Gondang Batak

Makna atau Arti yang Terdapat pada Sistem Peralatan Gondang dan Fase-fase dalam Upacara Kematian pada Batak Toba

A. Pengertian Gondang

Pada tradisi musik Toba, kata gondang (Secara harfiah) memiliki banyak pengertian. Antara lain mengandung arti sebagai :

  1. seperangkat alat musik
  2. ensambel musik
  3. komposisi lagu (kumpulan dari beberapa lagu), Makna lain dari kata ini, berarti juga sebagai
  4. menunjukkan satu bagian dari kelompok kekerabatan, tingkat usia; atau orang-orang dalam tingkatan status sosial tertentu yang sedang menari (manortor) pada saat upacara berlangsung.

Pengertian gondang sebagai perangkat alat musik, yakni gondang Batak.
Gondang Batak sering diidentikkan dengan gondang sabangunan atau ogling sabangunan dan kadang-kadang juga diidentikkan dengan taganing (salah satu alat musik yang terdapat di dalam gondang sabangunan). Hal ini berarti memberi kesan kepada kita seolah-olah yang termasuk ke dalam Gondang Batak itu hanyalah gondang sabangunan, sedangkan perangkat alat musik Batak yang lain, yaitu :

Gondang hasapi tidak termasuk gondang Batak. Padahal sebenarnya gondang hasapi juga adalah gondang Batak, akan tetapi istilah gondang hasapi lebih dikenal dengan istilah uning-uningan daripada gondang Batak.

Gondang dalam pengertian ensambel musik terbagi atas dua bagian, yakni gondang sabangunan (gondang bolon) dan gondang hasapi (uning-uningan). Gondang sabangunan dan gondang hasapi adalah dua jenis ensambel musik yang terdapat pada tradisi musik Batak Toba. Secara umum fungsi kedua jenis ensambel ini hampir tidak memiliki perbedaan keduanya selalu digunakan di dalam upacara yang berkaitan dengan religi, adat maupun upacara-upacara seremonial lainnya. Namun demikian kalau diteliti lebih lanjut, kita akan menemukan perbedaan yang cukup mendasar dari kedua ensambel ini.

Sebutan gondang dalam pengertian komposisi menunjukkan arti sebagai sebuah komposisi dari lagu (judul lagu secara individu) atau menunjukkan kumpulan dari beberapa lagu/repertoar, yang masing-masing ini bisa dimainkan pada upacara yang berbeda tergantung permintaan kelompok orang yang terlibat dalam upacara untuk menari, termasuk di dalam upacara kematian saur matua. Misalnya : gondang si Bunga Jambu, gondang si Boru Mauliate dan sebagainya. Kata si bunga jambu, si boru mauliate dan malim menunjukkan sebuah komposisis lagu, sekaligus juga merupakan judul dari lagu (komposisi) itu sendiri.

Berbeda dengan gondang samba, samba Didang-Didang dan gondang elekelek (lae-lae). Meskipun kata gondang di sini juga memiliki pengertian komposisi, namun kata sombai;didang-didangi dan elek-elek memiliki pengertian yang menunjukkan sifat dari gondang tersebut, yang artinya ada beberapa komposisi yang bisa dikategorikan di dalam gondang-gondang yang disebut di atas, yang merupakan “satu keluarga gondang”. Komposisi dalam “satu keluarga gondang,” memberi pengertian ada beberapa komposisi yang memiliki sifat dan fungsi yang sama, yang dalam pelaksanaannya tergantung kepada jenis upacara dan permintaan kelompok orang yang terlibat dalam upacara. Misalnya: gondang Debata (termasuk di dalamnya komposisi gondang Debata Guru, Debata sari, Bana Bulan, dan Mulajadi); gondang Sahalai dan gondang Habonaran.

Gondang dalam pengertian repertoar contohnya si pitu Gondang. si pitu Gondang atau kadang-kadang disebut juga gondang parngosi (baca pargocci) atau panjujuran Gondang adalah sebuah repertoar adalah reportoar/kumpulan lagu yang dimainkan pada bagian awal dari semua jenis upacara yang melibatkan aktivitas musik sebagai salah satu sarana dari upacara masyarakat Batak Toba. Semua jenis lagu yang terdapat pada si pitu Gondang merupakan “inti” dari keseluruhan gondang yang ada. Namun, untuk dapat mengetahui lebih lanjut jenis bagian apa saja yang terdapat pada si pitu Gondang tampaknya cukup rumit juga umumnya hanya diketahui oleh pargonsi saja. Lagu-lagu yang terdapat pada si pitu Gondang dapat dimainkan secara menyeluruh tanpa berhenti, atau dimainkan secara terpisah (berhenti pada saat pergantian gondang). Repertoar ini tidak boleh ditarikan. Jumlah gondang (komposisi lagu yang dimainkan harus di dalam jumlah bilangan ganjil, misalnya : satu, tiga, lima, tujuh).

Kata gondang dapat dipakai dalam pengertian suatu upacara misalnya gondang Mandudu (”upacara memanggil roh”) dan upacara Saem (”upacara ritual”). Gondang dapat juga menunjukkan satu bagian dari upacara di mana kelompok kekerabatan atau satu kelompok dari tingkatan usia dan status sosial tertentu yang sedang menari, pada saat upacara tertentu misalnya : gondang Suhut, gondang Boru, gondang datu, gondang Naposo dan sebagainya. Jika dikatakan gondang Suhut, artinya pada saat itu Suhut yang mengambil bagian untuk meminta gondang dan menyampaikan setiap keinginannya untuk dapat menari bersama kelompok kekerabatan lain yang didinginkannya. Demikian juga Boru, artinya yang mendapat kesempatan untuk menari; gondang datu, artinya yang meminta gondang dan menari; dan gondang naposo, artinya muda-mudi yang mendapat kesempatan untuk menari.

Selain kelima pengertian kata gondang tersebut, ada juga pengertian yang lain yaitu yang dipakai untuk pembagian waktu dalam upacara, misalnya gondang Sadari Saboringin yaitu upacara yang didalamnya menyertakan aktivitas margondang dan dilaksanakan selama satu hari satu malam. Dengan demikian, pengertian gondang secara keseluruhan dalam satu upacara dapat meliputi beberapa pengertian seperti yang tertera di atas. pengertian gondang sebagai suatu ensambel musik tradisional khususnya, maksudnya untuk mengiring jalannya upacara kematian saur matua.

B. Istilah Gondang Sabangunan

Banyak istilah yang diberikan para ahli kebudayaan ataupun istilah dari masyarakat Batak itu sendiri terhadap gondang Sabangunan, antara lain: agung, agung sabangunan, gordang parhohas na ualu (perkakas nan delapan) dan sebagainya. Tetapi semua ini merupakan istilah saja, karena masing-masing pada umumnya mempunyai pengertian yang sama.

Diantara istilah-istilah tersebut di atas, istilah yang paling menarik perhatian adalah parhohas na ualu yang mempunyai pengertian perkakas nan delapan. Istilah ini umumnya dipakai oleh tokoh-tokoh tua saja, dan biasanya disambung lagi dengan kalimat “simaningguak di langit natondol di tano” (artinya berpijak di atas tanah sampai juga ke langit). Menurut keyakinan suku bangsa Batak Toba dahulu, apabila gondang sabangunan tersebut dimainkan, maka suaranya akan kedengaran sampai ke langit dan semua penari mengikuti gondang itu akan melompat-lompat seperti kesurupan di atas tanah (na tondol di tano). Biasanya semua pendengar mengakui adanya sesuatu kekuatan di dalam “gondang” itu yang dapat membuat orang bersuka cita, sedih, dan merasa bersatu di dalam suasana kekeluargaan.

Gondang sabangunan disebut “parhohas na ualu, karena terdiri dari delapan jenis instrumen tradisional Batak Toba, yaitu taganing, sarune, gordang, ogling ihutan, ogling oloan, ogling panggora, ogung doal dan hesek tanpa odap. Kedelapan intrumen itu merupakan lambang dari kedelapan mata angin, yang disebut “desa na ualu” dan merupakan dasar yang dipakai untuk sebutan Raja Na Ualu (Raja Nan Delapan) bagi komunitas musik gondang sabangunan. Pada masa awal perkembangan musik gondang Batak, instrumen-instrumen ini masing-masing dimainkan oleh satu orang saja. Tetapi sejalan dengan perubahan jaman, ogling oloan dan ogling ihutan telah dapat dimainkan hanya oleh satu orang saja. Sedangkan odap sudah tidak dipakai lagi. Kadang-kadang peran hesek juga dirangkap oleh pemain taganing, sehingga jumlah pemain ensambel itu bervariasi. Keseluruhan pemain yang memainkan instrumen-instrumen dalam gondang sabangunan ini disebut pargonsi dan kegiatan yang menggunakan perangkatperangkat
musik tradisional ini disebut margondang (memainkan gondang).

C. Jenis Dan Fungsi Instrumen Gondang  Sabangunan

Gondang sabangunan sebagai kumpulan alat-alat musik tradiosional Batak Toba, terdiri dari : taganing, gordang, sarune, ogling oloan, ogling ihutan, ogling panggora, ogling doal dan hesek. Dalam uraian berikut ini akan dijelaskan masingmasing instrumen yakni fungsinya.

1. Taganing
Dari segi teknis, instrumen taganing memiliki tanggung jawab dalam penguasaan repertoar dan memainkan melodi bersama-sama dengan sarune. Walaupun tidak seluruh repetoar berfungsi sebagai pembawa melodi, namun pada setiap penyajian gondang, taganing berfungsi sebagai “pengaba” atau “dirigen” (pemain group gondang) dengan isyarat- isyarat ritme yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota ensambel dan pemberi semangat kepada pemain lainnya.

