebat membuat penduduk negeri merasa gembira. Melihat tanda –tanda yang menggembirakan ini, Raja Manggarerak berkata:” Tak boleh cucuku Siraja Tambun pergi KeSilalahi. Lebih baik kita suruh kaum kerabat menjemput abang–abangnya,” katanya untuk menjaga Siraja Tambun mengilangkan Jejak. Kaum kerabat dan Raja–Raja dikumpulkan untuk memberitahukan pelaksanaan gondang sabangunan patortorhon Siraja Tambun dipogu ni alaman, sambil mengutus beberapa orang menjemput abang Siraja Tambun dari Silalai Nabolak.

Mendengar penjelasan Raja Mangarerak dan Toga Manurung, kaum kerabat dan Raja – raja yang diundang berkata :” Nunga Gabe Siboru Nailing, nga doli–doli boras ni siubeonna. Adong boru magodang di Raja I Toga Manurung I ma Si Pintahaomasan. Siboan sangap dohot tua do Siraja Tambun, molo senggan roha ni raja I laos dipesta on ma nasida tapasu – pasu marhajabuan !” ( sudah bahagia ( gebe) Siboru Nailing, sudah dewasa anaknya. Ada juga puteri Raja Toga Manurung gadis remaja yaitu Si Pintahaomasan. Karena kedatangan Siraja Tambun membawa berkah dan kalau Raja berkenan, bagaimana kalau pada pesta ini mereka kita kawinkan !” kata raja – raja memberi usul

Lalu Toga Manurung menjawab :” Niat kamipun demikian juga, agar Siraja Tambun tetap tinggal di Sibisa, tetapi kita tanyalah puteri kita Si pintahaomasan bagaiman pendapatnya,” katanya menyambut usul kaum kerabat dan Raja – raja. Kemudian toga Manurung menanya Si Pintahaomasan tentang usul dan pendapat Raja – raja.

Mendengar usul raja – raja dan pendapat ayahnya Toga Manurung, Si Pintahaosan berkata :” ndang simanuk – manuk, manuk sibontar andora, ndang sitodo turpuk siahut lomo ni roha. Silaklak ni singkoru, sirege – rege ni ampang, gabe do na maranak ni namboru, horas ma na Marboru ni Tulang, Molo mamasu – masu damang parsinuan dohot raja – raja aha be na hurang ?” katanya tanda setuju.

Pada pesta “Patortor Sirja Tambun dan perkawinannya “ dengan Si Pintahaosaman br. Manurung, datang abang Siraja Tambun dari Silalahi Nabolak marsolu bolon ( naik perahu besar ) serta membawa gondang sebangunan. Disaksikan Siboru Nailing dan abang – abang Siraja Tambun yang datang dari Silalahi Nabolak, Raja Mangarerak, dan Toga Manurung memberi hadiah (pauseang) : Mual Simataniari, Hauma Sipitu, batangi dan Pinasa sidungdungonon. Kemudian Raja Mangarerak berkata :” Cucuku Raja Tambun, hakmu sekarang sudah sama dengan raja – raja di daerah ini. Di Silalahi Nabolak namamu Siraja Tambun, beberapa tahun kau di Sibisa ini disebut Siraja Parmahan ( Pengembala ). Mulai sekarang dinobatkan namamu Raja Itano, karena kau sudah marga tanah ( Martano golat ) di Sibisa,” katanya sambil mengikatkan “ Tali – tali harajaon boru,” dikepala Siraja Tambun.

Bab. V.12. Berita Wafatnya Raja Silahisabungan.

Pada masa hidup Raja Silahisabungan  Didekat Huta Liha ada sebuah Liang Batu (gua) tempat penyimpanan barang pusaka. Kemudian digua inilah Raja Silahisabungan terkubur dengan legenda yang menakjubkan. Raja Silahisabungan  diperkirakan meninggal tahun 1450 dalam usia 150 tahun dan istrinya Pinggan Matio br.Padang Batanghari diperkirakan meninggal tahun 1420. sewaktu Pinggan Matio br.Padangbatanghari meninggal, jasadnya (bangkena) dimasukkan ke Liang Batu itu.

Setelah istrinya tercinta meninggal dunia , Raja Silahisabungan  Hidup menduda berpuluh tahun dan sering bepergian ke Samosir, simalungun, Tanah Karo, Langkat, Deli Serdang, dan Dairi, mengunjungi cucu – cicit dan piutnya ( pahompu, nini – ondok – ondokna). Raja Silahisabungan Yang terkenal “ Datu Bolon jala Nasakti “ meninggal (mate) tidak sama seperti manusia biasa.

Pada suatu ketika tepat pada hari purnama (tula), Raja Silahisabungan mengumpulkan sanak keluarganya di Huta Lahi dan berkata : “ nunga Jonok tingki mulak ahu tu mulajadi Nabolon. Denggan- denggan ma hamu masihaholonan. Tongkin nari borhat ma ahu mandapothon parsonduk bolon tu Liang batu. Tusi ma pataru hamu  pangurason na gebe balanjongku, alai dung tutup liang lBatu I, naung marujung ma ngolungku. Jagaon ni raja harangan ( babiat) dohot ulok naga ma ngolungku. Jagaon ni Raja harangan (babiat) dohot ulok naga ma Liang Batu I, jala dipintuna Jongjong ma Sahala ni Si Saribu taon, paruban na mardangka, parjanggut na Sungkut tu hae – hae. Parbaju – baju haen bontar partali – tali sipiru dopa. Molo harangan dohot ulok naga mainganan i. holan sahala ni partodionku nama na boi mangurupi hamu. Molo mangido pangurupion hamu dokma, ale ompung Si Saurmatua,partambang liang batu. Partapian Simenakenak, ro ma hamu marhuta – huta, hami naeng mangido pasu – pasu dohot miak – miak, oloi ompung pangidoannami on. Jala molo manjou ahu boi do holan unte anggir pangurason dohot napuran simauliate,” katanya memberi pesan.

Setelah itu Raja Silahisabungan membuka pakaian kerajaan dan menyerahkan kepada putera sulungnya Lahoraja (Sihaloho) seang piso halasan (pedang Panglima) diserahkan kepada anak bungsunya Baturaja ( pintu batu). Kemudian ia memakai pakaian dari kulit kayu lalu pergi keliang batu. Selama tigapuluh hari anak – cucu – cicit dan piutnya bergantian mengantar unte anggir pangurason keliang batu itu. Setalah tiba hari purnama ( tula ) berikutnya terjadi gerhana bulan dan pada waktu itu terdengar suara gemuruh di Huta Lahi. Besoknya sanak keluarga melihat liang batu itu sudah tetutup. Rupanya pada saat suara gemuruh itulah Raja Silahisabungan menghembuskan nafas terakhirnya.

Semua sanak keluarga menangis bersedih hati karena tidak dapat berjumpa lagi. Cucu – cicit dan piutnya belum percaya, sehingga mereka datang menjenguk setiap hari. Setelah tujuh hari tujuh malam, Baturaja bermimpi bagaimana caranya membuka pintu Gua itu. Dengan memberikan sesajen kepada jaga harbangan sahala ni sisaribu taon, pintu gua terbuka dan mereka lihatlah jasad dari Raja Silahisabungan sudah terlentang didalam Gua. Setelah upacara selesai pintu Gua itu kembali tertutup.

Semenjak itu setiap bulan purnama penduduk negeri selalu mendengar ngaum harimau di gua itu, bila mereka melihatnya nampak mata harimau bersinar – sinar dan mata naga sakti sebesar ogung serta bayangan manusia berjubah putih, rambut beruban dan janggutnya putih sampai sebatas paha.

Setelah seribu hari Raja Silahisabungan wafat atau kira – kira tahun 1453, terjadi suatu peristiwa alam. Pada Suatu malam turun hujan lebat disertai guruh dan halilintar seakan – akan memecahkan anak teling. Saat itu terjadi tanah longsor, gua batu pecah dan timbul sungai yang membelah kampung. Sekarang disebut binanga Sibola Huta. Tujuh hari sesudah peristiwa ini Sahala (roh) Raja Silahisabungan mengingatkan kepada keturunannya bahwa batu Marlapis ( batu bertindih) yang terdapat diatas Huta Lahi tidak boleh dipijak oleh siapapun. Bila Tanah sekitar Batu itu dipijak akan timbul penyakit kulit (gadam).