2. Gordang
Gordang ini berfungsi sebagai instrumen ritme variabel, yaitu memainkan iringan musik lagu yang bervariasi.

3. Sarune
Sarune berfungsi sebagai alat untuk memainkan melodi lagu yang dibawakan oleh taganing.

4. Ogung Oloan (pemiapin atau Yang Harus Dituruti)
Agung Oloan mempunyai fungsi sebagai instrumen ritme konstan, yaitu memainkan iringan irama lagu dengan model yang tetap. Fungsi agung oloan ini umumnya sama dengan fungsi agung ihutan, agung panggora dan agung doal dan sedikit sekali perbedaannya. agung doal memperdengarkan bunyinya tepat di tengah-tengah dari dua pukulan hesek dan menimbulkan suatu efek synkopis nampaknya merupakan suatu ciri khas dari gondang sabangunan.

Fungsi dari agung panggora ditujukan pada dua bagian. Di satu bagian, ia berbunyi berbarengan dengan tiap pukulan yang kedua, sedang di bagian lain sekali ia berbunyi berbarengan dengan agung ihutan dan sekali lagi berbarengan dengan agung oloan.

Oleh karena musik dari gondang sabangunan ini pada umumnya dimainkan dalam tempo yang cepat, maka para penari maupun pendengar hanya berpegang pada bunyi agung oloan dan ihutan saja. Berdasarkan hal ini, maka ogling oloan yang berbunyi lebih rendah itu berarti “pemimpin” atau “Yang harus di turuti” , sedang ogling ihutan yang berbunyi lebih tinggi, itu “Yang menjawab” atau “Yang menuruti”. Maka dapat disimpulkan bahwa peranan dan fungsi yang berlangsung antara ogling dan ihutan dianggap oleh orang Batak Toba sebagai suatu permainan “tanya jawab”

5. Ogung Ihutan atau Ogung pangalusi (Yang menjawab atau yang menuruti).

6. Ogung panggora atau Ogung Panonggahi (Yang berseru atau yang membuat orang terkejut).

7. Ogung Doal (Tidak mempunyai arti tertentu)

8. Hesek. Hesek ini berfungsi menuntun instrumen lain secara bersama-sama dimainkan. Tanpa hesek, permainan musik instrumen akan terasa kurang lengkap. Walaupun alat dan suaranya sederhana saja, namun peranannya penting dan menentukan.

D. Susunan Gondang Sabangunan

Menurut falasafah hidup orang Batak Toba, “bilangan” mempunyai makna dan pengaruh dalam kehidupan sehari-hari dan aktivitas adat. “Bilangan genap” dianggap bilangan sial, karena membawa kematian atau berakhir pada kematian. Ini terlihat dari anggota tubuh dan binatang yang selalu genap. menurut Sutan Muda Pakpahan, hal itu semuanya berakhir pada kematian, dukacita dan penderitaan.

Maka di dalam segala aspek kehidupan diusahakan selalu “bilangan ganjil” yang disebut bilangan na pisik yang dianggap membawa berkat dan kehidupan.

Dengan kata lain “bilangan genap” adalah lambang segala ciptaan didunia ini yang dapat dilihat dan hakekatnya akan berlalu, sedang “bilangan ganjil” adalah lambang kehidupan dan Pencipta yang tiada terlihat yang hakekatnya kekal. Itulah sebabnya susunan acara gondang sabangunan selalu dalam bilangan ganjil. Nama tiap acara, disebut “gondang” yang dapat diartikan jenis lagu untuk nomor sesuatu acara. Susunan nomor acara juga harus menunjukkan pada bilangan ganjil seperti Satu, tiga, atau lima dan sebanyak-banyaknya tujuh nomor acara. Sedangkan jumlah acara juga boleh menggunakan acara bilangan genap, misalnya : dua nomor acara, empat atau enam.

Selanjutnya susunan acara itu hendaknya memenuhi tiga bagian, yang merupakan bentuk upacara secara umum, yaitu pendahuluan yang disebut gondang mula-mula, pemberkatan yang disebut gondang pasu-pasu, dan penutup yang disebut gondang hasatan. Ketiga bagian gondang inilah yang disebut si pitu Gondang (Si Tujuh Gondang). Walaupun dapat dilakukan satu, tiga, lima, dan sebanyakbanyaknya tujuh nomor acara atau jenis gondang yang diminta. “Gondang mulamula i ma tardok patujulona na marpardomuan tu par Tuhanon, tu sabala ni angka Raja dohot situan na torop”. Artinya Gondang mula-mula merupakan pendahuluan atau pembukaan yang berhubungan dengan Ketuhanan, kuasa roh raja-raja dan khalayak ramai.

Bentuk upacara yang termasuk gondang mula-mula antara lain:

  1. Gondang alu-alu, untuk mengadukan segala keluhan kepada yang tiada terlihat yaitu Tuhan Yang Maha Pencipta, biasanya dilakukan tanpa tarian.
  2. Gondang Samba-Samba, sebagai persembahan kepada Yang Maha Pencipta. Semua penari berputar di tempat masing-masing dengan kedua tanganbersikap menyembah.

Yang termasuk gondang pasu-pasuan :

  1. Gondang Sampur Marmere, menggambarkan permohonan agar dianugrahi dengan keturunan banyak.
  2. Gondang Marorot, menggambarkan permohonan kelahiran anak yang dapat diasuh.
  3. Gondang Saudara, menggambarkan permohonan tegaknya keadilan dan kemakmuran.
  4. Gondang Sibane-bane, menggambarkan permohonan adanya kedamaian dan kesejahteraan.
  5. Gondang Simonang-monang, menggambarkan permohonan agar selalu memperoleh kemenangan.
  6. Gondang Didang-didang, menggambarkan permohonan datangnya sukacita yang selalu didambakan manusia.
  7. Gondang Malim, menggambarkan kesalehan dan kemuliaan seorang imam yang tidak mau ternoda.
  8. Gondang Mulajadi, menggambarkan penyampaian segala permohonan kepada Yang Maha pencipta sumber segala anugerah.

Angerah pasu-pasuan i ma tardok gondang sinta-sinta pangidoan hombar tusintuhu ni na ginondangkan dohot barita ngolu. Artinya gondang pasu-pasuanmerupakan penggambaran cita-cita dan pernohonan sesuai dengan acara pokok dan kisah hidup.

Sedangkan yang termasuk gondang penutup (gondang hasatan):

  1. Gondang Sitio-tio, menggambarkan kecerahan hidup masa depan sebagai jawabanterhadap upacara adat yang telah dilaksanakan.
  2. Gondang Hasatan, menggambarkan penghargaan yang pasti tentang segala yang dipinta akan diperoleh dalam waktu yang tidak lama. Gondang hasatan i ma pas ni roha na ingkon sabat saut sude na pinarsinta. Artinya : Gondang hasatan ialah : suatu keyakinan yang pasti bahwa semua cita-cita akan tercapai. Lagu-lagu untuk ini biasanya pendek-pendek saja. Dari ketiga bagian gondang tersebut di atas, maka para peminta gondang menentukan beberapa nomor acara gondang dan nama gondang yang akan ditarikan. Masing- masing gondang ditarikan satu nilai satu kali saja. Contohnya:

Sebagai pendahuluan : Gondang Alu-alu (tidak ditarikan).

  1. Gondang Mula-mula (1x). Biasanya gondang ini disatukan dengan Gondang Samba-samba.  Di Gondang Mula-mula = menari dengan tidak membuka tangan dan hanya sebentar. Di Gondang Samba-mamba = menari sambil membuka tangan
  2. Gondang Pasu-pasuan (3x) atau (5x).
  3. Gondang Sahatan (1x) atau (2x).

Yang umum dilaksanakan terdiri dari tujuh nomor acara (Si pitu Gondang) dengan susunan :

  1. Gondang Mula-mula : 1x = Gondang Mula-mula.
  2. Gondang Samba-samba : 1x = Idem
  3. Gondang Sampur Marmere : 1x = Gondang Pasu-pasuan
  4. Gondang Marorot : 1x = Idem
  5. Gondang Saudara : 1x = Idem
  6. Gondang sitio-tio : 1x = Idem
  7. Gondang Hasatan : 1x = Idem

————————————————————————————–
Jumlah : 7x (2 G. Mula-mula + 3 G. Pasu-pasuan+ 2 G Hasahatan)
Jika diadakan dalam lima nomor acara (Silima Gondang), susunannya adalah sebagai berikut :
Gondang Mula-mula
dengan Samba-samba : 1x Gondang Mula-mula.
Gondang Sibane-bane : 1x Gondang Pasu-pasuan
Gondang Simonang-monang : 1x Idem
Gondang Didang-didang : 1x Idem
Gondang Hasatan sitio-tio : 1x Gondang Hasahatan
————————————————————————————–
Jumlah : 5x (1. G Mula-mula + 3 G Pasu-pasuan + 1 G Hasatan).

Sedangkan dalam tlga nomor acara (Sitolu Gondang), susunannya ialah :
Gondang Mula-mula dengan Samba-samba : 1x = Gondang Mula-mula
Gondang Sibane-bane disatukan dengan Gondang Simonang-monang : 1x =
Gondang Pasu-pasuan
Gondang Hasahatan sitio-tio : 1x = Gondang Hasahatan
———————————————————————————————–
Jumlah : 3x (1 G Mula-mula + 1 G Pasu-pasuan + 1 G = Hasahatan).

Jika hanya nomor acara (Sisada Gondang) , maka di dalamnya sekaligus
dimainkan Gondang Mula-mula, Gondang Pasu-pasuan, Gondang Hasahatan.

E. syarat-Syarat pemain Gondang Sabangunan

Para pemain instrumen-instrumen yang tergabung dalam komunitas gondang,disebut pargonsi. Biasanya, sebagian besar warga masyarakat Batak Toba tertarik mendengar alunan suara yang dikeluarkan oleh gondang sabangunan tersebut, tetapi tidak semuanya mampu memainkan alat-alat tersebut apalagi mencapai tahap pargonsi. Hal ini disebabkan karena adanya syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi seseorang untuk dapat menjadi seorang pargonsi. Syarat-syarat tersebut seperti yang dikemukakan seorang ahlinya, antara lain:

  1. Harus mendapat sahala dari Mulajadi Na Bolon (Sang Pencipta). Sahala ini merupakan berkat kepintaran khusus dalam memainkan alat musik yang diberikan kepada seseorang sejak dalam kandungan. Dengan kata lain orang tersebut sudah dipersiapkan untuk menjadi seorang pargonsi sebagai permintaan Mula Jadi Na Bolon.
  2. Melalui proses belajar, Seseorang dapat menjadi pargonsi, dengan adanya berkat khusus yang diberikan Mulajadi Na Bolon sekaligus dipadukan dengan proses belajar. Sehingga itu seseorang memiliki ketrampilan khusus untuk dapat menjadi pargonsi. Walaupun melalui proses belajar, tetapi jika tidak diberikan sahala kepada orang tersebut, maka ia tidak berarti apa-apa atau tidak menjadi pargonsi yang pandai.
  3. Mempunyai pengetahuan mengenai ruhut-ruhut ni adat (aturan-aturan dalam adat) Maksudnya mengetahui struktur masyarakat Batak Toba yaitu Dalihan Na Tolu dan penerapannya dalam masyarakat.
  4. Umumnya yang diberkati Mulajadi Na Bolon untuk menjadi seorang pargonsi adalah laki-laki, Dengan alasan : Laki-laki merupakan basil ciptaan dan pilihan pertama Mulajadi Na Bolon. Laki-laki lebih banyak memiliki kebebasan daripada perempuan, karena para pargonsi sering diundang memainkan ke berbagai daerah untuk memainkan gondang sabangunan dalam suatu upacara adat.
  5. Seseorang yang menjadi pargonsi harus sudah dewasa tetapi bukan berarti harus sudah menikah.

F. Pemain Musik Gondang Sabangunan

Seperti yang telah diuraikan pada sub-bab sebelumnya, bahwa keseluruhan pemain yang menggunakan instrumen- instrumen dalam gondang sabangunan disebut pargonsi. Dahulu, istilah pargonsi ini hanya diberikan kepada pemain taganing saja, sedangkan kepada pemain instrumen lainnya hanya diberikan nama sesuai dengan nama instrumen yang dimainkannya, yaitu pemain ogling (parogung), pemain hesek dan pemain sarune (parsarune).

Dalam konteks sosial, pargonsi ini mendapat perlakuan yang khusus. Hal inididukung oleh adanya prinsip stratifikasi yang berhubungan dengan kedudukan pargonsi berdasarkan pangkat dan jabatan. Sikap khusus yang diberikan masyarakat kepada pargonsi itu disebabkan karena seorang pargonsi selain memiliki ketrampilan teknis, mendapat sabala dari Mulajadi Na Bolon, juga mempunyai pengetahuan tentang ruhut-ruhut ni adat (aturan-aturan adat/sendi-sendi peradaban). Sehingga untuk itu, pargonsi mendapat
sebutan Batara Guru Hundul ( artinya : Dewa Batara Guru yang duduk) untuk pemain taganing dan Batara Guru Manguntar untuk pemain sarune. Mereka berdua dianggap sejajar dengan Dewa dan mendapat perlakuan istimewa, baik dari pihak yang mengundang pargonsi maupun dari pihak yang terlibat dalam upacara tersebut. Dengan perantaraan merekalah, melalui suara gondang (keseluruhan instrumen), dapat disampaikan segala permohonan dan puji-pujian kepada Mulajadi Na Bolon (Yang Maha Esa) dan dewa-dewa bawahannya yang mempunyai hak otonomi

Posisi pargonsi tampak pada saat hendak diadakannya horja (upacara pesta) yang menyertakan gondang sabangunan untuk mengiringi jalannya upacara. Pihak yang berkepentingan dalam upacara akan mengundang pargonsi dan menemui mereka dengan permohonan penuh hormat, yang disertai napuran tiar (sirih) diletakkan di atas piring.

Pada saat upacara berlangsung, pargonsi akan dilayani dengan hormat, seperti ketika suatu kelompok orang yang terlibat dalam Dalihan Na Tolu ingin menari, maka mereka akan meminta gondang kepada pargonsi dengan menyerukan sebutan yang menyanjung dan terhormat, yaitu : “Ale Amang panggual pargonsi, Batara Guru Humundul, Batar Guru Manguntar, Na sinungkun botari na ni alapan arian, Parindahan na suksuk, parlompaan na tabo, Paraluaon na tingkos, paratarias na malo”. Artinya
“Yang terhormat para pemain musik, Batara Guru Humundul, Batara Guru Manguntar. Yang ditanya sore hari dan dijemput sore hari penikmat nasi yang empuk, penikmat lauk yang lezat. Penyampai pesan yang jujur, pemikir yang cerdas. Untaian kalimat di atas menunjukkan makna dari suatu sikap yang menganggap bahwa pargonsi itu setaraf dengan Dewa. Mereka harus selalu disuguhi dengan makanan yang empuk dan lezat, harus dijemput dan diantar kembali bila pergi ke suatu tempat dan mereka itu dianggap mempunyai fikiran yang jujur dan cerdas sehingga dapat menjadi perantara untuk menghubungkan dengan Mulajadi Nabolon.

Akan tetapi sejalan dengan perkembangan zaman, penghargaan kepada pargonsi sudah berubah. Hal ini disebabkan kehadiran musik (suatu sebutan dari masyarakat Batak Toba untuk kelompok brass band) yang menggantikan kedudukan gondang sabangunan sebagai pengiring upacara. Apabila pihak yang terlibat dalam upacara meminta sebuah repertoar, mereka akan menyebut pargonsi kepada dirigen atau pimpinan kelompok musik tersebut. Walaupun kedudukan kelompok musik sama dengan gondang sabangunan dengan menyebut “pargonsi” kepada pemain musik, namun musisi tersebut tidak dapat dianggap sebagai Batara Guru Humundul ataupun Batara Guru Manguntar.

Sikap hormat yang diberikan masyarakat kepada pargonsi bukanlah suatu sikap yang permanen (tetap), tetapi hanya dalam konteks upacara. Di luar konteks upacara, sebutan dan sikap hormat tersebut akan hilang dan pargonsi akan mempunyai kedudukan seperti anggota masyarakat lainnya, ada yang hidup sebagai petani, pedagang, nelayan dan sebagainya.

Sejalan dengan uraian di atas, ada beberapa penulis Batak Toba yang menerangkan sebutan untuk masing-masing instrumen dalam gondang sabangunan. Seperti pasariboe (1938) menuliskan sebagai berikut : oloan bernama simaremare, pangalusi bernama situri-turi, panonggahi bernama situhur tolong, doal bernama sisunggul madam, taganing bernama silima hapusan, gordang bernama sialton sijarungjung dan odap bernama siambaroba. Penulis Batak Toba lainnya, pasaribu (1967) menuliskan taganing bernama pisoridandan, gordang bernama sialtong na begu, odap bernama siambaroba, oloan bernama si aek mual, pangalusi bernama sitapi sindar mataniari, panggora bernama situhur, doal bernama diri mengambat
dan hesek bernama sigaruan nalomlom.

Nama-nama di atas nama yang diberikan oleh pemilik instrumen musik atau pimpinan komunitas musik yang sulit sekali dicari padanannya dalam bahasa Indonesia dan bukan menunjukkan gambaran mengenai superioritas instrumen tersebut. Nama-nama tersebut biasa saja berbeda pada tiap-tiap daerah. Khusus untuk instrumen sarune tidak ditemukan adanya sebutan terhadap instrumen itu.

Iklan

Cerita Tentang Deang Namora

Perpisahan di Huta Lahi kurang memuaskan Deang Namora. Sewaktu Raja Silahisabungan dan Siraja Tambun berangkat dari Huta Lahi, ia ikut mengantar ketepi pantai. Rupanya Raja Silahisabungan membawa Siraja Tambun ketuktuk Simartaja dan terus ke Nauli Basa untuk memperdalam ilmu Siraja Tambun.

Karena merasa dekat dengan adiknya Si Raja Tambun, Deang Namora terus mengikuti mereka sampai ke Nauli Sibisa, ayahnya membujuk Deang Namora supaya kembali ke kampung Huta Lahi. Pada saat itulah Deang Namora menangis bersenandung yang memilukan hati:” Amang Siraja ibotna, marsirang ma hita ditano Nauli Basa, borhat ma damang tu tano Sibisa. Ahu do na pagodang – godang damang marsiak bagi, sian dakdanak sahat tu doli – doli, mulak ma ahu amang Siraja ibotna tu Huta Lahi, na boha do bagian ni Siboruadi?” katanya sambil melangkah berat hati.