Legenda wafatnya Raja Silahisabungan lama – kelamaan jadi dilupakan keturunannya karena dianggap bahwa makam (tambak) beserta barang pusaka sudah terbawa longsor ke tao Silalahi dan disanalah menjadi keramat bersama  Deang Namora. Tetapi berita terjadinya Binanga Sibola Huta dan Larangan menginjak tanah batu marlapis tetap turun menurun hingga ditemukannya kepastian melalui pemanggilan roh dan para ahli kebatinan, bahwa tanah batu berlapis didekat Huta Lahi itulah makam (tambak ) Raja Silahisabungan beserta istrinya Pinggan Matio br. Padangbatanghari.

Menurut Sahala ni Raja Silahisabungan yang dipanggil pada tahun 1970 dijabi – jabi sumandar, dikatakannya bahwa jasad ( bangke ) mereka tidak ikut terbawa air ke Tao Silalahi, tetapi semua barang pusaka sudah tersimpan didasar laut Tao Silalahi, pada saat itu dikatakan :”Adong do Partanda disi na mabola songon na marlapis, jala holi – holinami ndang dapot hamu be. Alai piso Sigurdung sudua baba I, disi do bungkus dohot ijuk diholang – holing ni batu. Manang ise hamu pomparanmu mandapot piso sahat ma tu ibana ha sangaponku “ kata sahala itu. Kemudian dipesankannya :” molo na ung dos rohamu sude pomparanku panangkok saring – saringnami dohot anakhonku tu tambak na timbo tu batu na pir, jumolo sungkun hamu jala elek hamu borungku Deang Namora asa tulus sude Sangkapmu.” Katanya mengakhiri percakapan dengan para tetua adat.

Untuk mengetahui Cerita selengkapnya tentang Sejarah Silahisabungan silahkan Download Tumaras Bab.V.

Bab. V.11. Berita Deang Namora.

Perpisahan di Huta Lahi kurang memuaskan Deang Namora. Sewaktu Raja Silahisabungan dan Siraja Tambun berangkat dari Huta Lahi, ia ikut mengantar ketepi pantai. Rupanya Raja Silahisabungan membawa Siraja Tambun ketuktuk Simartaja dan terus ke Nauli Basa untuk memperdalam ilmu Siraja Tambun. Deang Namora terus mengikuti mereka sampai ke Nauli Sibisa, ayahnya membujuk Deang Namora supaya kembali ke kampung Huta Lahi. Pada saat itulah Deang Namora menangis bersenandung yang memilukan hati:” Amang Siraja ibotna, marsirang ma hita ditano Nauli Basa, borhat ma damang tu tano Sibisa. Ahu do na pagodang – godang damang marsiak bagi, sian dakdanak sahat tu doli – doli, mulak ma ahu amang Siraja ibotna tu Huta Lahi, na boha do bagian ni Siboruadi?” katanya sambil melangkah berat hati.

Karena lelahnya berjalan ke Silalahi disertai perasaan sedih, Deang Namora duduk diatas batu melepaskan lelah sambil merenungi perpisahananya dengan siraja Tambun. Pada waktu itu ibotona (saudaranya) sudah mencari – cari Deang Namora. Mereka takut Deang Namora mandele ( putus asa) akibat keberangkatan Siraja Tambun, sewaktu mereka menemukan Deang Namora duduk – duduk diatas batu, lalu diajak supaya pulang kekampung. Tetapi Deang Namora menjawab:” saya sudah merasa senang ditempat ini. Disinilah kalian bangun undung – undungku ( pondok) tempat bertenun.”katanya. saudaranya membujuk dan berkata :” pulanglah dulu kita, supaya dibangun pondokmu, baru bawalah alat–alat tenunmu kemari,” kata saudaranya tanda setuju.

Setelah pondoknya dibangun, Deang Namora membawa alat – alat tenunnya ketempat itu, yang kemudian disebut Batu Parnamoraan. Disitulah Deang Namora tinggal sampai akhir hayatnya. Dan menjadi keramat yang berkuasa di Tao Silalahi.