Karena lelahnya berjalan ke Silalahi disertai perasaan sedih, Deang Namora duduk diatas batu melepaskan lelah sambil merenungi perpisahananya dengan siraja Tambun. Pada waktu itu ibotona (saudaranya) sudah mencari – cari Deang Namora. Mereka takut Deang Namora mandele ( putus asa) akibat keberangkatan Siraja Tambun, sewaktu mereka menemukan Deang Namora duduk – duduk diatas batu, lalu diajak supaya pulang kekampung. Tetapi Deang Namora menjawab:” saya sudah merasa senang ditempat ini. Disinilah kalian bangun undung – undungku ( pondok) tempat bertenun.”katanya. saudaranya membujuk dan berkata :” pulanglah dulu kita, supaya dibangun pondokmu, baru bawalah alat–alat tenunmu kemari,” kata saudaranya tanda setuju.

Setelah pondoknya dibangun, Deang Namora membawa alat – alat tenunnya ketempat itu, yang kemudian disebut Batu Parnamoraan. Lama kelamaan Daeng Namora bertenun, terasa sangat besar kerinduannya dengan si Raja Tambun adiknya. Dan pada suatu saat rasa rindunya tidak bisa ditahan lagi, Daeng namora berlari dan menuju Danau, dan terus berjalan sampai ketengah danau, akhirnya Daeng namora tenggelam di dasar danau, Abang-abangnya serta adik adiknya melihat itonya tersebut, tidak sempat menolong itonya, mereka menangis meratapi itonya yang tenggelam di danau tersebut. Dimana Daeng namora berjalan sampai tenggelam terkenallan dengan nama Tao Silalahi artinya Tao na soboi dihabangi lali (Danau yang tidak bisa di sebrangi burung Rajawali) dan disitulah Deang Namora tinggal sampai akhir hayatnya. Dan menjadi keramat yang berkuasa di Tao Silalahi.

Sampai saat ini banyak terdengar kabar dan cerita, bahwa bila seseorang yang hendak menyeberangi tao tersebut tidak boleh membuang kotoran ke dalam danau, atau berbicara kotor, banyak terjadi yang melanggar aturan tersebut, dan banyak kita dengar kabar kapal tenggelam dan setelah di gondangi tujuh hari tujuh malam barulah mayat-mayat orang yang tenggelam muncul kembali.

Karena kejadian inilah anak Bungsu Raja Silahisabungan yaitu Raja Tambun dan seluruh keturunannya sampai sekarang sangat menghormati boru dari pomparan Silahisabungan, dan mereka selalu memanggil ito mereka dengan panggilan Namboru

Bab. VIII. BERITA SI BURSOKRAJA ( OMPU SINAMBANG )

Dalam buku Pusataha Tarigot Taronggo nibang Sobatak ( 1926)yang disusun Demang Waldemar Hutagalung dai Pangururan, dikatakan Si Busokraja adalah putera sulung Sinabang, yang membuat namanya Ompu Sinabang dan kemudian hari menjadi Ompu  Lahisabungan.

Debangraja ( Sidebang = Sinabang ) yang kawin dengan Panamean boru Sagala mempunyai anak laki – laki 4 (empat) orang sampai dewasa keempat anak ini belum dibuat namanya sehingga selalu dipanggil sibursok ( panggilan kepala anak laki – laki sejak lahir ). Bila orangtuanya atau temannya memanggil (Bursok) mereka sama – sama menjawab, sehingga merasa malu dan kesal.

Pada suatu ketika anak sulung Sinabang mengumpulkan adik – adiknya dan berkata :” karena orang tua tidak membuat nama kita, bagaimana kalu masing – masing kita memilih nama, supaya jangan merasa malu melihat teman – teman. Badan kita sudah dewasa tidak pantas lagi dipanggil Sibursok,” katanya. Adiknya mengangguk tanda setuju. Kemudian ia berkata :” kalau kita memilih nama tidak boleh lagi berobah dan kita harus berjanji, dengke ni Sabulan tu tonggina tu tabona, manang ise siose pada tu ripurna tu magona. “ ( barangsiapa yang melanggar janji akan hidup sengsara ).

Setelah mereka seia – sekata mengingat janji, anak sulung menanya nama adik – adiknya. Anak kedua menjawab :” tak mungkin kami lebih dulu punya nama, pantasnya abang anak pertama yang lebih dahulu punya nama,” katanya. Anak sulung itupun berkata :”kalau begitu, baiklah, nama saya Ompu Sinabang,” katanya. Semua adiknya terkejut mendengar pilihan abangnya lalu berkata :”mana mungkin nama ompu Sinabang, sedang ayah kita bernama Debangraja.” Tetapi karena mereka sudah memikat janji, adiknya pasrah menerima dan anak kedua memilih namanya Si Ari, anak ketiga memilih namanya Si Taon, anak keempat memilih namanya Si Badung. Ketiga adiknya merasa cemas memikirkan tidakan orangtuanya kepada abangnya, bila mendengar namanya itu.

Pada malam harinya sewaktu mau makan, ompu Sinabang pura – pura sibuk bermain – main dihalaman rumah. Karena nasi dan lauk pauk telah terhidang, ayahnya menyuruh anaknya memanggil abangnya supaya sama – sama makan. Si Ari memanggil :” Ompu Sinabang ; Mari makan.” Katanya. Tetapi ia pura–pura tidak mendengar, lalu Si Taon dan Si Sidung memanggil :” ayo cepat Ompu Sinabang ! nasi sudah terhidang kata mereka bergantian. Ayah mereka Sidebang Raja terkejut mendengar nama mereka bergantian. Selera makan menjadi hilang, mukanya jadi murung karena pikiran terganggu. Demikian juga ibu boru Sagala merasa tidak enak mendengar panggilan putera sulungnya itu. Ulah siapakah ini ? mungkinkah karena ejekan dari teman – temannya ?

Pada saat itu ayah mereka Debangraja masih menahan emosinya dan termenung memikirkan perbuatan anak – anaknya. Karena setiap memanggil anak sulungnya disebut ( Ompu Sinabang ) maka pada suatu hari Debangraja mengumpulkan anak – anaknya dan berkata :” Ise Mambahen goarmu Ompu Sinebang, ai goarhu do Debangraja, Gabe Marompung ma ahu tu ho ?“ ( Siapa membuat namamu Ompu Sinabang, sedang namaku Sidebangraja, jadi memanggil nenekkah aku kepadamu ? ) katanya dengan nada membentak.

Si Bursokraja ( Ompu Sinebang ) menjawab :” ahu do mamillit goarhu Ompu Sinabang jala dang na mandok asa marompung hamu tu ahu !” ( saya yang memilih namaku Ompu Sinabang dan tak ada maksudku agar ayah memanggil nenek kepadaku ) katanya dengan tegas. Ayahnya debangraja mulai marah dan berkata :” ganti goarmi, molo so diganti ho ndanghuetongbe ho anakku !” ( ganti Namamu itu, dengan nada mengancam. Kemudian Si Bursokraja ( Ompu Sinabang) menjawab :” Nunga marpadan ahu dohot muba,” ( kami sudah berikrar dengan adik – adik ini, nama yang kami pih tidak boleh berubah, bagaimanapun ayah, nama yang kupilih itu tidak akan berubah.) katanya dengan tegas sedikit pun tidak merasa takut.

Dengan emosi ayahnya Dedangraja berdiri lalu berkata :” Laho ma ho sian jolongkon, anak na so hasea do ho. Huetong ma ho tilaha na mate dibuat ngenge, holan anggim na tolu on pe anakhu las ma rohangku.” ( Pergilah kau dari rumah ini, anak durjana kau rupanya. Kuanggap kau yang sudah meninggal  akibat penyakit cacar, dan hanya adikmu yang tiga orang ini pun anakku, berbahagialah aku), katanya  sambil mengusir Si Bursokraja ( Ompu Sinabang ).

Kemudian Si Bursokraja ( Ompu Sinabang ) berdiri mengumpulkan pakaiannya lalu berkata:” Borhat ma au amang , andalu do panduda anduri pamiari. Ndang tarjua amang pandok  ni soro ni ari.”( Berangkatlah saya ayah, sudah begini rupanya suratan badan ).katanya sambil menyalam ibu dan adik- adiknya . Ayahnya Debangaraja berkata dengan tegas :”tuktuk ma pangirmu , dompak mata ni ari , tuntun ma lomom, unang ho sumolsol bagi. Adong do ruma ijuk, panoloti  donasoada, adong do sipaingot pangoloim do na so ada.”( Yah , teruskan tekatmu, jangn kau menyesal nanti, kaena diberi nasehat kau tidak mau menuruti).

Sejak peristiwa ini Si Borsokraja (ompu Sinabang ) pergi melalang buana dan bertekat tidak akan kembali lagi ke Silalahi Nabolak dan akan merahasiakan asal – usulnya kepada keturunannya di kemudian hari . Dia berangkat menuju Balige untuk menjumpai Siraja Bunga – bunga (Siraja Parmahan ) yang telah dinobatkan Tuan Sihubil menjadi anak kesayanga di Hinalang Belige.

Si Borsokraja (Ompu Sinabang) berjalan menepi – nepi pantai menuju Pangururan di pulau Samosir . Setelah ia tiba di Pangururan di dengarnya ada seorang puteri Raja Simbolon yang cantik rupawan dan pandai berperi bahasa dan teka –teki ( marundang – undangan dohot marhuling –hulingan). Mendengar berita itu ia tertarik dan berniat akan mencoba kepandaian puteri raja serta melamarnya.

Si Bursokraja ( ompu Sinabang ) pergi menjumpai puteri raja yang sedang bertenun diatas sopo . dengan membunyikan saga – saga / hodong ( sejenis alat musik ) dia berkata: “Natiniptip sangar mambahen huruhuruan < jumalo sinungkun marga asa binoto partuturan . molo na mariboto dengan do marsijalangan, molo na marpariban denggn do marsihaholongan :”( Dipotong – potong pinpin, dibuat sangkar burung, lebih dahulu tanya marga supaya jelas kerabat penghubunmg. Kalau bersaudara baik jaga bersalaman, kalau putri paman alangkah baiknyamemadu cinta kasih sayang, katanya sambil melihat ke atas sopo itu .