Bab. V.10. Poda sagu–sagu Marlangan

Dengan mempergunakan Silompit dalan dan berlayar didaun sumpit, pada sore harinya Raja Silahisabungan telah tiba di Silalahi Nabolak. Begitu sampai dirumah tas hadang –hadangan terus ditaruh di atas para – para dan raja Silahisabungan duduk bersandar dengan muka murung. Melihat kejadian itu Pinggan Matio dan anak – anaknya tidak berani bertanya apa yang terjadi

Pada keesokan harinya pada waktu Raja Silahisabungan pergi memeriksa ladangnya, Pinggan Matio mendengar suara bayi menangis di atas Para – para lalu memeriksa tas hadang – hadangan Raja Silahisabungan. Pinggan Matio terkejut melihat seorang bayi yang cantik mungil didalamnya, kemudian memangku dan menimang – nimangnya agar tidak menangis lagi. Setelah Raja Silahisabungan kembali kerumah, istrinya Pinggan Matio bertanya :” amang Raja Nami, dari mana bayi lelaki yang cantik mungil ini? Katanya dengan ramah. Dengan suara yang lembut Raja Silahisabungan menerangkan asal – usul anak itu dan meminta agar memaafkan perbuatannya. Mendengar keterangan suami yang penuh kasih saying, Pinggan Matio berkata : “ Sudah Tambun ( Tambah ) anakku dan inilah anak bungsuku maka saya beri namanya Tambun Raja, “ katanya sambil mendekap dan menimang – nimang bayi itu. Mendengar pernyataan Pinggan Matio, Perasaan Raja Silahisabungan menjadi Lega.

Kasih saying ibu Pinggan Matio kepada  anak bungsunya Tambun Raja sungguh berlebihan sehingga menimbulkan Iri hati abang – abangnya. Raja Silahisabungan dan ibu Pinggan Matio sangat memanjakan Sitambunraja, yang kemudian terkenal Siraja Tambun. Pada suatu ketika Raja Silahisabungan mengadakan pembagian tanah ( Tano Golan ) kepada anak – anaknya agar jangan terjadi persoalan dikemudian hari. Dalam pembagian itu Siraja Tambun mendapat tanah yang paling luas dan subur yang mengakibatkan kecemburuan abang – abangnya.

Pada suatu hari terjadi pertengkaran antara siraja Tambun dengan salah seorang abangnya. Dalam pertengkaran itu terungkap kata – kata yang menyakitkan hatinya : “ hai raja tambun, kau jangan manja dan sombong. Kau bukan adik kami, entah dimana ibumu kami tak tau, “ kata abangnya itu. Mendengar ucapan yang memilukan itu, Siraja Tambunpun menangis tersedu – sedu dan mengadu kepada ibunya. Ibu Pinggan Matio mengusap usap anaknya itu dengan kasih sayang dan mengatakan :” jangan dengarkan kata – kata abangmu itu. Aku adalah ibumu yang membesarkan kau sejak kecil, “ katanya. Tetapi setiap timbul pertengkaran dengan abangnya selalu didengarnya kata – kata yang menyayat hatinya, akhirnya Siraja Tambun memberanikan diri bertanya kepada ayahnya : ” Ayah, siapakah ibu yang melahirkan saya dan dimana pamanku ?” raja Silahisabungan menjawab dengan ramah dan penuh kasih sayang :“ anakku tersayang, ibumu adalah Pinggan Matio yang membesarkan dan menyusukan kau sejak kecil, :” katanya .

Karena tindakan dan perbuatan abangnya semakin menyakitkan, maka Siraja tambun dengan tegas bertanya: “ ayah jangan berdusta lagi, siapa sebenarnya ibu yang melahirkan saya ? “ katanya dengan nada mengancam dihadapan pinggan matio. Raja Silahisabungan dan Pinggan Matio saling berpandangan lalu menjawab :” anakku tercinta, ibumu adalah Siboru Nailing Putri Raja Mangarerak di Sibisa, Bila kau ingin dan rindu menjumpainya, biar ku antar nanti dengan baik,:” katanya dengan membujuk.