Mendengar tutur kata melalui saga – saga itu, putri raja tercengang dan melihat seorang pemuda datang mendekatinya , tampangnya gagah perkasa menunjukan seorang keturunan raja. Puteri rajapun menjawab dengan saga – saga :”Amang raja doli , na ro manungkum mandiori, ia siboruadi I ma Si Rumandangbulan Si Sindarmataniari , na tong – tong lungun – lungan paima –ima si tuan doli na gabe sirongkap ni tondi , boru ni Simbolontuan na malo manotari. “( yah anak perjaka yang mencari, namaku adalah Si Romundang bulan SiSindarmataniari, yang selalu merindukan pemuda teman sehidup semati, puteri Simbolon tuan yang bijak mentari ) katanya memperkenalkan diri.

Kemudian Si Bursokraja ( Ompu Sinabang ) meperkenalkan dirinya cucu Raja Silahisabungan yang Hidup berkelana mengadu untung di rantau orang dan berkata : “ Sibigo pidong Toba, sitapi-tapi pidong jau, Adung na solot di bagasan roha, tu ise iba mengadu-adu ?” ( Sibigo burung toba, sitapi-tapi burung jauh, ada terselip dalam hati, kepada siapa saya akan mengadu ? ) katanya menyampaikan cinta kasihnya kepada putri raja itu.

Mendengar nama raja Silahisabungan yang terkenal seorang Datu Bolon, Sabungan ni hata, sabungan ni habisuhon, putri raja pun berpikir sejenak dan berkata : “ Molo toho do adong holong diate-ate, denggan ma pasahat tu damang simbolon tuan, alai jumolo lului ma di ahu bagot ni horbo tunggal !”  ( kalau benar dolok tolong di balige, dolok pusukbuhit di Pangururan, kalau benar ada cinta didalam hati sampaikanlah kepada ayah Simbolontuan, tetapi cari dulu untukku susu kerbau jantan ) katanya mencoba keahlian si Bursokraja ( Ompu Sinabang ).

Kemudian si Bursokraja ( Ompu Sinabang ) berpikir bahwa permintaan puteri raja itu adalah teka-teki ( undang-undangan = torkan-torkanan ) lalu menjawab :

“ Mauliate ma boru ni rajanami, sude pangidoanmi luluanku do i, alai paborhat ma tugongku boras ni sirumondang bulan, sidua sangkabona, meam-meam ni dakdanak harosuon ni na magodang !” ( terima kasih putri Raja, semua permintaanmu aka kupenuhi, tapi berikanlah bekalku, buah Sirumondangbulan, yang dua setangkai, permainan anak – anak, kesukaan orang dewasa.) katanya menjawab teka – teki itu.

Puteri Raja itu termenung memikirkan teka – tekinya ( undang – undangannya) sudah terjawab, lalu berkata : “  Molo boti, nangkok ma hamu tu lambunghon, alai unang dege belatuk  ( tangga ) i . “  (Kalau begitu, naiklah kamu kesampingku, tetapi jangan pijak tangga itu ). Katanya mengajak Sibursokraja ( Ompu sinabang ) sambil mencoba keahliannya. Dengan Spontan Si Bursokraja ( Ompu Sinabang ) Membuka Topinya dan berkata :” Tiop Ma tahulup on tanda na marsijalangan kita.” ( peganglah topiku ini tanda kita bersalaman), katanya sambil melemparkan topinya kepada putri raja untuk menjawab teka – teki Putri itu.

Kemudian Putri Raja mempersilahkan Si Bursokraja ( Ompu Sinabang ) naik keatas lalu mereka bersalaman dan berbincang – bincang dengan penuh kemesraan. Setelah beberapa lama mereka berkanalan dan memadu cinta akhirnya mereka kawin yang direstui orang tua Raja Simbolontuan.

Pada Suatu ketika istrinya Sindarmataniari br.Simbolon meminta kepada Ompu Sinabang agar mereka pergi memperkenalkan diri kepada mertuanya di Silalahi Nabolak. Tetapi dijawab Ompu Sinabang dengan halus :” sabarlah dulu menunggu waktu yang tepat,” katanya untuk menyembunyikan Rahasianya. Setelah beberapa kali diajak istrinya dan didesak mertuanya agar mereka pergi menjumpai orangtua di Silalahi Nabolak, akhirnya Ompu Sinabang terpaksa menyetujui dan berkata :” Molo boti jumolo laho ma ahu tu Balige, mandapothon dahahang Siraja Bunga – bunga ( Siraja Parmahan ) asa Adong donganta mandapothon damang !” (Kalau begitu, lebih dulu saya pergi ke Balige, menjumpai abang Siraja Bunga- bunga (Siraja Parmahan) supaya ada teman kita menjumpai ayah !”) katanya berdalih untuk menyembunyikan Rahasinya. Si Sindamataniari br.Simbolon dan mertuanya menyetujui, karena dianggap alas an Si Bursokraja ( Ompu Sinabang ) sangat baik. Berangkatlah Ompu Sinabang.

Pada Saat ompu Sinabang tiba di Muara, rupanya ada terjadi perang diantara Toga Sianturi ( Marga Simatupang ) dengan pihak lain. Setelah Toga Sianturi berkenalan dengan ompu Sinabang, Toga Sianturi meminta bantuan Ompu Sinabang sebagai panglima perang, karena diketahui bahwa ia adalah keturunan Raja Silahisabungan yang terkenal di antara kawan atau musuh. Mendengar panglima perang Toga Sianturi keturunan Raja Silahisabungan, musuhnya pun lari Meninggalkan Muara.

Karena jasa Ompu Sinabang dan untuk menjaga keamanan negeri, Toga Sianturi mengawinkan Putrinya Siboru Anting Haomasan dengan Ompu Sinabang. Toga Sianturi memberikan pauseang kepada menantunya yakni “ Sopo sianting – anting dan mas Sihosari / Mas Siboru lote.”

Pada suatu ketika istrinya Siboru Anting Haomasan meminta agar mereka pergi menjumpai mertuanya di Silalahi Nabolak bersama istrinya Siboru Anting haomasan berangkat meninggalkan Muara. Mereka diberangkatkan Toga Sianturi dari Bontean onon batu dengan Solu Jagaibuar ( perahu besar ) bersama Sopo Sianting – anting di atasnya. Mereka berangkat menuju Silalahi Nabolak melalui tao lontung untuk menjauhio jejak dari Pangururan.

Pada saat mereka berlayar di tao Ambarita, Ompu Sinabang melihat ada orang melambai- lambaikan tangan (manghilap ) seakan – akan  memanggil supaya mereka berlabuh kapantai Ambarita. Rupanya saat itu ada upacara “ Manarsar Lambe “ ( menyembah dewa laut ) yang dilakukan penduduk negeri yang bermaksud mengadakan Horja Sakti Mangalahat Horbo Bius di Ambarita.

Setelah penduduk negeri yang terdiri dri marga Sidabutar, Siallagan dan Rumahorbo ( Keturunan Nai Ambaton ) beserta marga manik keturunan Silauraja berkenalan dengan Ompu Sinabang, maka penduduk berkata :” Nunga sada tua on, ro hamu pomparan ni Raja Bolon, diulaon “ manarsar Lambe. Ala naeng mangalahat horbu bius luat Ambarita on, beha tung dohot hamu di Horja on !” ( sudah satu berkat ini, datang, datang keturunan Raja Besar pada Manarsar lambe ini. Karena akan diadakan pesta besar“ mangalahat Horbo Bius “ di Ambarita ini, bagaimana kalau kalian ikut dalam pesta ini ) kata mereka mengajak Ompu Sinabang dan Istrinya. Ompu Sinabang menjawab dengan rendah hati :” baris – baris ni gaja tu rura Pangaloan, molo mangido raja dae do so oloan, molo so noloan tubu do hamagoan, molo nioloan sai tubu do pangomoan !” ( Permintaan raja tak boleh ditolak ) katanya tanda setuju sambil memberikan pengertian kepada istrinya Siboru Anting Haomasan. Kemudian Ompu Sinabang berkata:” Molo boi jumolo hualap ma boru ni raja i Si Sindarmataniari br.Simbolontuan sian Pangururan asa rap manortor hami di horja on !” ( kalau boleh kujemput dulu puteri raja Si Sindarmataniari br. Simboluntuan dari Pangururan supaya kami sama – sama menari pada pesta ini ) katanya sambil meminta persetujuan istrinya Siboru Anting Haomasan.

Kemudian penduduk negeri keturunan Raja Nai Ambaton berkata :” Na uli ma tutu I, ai Raja ni borunami do hamu  ape. Hunga Singkop be horja sakti on, ai nunga adong Raja ni Hula – hua, Raja ni Dongan tubu dohot Raja ni Boru !” ( sungguh baik sekali, upaya kalian adalah menantu kami. Sudah lengkap pesta besar ini, sudah ada Raja ni Hula – hula, Raja ni Dongan Tubu dan Raja ni Boru) kata Mereka.

Kemudian Ompu Sinabang pergi ke Pangururan menjemput istrinya Sindamataniari br, Simbolon dan membujuk agar ikut ke Ambarita mengikuti Horja Sakti mangallang horbo bius yang dibuat keturunan Raja Nai Ambaton.

Sewaktu Ompu Sinabang merari bersama Istrinya, dibuatnya Si SIndarmataniari br.Simbolon disebelah kanan sedang Siboru  Anting  haomasan br.Simatupang disebelah kirinya. Pada pesta Horja Sakti itu, dinobatkan Ompu Sinabang menjadi Boru Bius dan diberikan Ulos so ra buruk, yairu tano Tolping. Dengan diangkatnya Ompu Sinabang menjadi Boru Bius, maka dengan berbagai upaya dia membujuk kedua istrinya agar tetap tinggal di Tolping lalu berkata :” untuk apa lagi kita pergi ke Silalahi Nabolak, sedang kita sudah ditetapkan menjadi Boru Bius, nanti kita dianggap kurang menghargai pemberian Raja ni Hula – hula,” katanya berdalih supaya rahasianya tertutup.

Ompu Sinabang bersama kedua istrinya akhirnya membuka kampung dan tinggal di Tolping. Setelah hampir satu tahun mereka tinggal di Tolping, kedua istrinyapun mengandung.

Pada suatu hari istrinya Sindamataniari berkata :” kami sudah  sama – sama hamil tua dengan Anting Haomasan, tidak mungkin satu Rumah. Kalau boleh antarkan lah saya ke Pangururan, biar disana aku melahirkan ,” katanya dengan pasrah. Setelah Ompu Sinabang berembuk dengan kedua istrinya maka diantarlah Sindarmataniari ke pengururan.

Baru beberapa hari mereka tinggal di Pangururan lahirlah seorang anak laki – laki. Saat Sindarmataniari melahirkan, tiba pula utusan dari Tolping memberitahukan bahwa Siboru Anting Haomasan telah melahirkan seorang anak laki – laki. Ketika utusan dari Tolping mengajak Ompu Sinabang, ipar (eda ni ) Sindarmataniari berkata:” Jumolo mangan ma hati amang, ai dison pe nunga seorang Si Bursok,” (makanlah dulu kita amang, disini pun sudah lahir SI Bursok) katanya menyambut utusan itu.

Mendengar kata – kata “Sibursok” yang diucapkan besannya (baona), Ompu Sinabang tidak mau makan dan mukanya terlihat murung. Istrinya Sindarmataniari br.Simbolon memperhatikan perilaku suaminya itu lalu berkata :” Boasa ndang mangan hamu, ai aha huroha na hurang ?” ( mengapa kamu tidak makan, apa kiranya yang kurang.) katanya sambil menyodorkan sirih. Ompu Sinabang menjawab dengan teka – teki :” Pantang dohonan ni besan (bao) songon I asa sinur pinahanna!” ( pantang diucapkan besan begitu begitu supaya peliharaannya baik ) katanya sambil mengunyah sirih yang diberikan istrinya.

Istri dan besannya itu saling berpandangan mendengar kata – kata Ompu Sinabang itu. Kemudian utusan dari Tolping itu berbisik :”ra, Sibursok do goar ni amang on, Alana goar ni besan (bao) naso jadi dohonan.” ( mungkin nama amang ini Sibursok, karena nama besan pantang disebutkan) katanya dengan pelan.

Semua yang hadir mengerti dan sejak itu anak yang baru lahir itu disebut “Si Pantang “. Menurut kebiasaan marga Silalahi di Pangururan bila lahir anak laki – laki tidak boleh disebut Sibursok seperti kebiasaan orang batak.

Setelah selasai robu – robua ( tujuh hari tujuh malam ) Ompu Sinabang pergi Tolping dan dijumpainya Siboru Anting Haomasan sedang menyusukan anaknya. Ompu Sinabang kepada istrinya:” Sudah dua orang anakku Laki – Laki, terima kasihlah kepada Mula jadi, kiranya mereka menjadi anak yang bijak bestari,” katanya dengan penuh harapan, mengingat kutukan ayahnya dari Silalahi.

Setelah kedua anaknya itu besar diajarkannya berbagai Ilmu Pencaksilat dan sering diadu pertandingan sepak terjang terjang ( Martada ), ia disebut Martada, maka ia disebut partada. Keturunan Si Pantang tinggal di Pangururan dan keturunan partada tinggal dan memekai marga Silalahi.

Setelah Partada beranak di Tolping, datang pula kesana keturunan Siraja Silahisabungan telah (Manjaee sian Bius Amping, Karena banyak keturunan telah banyak bermukim di Tolping karena keturuannaya telah banyak karena keturunan Raja Silahisabuguan telah banyak bermukim di tolping ) yang disebut Bios Tolping denga Raja tanah pemangku Raja adar :”

1. pande bona ni ari marga Silahoho dai dibisa
2. Pande  Nabolon marga Silalahi dari Sibisa
3. Raja Panuturi marga Silalahi keturunan Partada.
4. Raja Panullang  marga Sigiru dari bukit.

Dengan terbentuknya Bius Tolping maka tanah keturunan Raja Silahisabungan di pulau Samosir “ tano so magotap sian Parbaba sahat tu Tolping.”  Download Tumaras Bab. VIII

Bab. VI.3. Berita Mata Sopiak

Mata Sopiak anak Tuan Pagar Aji dari Tambunan adalah seorang Datu Bolon yang memiliki roman muka yang menyeramkan . Matanya hanya satu terdapat di dahi , besarnya seperti palu – palu ni agong di sertai alis mata yang lebat. Berita yang turun – temurun tentang mata Sopiak adalah sebagai berikut :

Dung doli – doli pamatang ni mata Sopiak , laho ma ibana mardalani tu luat Pangaribuan sahat tu bona ni dolok Saut. Ala ni  lo jana mauas ma ibana . dilului ma pansur paridian laho pasombu uas. Di tingki sahat Mata Sopiak tu sada pansur paridian l, pajump-ang maibana dohot boru ni raja luat I na margot Sialang di robean ,na tau pangalu – aluan na olo pangunalaen. Dibereng Sialang dirobean ma bohi ni Mata Sopiak, Dung sahat tu jabu manompas ma boru ni raja i, di papeakpamatangna ndang haru tu talaga ndang haru tu halangulu. Dung diida amana borruna I songon I sungkun – sungkun ma rohana laos didok:”Madekdekhias – hias inang sian tangan ni pambau , manimbas nimbas boru ni raja , begu aha ulaning naso mar4labu ?”Dialusi borona I ma : “mangangkat ma bingkorung amang tu tali ni hu dali , tundal pinarhatutu nidok ni siniar ni aji :mabiar ahu nangkining umbahen ro maringkati , so dung huida songon I anggo di bongka siapari, “ninna boruna i. ro mamuse amana manangkasi :” Ba aha ma I huroda borrungku ?” ninna .didok boruna i9 ma , adong huida sada jolma rat u pansur paridian asing tompa ni bohina , sadado matana di pardompahanna , balgana nasa palu – palu ni ogtung , jala sumalin pot – pot ni imbuluna .

umbege hata ni boruna I longang ma raja I, disuru ma naposona mamareng tu pansur paridian hape di harbangan  ni huta I do pe, nunga pajumpang nasida dohot Mata Sopiak. Di bereng naposo ni raja I ma bohi ni Mata Sopiak , logam –logaman ma ala ni biarna , laos didok : “dilului raja I hamu amang ,” ninna mardongan biar. Dialusi Mata Sopiak ma :”Beta ma , ahu pe naeng mandongan biar .di alusi Mata Sopiak ma:” Beta ma ahu pe naeng mandapothon raja i do ,”ninna. Dung pajumpang dohot raja I, disungkun ma Mata Sopiak :” Isedo hamu jala sian dia hamu llae, “ ninna raja i.Songo na longang Mata Sopiak mambege hata ni raja I , songon na longang  Mata Sopiak mambage hata ni raja I, so pola martutur pintor didok lae. Ala hurang suman di hilala rohana , dialusi ma:”Anggo goarhu huboan – boan do,hutangku pe dao do lae ,” ninna huhut songon na di pabollang simalolongna. Marnida ma raja I, laos didok ma:”Tu jabu ma hita asa jumolo mangan nunga loja hamu hubereng ,”ninna songo na pasangaphon . di suru ma patupaon ni naposona sipangannon . disseat ma sada pinahan lobu , sada biang , sada huting dohot sada manuk .dung masak di paarade ma tu jolo ni Mata Sopiak alai jumolo diisi do dohot rasun tu bagasan lompana I . dung I didok raja I ma : “Nunga rade sipanghanon lae mangn ma hita ” ninna songon na pajagarhon.

Andorang so mangan dope didok nata Sopiak ma :”Ai juhut aha do lompanta on, somgon na godang hida massamna, “ ninna huhut songon na dipaserbeng matana tu rja i. dung I didok raj I ma :” Sillang na tupa ma lee, angka naposo I patupa hon sian huboto manang na juhut aha I,” ninna.

Dung I dibuat Mata Sopiak ma pitu lili tunggal sian hajutna laos diboshikhon pitu hali tu lompan naung rade dijolona. Di dokma:” ia biang do ho mrauang ma, molo babi do marngiak – ngiak ma ho, ia huting do marngeong ma ho, molo manuk do marandepande ma ho !” ninna huhut dipabollang matana. Pintor mangangkat be ma na ginoaranna I sian parlompannan I, jala mangkuling songon pinangido ni mata Sopiak. Dung I didok mata Sopiak ma :” Rupa ni naso Sipanganon do pinatupa ni nasopo I, ai mengangkat do sude sian piring, denggan ma seat hamu sada pinahan lobu asa rap mangan hita,” ninna songon na paposhon roha ni raja i.