Kemudian Raja Silahisabungan menyuruh Pinggan Matio menempa Sagu – sagu Marlangan berbentuk manusia yang ditaruh di kedalaman ampang ( Sejenis bakul ). Mereka pergi kemaras dan dibentangkanlah tikar tempat mereka duduk. Raja Silahisabungan, Pinggan Matio bersama Daeng Namora duduk menghadap ampang berisi Sagu – sagu marlangan, lalu disuruhnya Lohoraja, Sondiraja, Dabaribaraja, dan Batu raja duduk disebelah kanannya. Tungki Raja, Batu Raja dan Debang Raja disuruhnya duduk disebelah kiri mereka. Sedang Siraja Tambun disuruh duduk dimukanya sama – sama menghadap ampang berisi Sagu – sagu Marlangan. Stelah mereka duduk mengelilingi ampang berisi sagu-  sagu marlangan itu Raja Silahisabungan berdiri dan berdoa kepada Mula Jadi Nabolon, lalu menyampaikan pesan ( wasiat ) yang kemudian terkenal dengan nama “ PODA SAGU – SAGU MARLANGAN “. Isi Poda sagu – sagu marlangan tersebut adalah sebagai berikut. :

HAMU ANAKKU NA UALU :

  1. INGKON MASIHANOLONGAN MA HAMU SAMA HAMU RO DI POMPARANMU, SISADA ANAK SISADA BORU NA SO TUPA MASIOLIAN, TARLUMBI POMPARANMU NA PITU DOHOT POMPARANMU SI TAMBUN ON.
  2. INGKON HUMOLONG ROHAMU NA PITU DOHOTPOMPARANMU TU BORU POMPARAN NI ANGGIMU SI TAMBUN ON, SUWANG SONGON I NANG HO TAMBUN DOHOTPOMPARANMU INKON KUMOLONG ROHAM DI BORU POMPARAN NI HAHAM NA PITU ON.
  3. TONGKA DOHONONMU NA UALU NA SO SAINA KAMU TU PUDIAN NI ARI.
  4. TONGKA PUNGKAON BADA MANANG SALISI TU ARI NA NAENG RO
  5. MOLO ADONG MARBADAKAN MANANG PARSALISIHAN DI HAMU, INGKON SIAN TONGA – TONGAMU MASI TAPI TOLA, SIBAHEN UMUM NA TINGKOS NA SOJADI MARDINKAN, JALA NA SO TUPA SALAK NA HASING PASAEHON.

Kemudian Raja Silahisabungan duduk dan menyuruh anak-naknya menjamah sagu – sagu marlangan itu tanda kesetiaan dan ikrar yang harus djunjung hingga. ke 8 anak Raja Silahisabungan menjamah Sagu – sagu marlangan itu dan berkata : ” Sai dipergogoi Mulajadi Nabolon ma hami dohot pomparanmi mangulahon poda na nilehonmi amang,” katanya mereka bergantian. Kemudian Raja Silahisabungan berkata, barang siapa yang melanggar wasiat ini seperti sagu – sagu marlangan inilah tidak berketuruna, ingkop mago jala pupur.” Katanya.

Setelah acara dimaras Simarampang selesai, Raja Silahisabungan bersama istrinya dan putera putrinya kembali lagi ke Huta Lahi untuk mempersiapkan bekal Siraja Tambun diperjalanan. Pada saat itulah Raja Silahisabungan memberikan “ barang homitan hadatuon “ kepada Siraja Tambun. Kemudian Siraja Tambun bersalam – salaman dengan abang – abangnya sambil saling memberikan doa restu. Sewaktu menyalam Pinggan Matio, ibunya itu mendekap Siraja Tambun dan berkata :” Unang lupa ho amang di au inangmu na patarus – tarus dohot na pagodang – godang ho, “ katanya sambil mendoakan semoga Siraja Tambun selamat dan berbahagia kelak.

Mendengar kata – kata Pinggan Matio, Itona ( saudarinya) Deang Namora menangis lalu merangkul dan mencium Siraja Tambun. Dengan rasa pilu dan sedih ia berkata :”borhat ma ito tu huta ni tulangta. Na denggan I ma paboa tu inang pangintubu, gabe jala horas ma ho amang na burju,” katanya dengan terisak- isak. Setelah itu berangkatlah Siraja Tambun diantar Raja Silahisabungan ke Sibisa.