Marnida na masa i mabiar situtu ma raja i, disuru ma patupahon songo pangidoan ni mata sopiak. Dung simpul mangan nasida disuru raja i ma naposona patupa podoman ni mata sopiak diatas sopo ala mabiar do raja i rap modom di jabu. Ala ni lojana tung rengee do mata sopiak na modom i, ndang di boto na Masa borngin i. hape di tonga borngin i, na bungkas do raja i dohot pangisi ni huta i tu luat na asing. Dung dungo mata Sopiak monogot i, tarsonggot ma ibana marnida naung bungkas pangisi ni huta i. laho ma ibana tu balian ni huta patangkashon, hape naung sude do pangisi ni luat i bungkas ala sar barita naung ro datu bolon margoar “ Dao lae “ tompa ni bohina sihabiaran, hadatuon na ndang tarimbangan. Dung ilaho ma mata Sopiak mardalani tu robean ni dolok na jonok tu huta i. Pajumpang ma ibana disi do hot sada ina-ina na mabalu dohot sada baruna na marbaju. Di sungkun Mata sopiak ma manang tu dia laho maporus pangisi ni luat i. Alai dialusi ina-ina na mabalu i ma :” I ale amang, sian dia ma botoonnami, ai na mabalu do ahu,” umbahen marborngin-borngin hami dohot borungku dirobean on,”ninna huhut dipasingkop pardalananna naeng moporus marlojongi ala ni biarna. Alai pintor ditangkup Mata Sopiak ma boruna na marbaju i huhut didok: “Dope ni dopi na arsam na tata, ahu ma dihalangulu, ho ma dinggan talaga, asa denggan ma roha ni inang pangintubu, hita ma mardongan sajabu, nanna huhut mangelak boru-boru ma :”Hodong da pahu tubu di liang-liang, molo holo roham diahu, naso jadi be sirang,” ninna mambahen parpadanan. Dioboan Mata Sopiak ma boru-boru i dohot innana tu huta, jadi saut ma nasida mardongan saripe.

Marpinompari ma Mata sopiak diluat i sahat tu Angkola, pinomparna ma marga Daulay na sahat tu padangbolak Gunung Tua.

Download cerita lengkap Tumaras Bab VI.

Bab. VI.2. Berita keturunan Siraja Tambun

Si Raja Tambun yang dinobatkan menjadi “Raja Boru “ di Sibisa dengan nama Raja Itano , tidak kembali lagi ke Silalahi Nabolak , Ia bersama Pintahaomasan br. Manurung tetep tinggal di Sibasa dan di berikan Tuhan 3 ( tiga ) orang anak laki – laki, yaitu :

1. Tambun Mulia
2. Tambun Saribu
3. Tambun Marbun .

Tambun Mulai mempunyai 2 (dua ) anak laki – laki , yaitu :

1.Tambun Uluan
2.Tambun Holing.

Tambun Uluan tetap tinggal di Uluan, keturunannya memakai Marga Tambun. Tambun Holing pergi ke Tambunan sekarang dan mempunyai anak laki – laki 3 (tiga ) orang, Yaitu :

1. Raja Ujungsunge
2. Tuan pagar Aji
3. Datu Tambunan Toba.

Seorang anak Tuan Pagar Aji, bernama Mata Sopiak pergi Angkola keturunannya memakai marga Daulay .

Datu Tambunan Toba mempunyai 3 (tiga) orang anak laki laki , yaitu
1. Raja Baruara
2. Datu Gontam (lumban Pea )
3. Raja Parsingati (lumban Gaol)

Keturunan Tambun holing pada umumnya memakai marga Tambunan,dan banyak yang pergi ke Sigotom .

Menurut turasi dan tarombo Siraja Tambun, Tambun Saribu mempunyai 3 orang anak laki – laki, yaitu :

1. Doloksaribu
2. Sinurat
3. Nadapdap,

Tetapi Tambun Marbun belum belum jelas ketunannya. Menurut tuirasi dan tarombo Raja Silambungan , keturunan Siraja Bunga – bunga ( siraja Parmahan ) yang tinggal di hinalang Balige kembali membuat sagu – sagu marlangan di Onan Raja Tambunan untuk mengingat “ poda sagu – sagu marlangn “yang di buat Raja Silahisabungan di Silalahi Nabolak.

Dengan adanya turasi dan tarombo Siraja Tambun yang menyatakan Doloksaribu , Sinurat dan nadapdap keturunan Tambun Saribu maka timbul permasalahan karena pada umumnya marga Doloksaribu, Sinurat dan nadapdap mengaku ketunan Siraja Parmahan yang memakai marga Silalahi . Untuk memurnikan Poda sagu – sagu marlangan maka di anjurkan agar keturunan Siraja  Parmahan memakai

1. Silalahi Doloksaribu
2. Silalahi sinurat
3. Silalahi nadapdap.

Dan bila keturunan Tambun Saribu di anjurkan memakai

1. Tambun Doloksaribu
2. Tambun Sinurat
3. Tambun nadapdap

Sesuai dengan  anjuran  Panitia Pusat Tarombo Raja silalahibungan tahun 1968 . Keadaan ini harus diterima dengan lapang dada dan tak perlu diperdebatkan, biarlah masing-masing oknum atau kelompok menentukan kedudukannya dengan berpedoman kepada sagu – sagu marlangan . Harapan ini sangat diperlukan demi persatuan dan kesatuan keturunan Raja Silahisabungan.

Bab. VI.1 KISAH SIRAJA TAMBUN DI SIBISA

DALAM PERJALANAN DARI Silalahi Nabolak, Raja Silahisabungan menceritakan perkawinannya dengan Siboru Nailing putrid Raja Mangarerak kepada anaknya Siraja Tambun. Karena perkawinan kami dahulu mempunyai masalah jadi kemungkinan kehadiranmu diSibina ini menimbulkan persoalan. Jadi kau anakku – harus hati –hati dan pandai bergaul. Disamping ilmu yang kau miliki perlu kau ingat :” pantun hangoluan, tois hamagoan.” Bila anakku berperangi sopan ( santun, Porman, toman, ) dalam hidupmu maka tercapailah kebahagiaan hidup dan apabila kamu lengah (tois) menghadapi masalah akan timbul malapetaka. Dikampung kita, perasaanmu sangat sedih karena perbuatan abang – abangmu, tetapi mungkin lebih sakit lagi perasaanmu nanti di Sibisa ini, kata Raja Silahisabungan samil memberikan sebuah cincin ( tintin Tumbuk ) yang diserahkan Siboru Nailing sewaktu mereka berpisah dahulu. Cincin inilah nanti tunjukkan, pertanda kau adalah anak Siboru Nailing katanya kepada Siraja tambun.

Setelah mereka tiba di Sibisa, Raja Silahisabungan mendengar kabar bahwa Siboru Nailing belum lagi kawin, lalu ia menerangkan ciri – ciri Siboru Nailing kepada Siraja Tambun. Kemudian Raja Silahisabungan membawa Siraja Tambun keumbul ( mual ) Simataniari dan berkata :” Disinilah tunggu ibumu itu, nanti sore ia pasti mandi dan mengambil air dari umbul ini,” katanya dengan penuh keyakinan.

Pada sore harinya Siraja Tambun melihat seorang perempuan pulang dari umbul membawa air lalu ia menyapa :” inang boi do inumonku saotik mual na binoanmi ? nunga mauas ahu!” (bu, bolehkah sedikit air itu itu saya minum ? sudah haus aku ) katanya minta belas kasihan. Lalu perempuan itu menjawab dengan tercengang : Ise do hamu ito, jala sian dia hamu ro tu huta on ? songon na lulu roha mauas hamu dibot ni ari !” ( siapakah kamu ito, dan dari mana datang kekampung ini ? seperti tak masuk akal, merasa haus ito pada sore hari ) katanya sambil memberikan air untuk diminum Siraja Tambun. Setelah Siraja Tambun minum lalu ia berkata :” jolma na dangol do baoadi, na madekdek sian langit, na mapultak sian bulu bolon na maos – aos malungun mangalului inang pangintubu,” ( manusia malangnya aku, yang jatuh dari langit dan lahir dari ruas bamboo,  yang sudah lam berkelana dan rindu mencari ibu yang melahirkan ) katanya dengan sopan santun. Mendengar ucapan kata – kata itu, perempuan itu teringat kepada anaknya yang dibawa Raja Silahisabungan dulu, lalu berkata:” Ala Naung bot ari ito, tu jabunami ma jolo hamu marborngin, sai na patuduon ni mulajadi Nabolon do na niluluanmi,” ( karena hari sudah sore, dirumah kamilah ito bermalam, Tuhan Yang Maha Kuasa akn memberi petunjuk nanti kepadamu ) katanya sambil mengajak Siraja Tambun supaya ikut ke rumah orangtuanya.

Siraja Tambun menyambut ajakan perempuan itu karena itu karena ia yakin bahwa itulah ibunya sesuai dengan ciri – ciri  yang diterangkan Raja Silahisabungan. Setelah mereka tiba dirumah Raja Mangarerak dan pamannya Toga manurung bertanya :”Siapa pemuda ini Boru Nailing ?” kata Taja Mangarerak. Siboru Nailing menjelaskan pertemuan mereka di Mual Simatraniari lalu berkata :” na asi do rohangku mamereng, aia didok ndang marama – marina ibana, ala naung bot ari hutogihon  ma tu jabu asa dison ibana. Marbongin.” ( kasihan aku melihatnya, karena katnya tidak ada ayah – ibunya, karena hari sudah sore maka kuajak kerumah untuk bermalam.)

Raja Mangarerak berkata :” unang ma mambahen persoalan muse baoa on. Nunga songon bagianmu ditinggalhon Raja Silahisabungan , sotung mambahen gora ho muse diluat on , “(jangan nanti pemuda ini membuat persoalan , sudah demikian nasibmu ditinggalhon Raja Silahisabungan , jangan lagi kau membuat huru –hara dinegeri ini ) katanya dengan nada keras . lalu adik Siboru Nailing, Toga Manurung berkata : “ndang songon amang , dengg tasungkun baoa on manang na olo do mangurupi hita. “ (jangan begitu ayah , lebih baik kita tanya pemuda ini apakah dia mau membantu kita.) katanya sambil menanya Siraja Tambun. Setelah mendengar kata – kata Raja Manggarerak dan pernyataan Toga Manurung lalu ia menjawab :” Molo holong do roha ni raja I manjampi ahu gebe hatoban do ahu,” ( kalau Raja menginginkan aku, menjadi hamba pun saya mau ) katanya merendahkan diri karena dia sudah yakin bahwa Siboru Nailing itulah ibunya tetapi masih disembunyikan menjaga hal – hal yang tidak diinginkan. Sejak hari itu, Siraja Tambun menjadi pembantu Toga Manurung untuk mengembalakan ternak (permahan ) dan pekerja lainnya.

Dari pertemuan di Umbul (mual) Simataniari, Siboru Nailing merasa ada kontak batin membuat ia sayang melihat pemuda itu ( Siraja Tambun ) tetapi ia tidak mau bertanya siapa sebenarnya pemuda itu, walaupun Siraja Tambun sebagai pembantu (hamba) dirumah toga Manurung tetapi Siborung Nailing memperlakukannya sebagai tamu biasa, kalau ia disuruh mengantar nasi Siraja Tambun keladang selalu dibuat makanan yang enak bukan makanan seorang pembantu. Dan mereka sering bercakap – cakap bersenda gurau bagaikan seorang ibu dan anak.

Pada suatu hari Siboru Nailing pergi keladang mengantar nasi Siraja Tambun. Karena hari terasa  sangat terik Siboru Nailing mengajak ia ( Siraja Tambun ) supaya berteduh dibawah pohon rindang melepaskan lelah. Sewaktu mereka bercakap – cakap, karena lelahnya Siraja Tambun terlena dan tidur dipangkuan Siboru Nailing. Karena Siboru Nailing terlambat pulang sebagai biasa, Toga Manurung pergi keladang melihatnya. Saat itulah Toga Manurung terkejut melihat Siraja Tambun tertidur dipangkuan Siboru Nailing, lalu berkata :” na so adat na so uhum do pambahenmo. Ho sada hatoban barani pulut modom diabingan ni Siboru Nailing. Jolma na jahat do huroha baoa on, jadi ingkon uhumon do ibana jala beanghonon.

( Perbuatanmu sudah melanggar hukum dan adat . Kau adalah seorang hamba, tetapi tega tidur di pangkuan Siboru Nailing .Orang jahat kau rupanya , jadi kau harus di pasung ) kata Toga Manurung sambil memarahi kakaknya Siboru Nailing . Siboru nailing tidak dapat berbuat apa – apa dan Siraja Tambun pun dihukum pasung .

Setelah Siraja Tambun dipasung terjadilah malapetaka di uluan. Sudah hampir enam bulan terjadi musim kemarau panjang mengakibatkan tanah Uluan menjadi kekeringan. Akibat musim kemarau itu  Raja Manggarerak dan Toga manurung mencari dukun untuk “marmanuk diampang” menanya penyebab malapetaka yang menimpa negeri uluan. Setelah diadakan upacara marmanuk diampang, dukun berkata : “ adong anak ibebere na pinatangis – tangis jala na pinasiak – siak, ingkon paluaon do ogung sebangunan jala patortoran bere na pina siak – siak asa ro udan paremean.” Rupanya ada kemenakan yang menangis tersiksa dan teraniaya. Harus dipukul gendang dan dibuat menari kemenakan yang tersiksa agar datang hujan pemberi berkah )

Raja Manggarerak dan Toga Manurung bertanya – Tanya siapakah gerangan kemenakan yang menangis tersiksa dan teraniaya ? lalu Toga Manurung berkata :”Ai so adong berengku tubu ni itongku siboru nailing,” (tak ada kemenakanku, anak kakak Siboru Nailing ) katanya. Kemudian Siboru Nailing berkata :” unang dok songon I, tangkasi hamu ma jolo baoa na hona beang an, atik beha anakku do I na binoan ni Raja Silahisabungan,” ( jangan ucapkan demikian, teliti dulu pamuda yang terpasung itu, apakah itu anak saya yang dibawa Raja Silahisabungan ) katanya memecahkan persoalan. Mendengar keterangan Siboru Nailing, Toga Manurung membuka pasungan dan bertanya :” hei anak muda siapa kau sebenarnya?“. Lalu pemuda ( Siraja Tambun ) menjawab :” aku adalah Siraja Tambun, Anak Raja Silahisabungan dari Silalahi nabolak,” katanya sambil menunjukkan Cincin ( Tintin Tumbuk ) yang diberikan Raja Silahisabungan. Dengan tiba–tiba Siboru Nailing mendekapnya dan merangkulnya dan berkata :” ahu do inangmu pangintubu, nunga gabe ahu hape, nunga hudahop anakku tambun ni ate–ate urat ni pusu – pusu. Ai tintinku do tintin tumbun on na umbun tu sude jari – jari,: ( akulah ibumu yang melahirkan kau, sudah kupeluk kau, sudah kupeluk anak buah hatiku, urat nadi jantung. Cincin ini adalah milikku yang dapat masuk kesemua jari – jari,”) katanya.

Kemudian Toga Manurung berkata  “ nunga godang salah nami bere. Pandok ni datu ingkon patortoran do ho jala paluan ogung sabungan asa ro udan paremean.” (sudah banyak kesalahan kami bere, menurut dukun kau harus dipestakan dengan memukul gendang baru turun hujan pembawa berkah.) lalu Siraja Tambun menjawab :”molo songon I do tulang, laho ma jolo ahu mangalapi dahahang ke Silalahi.”(kalau begitu permisilah aku dulu biar kujemput abang – abangku ke Silalahi).

Setelah ada pengakuan Toga Manurung akan “Patortoran “ Siraja Tambun, langitpun mendung dan tidak berapa lama turunlah hujan lebat membuat penduduk negeri merasa gembira. Melihat tanda –tanda yang menggembirakan ini, Raja Manggarerak berkata:” Tak boleh cucuku Siraja Tambun pergi KeSilalahi. Lebih baik kita suruh kaum kerabat menjemput abang–abangnya,” katanya untuk menjaga Siraja Tambun mengilangkan Jejak. Kaum kerabat dan Raja–Raja dikumpulkan untuk memberitahukan pelaksanaan gondang sabangunan patortorhon Siraja Tambun dipogu ni alaman, sambil mengutus beberapa orang menjemput abang Siraja Tambun dari Silalai Nabolak.

Mendengar penjelasan Raja Mangarerak dan Toga Manurung, kaum kerabat dan Raja – raja yang diundang berkata :” Nunga Gabe Siboru Nailing, nga doli–doli boras ni siubeonna. Adong boru magodang di Raja I Toga Manurung I ma Si Pintahaomasan. Siboan sangap dohot tua do Siraja Tambun, molo senggan roha ni raja I laos dipesta on ma nasida tapasu – pasu marhajabuan !” ( sudah bahagia ( gebe) Siboru Nailing, sudah dewasa anaknya. Ada juga puteri Raja Toga Manurung gadis remaja yaitu Si Pintahaomasan. Karena kedatangan Siraja Tambun membawa berkah dan kalau Raja berkenan, bagaimana kalau pada pesta ini mereka kita kawinkan !” kata raja – raja memberi usul

Lalu Toga Manurung menjawab :” Niat kamipun demikian juga, agar Siraja Tambun tetap tinggal di Sibisa, tetapi kita tanyalah puteri kita Si pintahaomasan bagaiman pendapatnya,” katanya menyambut usul kaum kerabat dan Raja – raja. Kemudian toga Manurung menanya Si Pintahaomasan tentang usul dan pendapat Raja – raja.

Mendengar usul raja – raja dan pendapat ayahnya Toga Manurung, Si Pintahaosan berkata :” ndang simanuk – manuk, manuk sibontar andora, ndang sitodo turpuk siahut lomo ni roha. Silaklak ni singkoru, sirege – rege ni ampang, gabe do na maranak ni namboru, horas ma na Marboru ni Tulang, Molo mamasu – masu damang parsinuan dohot raja – raja aha be na hurang ?” katanya tanda setuju.

Pada pesta “Patortor Sirja Tambun dan perkawinannya “ dengan Si Pintahaosaman br. Manurung, datang abang Siraja Tambun dari Silalahi Nabolak marsolu bolon ( naik perahu besar ) serta membawa gondang sebangunan. Disaksikan Siboru Nailing dan abang – abang Siraja Tambun yang datang dari Silalahi Nabolak, Raja Mangarerak, dan Toga Manurung memberi hadiah (pauseang) : Mual Simataniari, Hauma Sipitu, batangi dan Pinasa sidungdungonon. Kemudian Raja Mangarerak berkata :” Cucuku Raja Tambun, hakmu sekarang sudah sama dengan raja – raja di daerah ini. Di Silalahi Nabolak namamu Siraja Tambun, beberapa tahun kau di Sibisa ini disebut Siraja Parmahan ( Pengembala ). Mulai sekarang dinobatkan namamu Raja Itano, karena kau sudah marga tanah ( Martano golat ) di Sibisa,” katanya sambil mengikatkan “ Tali – tali harajaon boru,” dikepala Siraja Tambun.